10 buku terbaik sepanjang 2016

buku
Image caption Dari novel yang mengisahkan kehidupan berabad-abad lalu sampai sejarah eksistensialisme, Jane Ciabattari memilih judul-judul buku terbaik pada 2016.

Dari novel yang mengisahkan kehidupan sebuah keluarga yang meliputi beberapa abad sampai sejarah eksistensialisme, Jane Ciabattari memilih judul-judul buku terbaik pada 2016.

Hak atas foto Knopf
Image caption Homegoing

10. Yaa Gyasi, Homegoing

"Saudara perempuan yang terpisah," tulis Gyasi, "seperti seorang perempuan dan bayangannya yang ditakdirkan untuk tetap berada pada sisi kolam yang berlawanan." Dalam novel pertamanya, Gyasi menulis tentang dua saudara perempuan berlainan bapak di Gold Coast, Afrika.

Effia, yang lahir pada 1744 di Fanteland, menikah dengan Gubernur Inggris di Cape Coast Castle; anak laki-lakinya, Quey, dididik di Inggris.

Saudari Effia, Esi, anak perempuan dari seorang pemimpin Asante, selamat dari kengerian penjara para budak di kastil dan perdagangan budak. Anak perempuan Esi, Ness, berakhir di perkebunan Alabama.

Gyasi menciptakan karakter-karakter tokoh yang tidak terlupakan, saat dia mengisahkan tujuh generasi sebuah keluarga yang tercerai-berai dan dampak yang berkelanjutan dari perbudakan di kedua benua.

Hak atas foto Other Press
Image caption At the existentialist cafe

9. Sarah Bakewell, At the Existentialist Café

Jean-Paul Sartre, Simone de Beauvoir dan Raymond Aron menyeruput cocktail buah aprikot di bar Bec-de-Gaz di Rue Montparnasse, Paris, pada 1933.

Aron merasa sangat tertarik pada fenomenologi, sebuah konsep baru yang berasal dari Berlin.

"Jika kamu seorang ahli fenomenologi, kamu dapat berbicara tentang cocktail ini dan membuat filosofi tentangnya!" katanya.

Demikianlah awal dari tulisan unik Bakewell dalam At the Existentialist Café, sebuah buku yang benar-benar menyegarkan seperti bukunya yang memenangkan penghargaan, How to Live: Or A Life of Montaigne in One Question and Twenty Attempts at an Answer. Dia menelusuri pertumbuhan Eksistensialisme melalui karya Albert Camus, Martin Heidegger, Edmund Husserl dan lainnya, seraya memperlihatkan bagaimana pengaruh paham tersebut pada otentisitas dan kebebasan yang relevan saat ini.

Hak atas foto Liveright
Image caption A Rather Haunted Life

8. Ruth Franklin, Shirley Jackson: A Rather Haunted Life

Shirley Jackson sangat terkenal dengan sastra misteri dengan gaya penulisan Nathaniel Hawthorne, Edgar Allan Poe, dan Henry James.

Bukunya, The Lotter, yang dirilis pada 1948 merupakan kisah horor klasik, sebagaimana novel-novelnya, The Haunting of Hill House (1959) dan We Have Always Lived in the Castle (1962). Tetapi kontribusi khusus Jackson, tulis Franklin, adalah "fokus utamanya" terhadap kehidupan para perempuan generasinya yang dibesarkan pada pertengahan abad ke 20.

Franklin menelusuri kehidupan Jackson yang penuh mitos, mulai dari masa remajanya di pinggiran utara California sampai pernikahannya dengan kritikus sastra, Stanley Edgar Hyman, yang memberinya empat orang anak. Mereka bertemu di Syracuse University, tempat dia mulai menjadi seorang yang tidak setia seumur hidupnya.

"Keintiman mereka yang terkadang penuh siksaan tergambar dengan penuh guncangan melalui karya-karyanya," tulis Franklin, yang memberikan timbangan yang sama pada kehidupan dan karya Jackson dalam karya biografi terobosan baru ini.

Hak atas foto Norton
Image caption The Unseen World

7. Liz Moore, The Unseen World

Kegairahan intelektual terhadap terbitnya era komputer merupakan latar belakang cerita Moore tentang Ada Sibelius dan ayahnya, David, yang mengepalai laboratorium komputer sains di Boston University yang prestisius.

Ada merupakan seorang pelajar homeschooling didikan ayahnya, dan di usia 12 tahun, dia bekerja dengan ayah dan timnya membuat program awal virtual reality yang disebut Elixir. Ketika ingatan David mulai terganggu karena Alzheimer, Diana yang merupakan salah seorang koleganya menjadi penjaga Ada. Selagi Diana menyelesaikan masalah hukum, dia mendapati ternyata David bukanlah seperti yang dia katakan.

Ada tumbuh menjadi seorang perintis di bidang ilmu komputer. Dihantui oleh kisah masa lalu ayahnya, Ada menelusuri asal-usulnya menyusul sejumlah petunjuk dalam berkas tersembunyi pada komputernya. Moore menangkap hubungan yang kuat antara ayah dan anak saat dia menunjukkan sederet misteri sains dan personal yang memikat. (Credit: Norton)

Hak atas foto Mulholland Books
Image caption Underground Airlines

6. Ben H Winters, Underground Airlines

Karya Winters terbaru tentang fiksi spekulatif di Amerika Serikat yang berbeda: Abraham Lincoln tidak pernah menjadi presiden, Perang Sipil tidak pernah terjadi, dan masih ada perbudakan di beberapa negara bagian.

Pembaca narasinya seorang bekas budak berusia 40 tahun, yang bebas sejak berusia 14 tahun, yang bekerja sebagai pemburu budak - seorang agen rahasia di dinas US Marshall. Dia menyelidiki satu tim dari AS bagian utara yang bekerja di Underground Airlines - "menangkapi orang-orang dan membebaskan mereka". Dia tetap bebas selama dia tetap bekerja sebagai pemburu hadiah.

Dalam pengejaran seorang pelarian yang bernama Jackdaw, karakternya mengalami pertentangan. Winters, seorang pemenang piala Edgar, telah menciptakan sebuah thriller yang bergerak cepat dengan kerangka etika kontemporer.

Hak atas foto Random House
Image caption Known and Strange Things

5. Teju Cole, Known and Strange Things

Cole memperlihatkan rangkaian karya yang mendebarkan hati dalam koleksi 55 esai barunya. Dia memulai dengan ziarah ke Leukerbad di Swiss, tempat James Baldwin menulis esainya yang berjudul Stranger in the Village pada 1953, yang bercerita tentang pergulatan hidup seorang kulit hitam di tengah desa yang seluruh penduduknya berkulit putih.

Cole juga singgah ke kuburan WG Sebald di gereja St Andrew di Framingham Earl di Inggris: "Itu dia… guru yang tidak pernah saya ketahui."

Dia menulis tentang Presiden Obama, Boko Haram, Virginia Woolf, bagaimana Google Earth mengubah seni dan "white saviour industrial complex" (orang kulit putih penyelamat industri).

Cole yang lahir di Kalamazoo, Michigan, dibesarkan di Lagos, dan mengajar di Bard College, New York, adalah seorang kritikus foto di The New York Times Magazine dan seorang kontributor yang rutin menulis untuk The Guardian dan The New Yorker. Kritik budayanya sarat dengan hubungan-hubungan yang mengejutkan dan provokasi-provokasi cerdas.

Hak atas foto Little, Brown
Image caption Imagine Me Gone

4. Adam Haslett, Imagine Me Gone

Imagine Me Gone merupakan cerita yang sangat kuat tentang kehilangan dan cinta. Margaret, yang baru lulus dari Smith College, pindah ke London pada 1960an dan menikahi John, seorang laki-laki Inggris yang pendiam dan bermasalah. Dia mendapati bahwa pikiran suaminya terkadang "semacam sedang berada dalam keadaan berhibernasi", membutuhkan perawatan rumah sakit.

Haslett mengikuti permasalahan dalam keluarga itu, seperti pengaruh bunuh diri John terhadap Margaret dan terhadap masing-masing dari ketiga anak mereka selama beberapa dekade. Anak bungsu mereka, Alec, menjadi seorang yang gila kontrol. Celia, yang bertanggung jawab, pindah ke California, menikah dan memiliki seorang anak. Adapun anak tertua, Michael, mewarisi sakit jiwa sang ayah yang disebut "the beast".

Melalui buku ini para pembaca dapat mengetahui secara lebih dekat kegembiraan dan perjuangan dari masing-masing anggota keluarga yang bermasalah ini melalui kesimpulan yang menggetarkan hati.

Hak atas foto Harper
Image caption Commonwealth

3. Ann Patchett, Commonwealth

Patchett, pemenang Orange Prize untuk Bel Canto di tahun 2001, membuka novel barunya yang terstruktur secara cemerlang dengan pesta pembabtisan anak perempuan kedua pasangan Fix dan Beverly Keating, Franny. Seorang tamu yang tidak diundang - seorang deputi jaksa wilayah Los Angeles yang bernama Bert Cousins - datang dengan sebotol gin. Hanya dalam hitungan jam, dia sudah mencium Beverly.

Melalui tulisan Patchett, pembaca mengikuti konsekuensi perbuatan impulsif ini selama lebih dari setengah abad, ketika dua pernikahan bubar dan enam orang anak terombang-ambing, berpindah orang tua. Anak-anak berbagi rahasia tragis, sebuah petualangan di musim panas menyebabkan kematian seorang bocah laki-laki.

Di usianya yang 20-an tahun, Franny membagi cerita ini pada kekasihnya, seorang penulis pemenang hadiah yang menggunakannya untuk menulis sebuah novel yang kemudian menjadi sebuah film. Pengkhianatan dan pengampunan merupakan pusat dari drama keluarga yang kompleks dan selalu diingat.

Hak atas foto Farrar, Straus and Giroux
Image caption The Sport of Kings

2. CE Morgan, The Sport of Kings

Kisah Morgan yang ambisius dan menakjubkan tentang seekor kuda ras pacuan yang dibesarkan untuk memenangkan Triple Crown, kontes elite kuda ras murni di Amerika yang telah berlangsung beberapa abad.

Henry Forge yang tegar merupakan keturunan seorang lelaki yang tinggal di Forge Run Farm di Kentucky setelah bepergian ke Cumberland Gap dari Virginia dengan seorang budak dan seekor kuda jenis Naragansett Pacer yang telah dia besarkan sejak kecil. Henry dan anak perempuannya Henrietta menggantungkan harapan-harapan mereka pada Hellsmouth, seekor anak kuda betina yang cocok dengan namanya. Mereka menyewa Allmon Shaughnessey, seorang pemuda berkulit hitam yang berbakat menjinakkan kuda-kuda yang gugup, untuk membantu mereka.

Gaya penulisan Morgan mirip dengan William Faulkner, bahasanya menghipnotis saat dia membanjiri kita dengan cerita-cerita dari ketiga tokoh serta gairah yang meliputi mereka. Akhir dari pemenang Kirkus Prize ini mencekam dan tragis.

Hak atas foto Scribner
Image caption Innocents and Others

1. Dana Spiotta, Innocents and Others

Spiotta membuka pertanyaan mengenai kebenaran, kenyataan dan bagaimana dunia digital telah mempengaruhi kita semua dalam novel barunya yang memukau.

Buku ini berkisah tentang Meadow, yang mengklaim dirinya sebagai remaja yang mengaku berkencan lama dengan Orson Welles, serta sahabatnya Carrie. Mereka dibesarkan dalam bayangan Hollywood dan keduanya menjadi sutradara film.

Film pertama Meadow, sebuah rekaman video tentang pacarnya yang berdurasi delapan jam, memenangkan hadiah juri dan dia mendapatkan banyak pujian untuk film dokumenter pada 1992 yang berjudul Kent State: Recovered. Adapun Carrie menciptakan film dengan campuran genre dan cerita-cerita komedi yang memenangkan nominasi Golden Globe.

Kecenderungan Meadow mendokumentasikan sesuatu yang ambigu dan emosi baku membuatnya menceritakan kisah Jelly, seorang perempuan yang menggoda para laki-laki yang berkuasa melalui percakapan telepon. Di tengah karirnya, Meadow berhenti membuat film - dan hanya Carrie yang mengetahui sebabnya. Sebuah kisah yang inovatif dan provokatif.

Versi bahasa Inggris tulisan ini The 10 best books of 2016 bisa Anda baca di di laman BBC.

Topik terkait

Berita terkait