Apakah ‘Silence’ layak ditunggu?

Silence Hak atas foto Paramount Pictures
Image caption Dalam Silence, Rodrigues (Andrew Garfield) pergi ke Jepang untuk mencari tahu kabar mentornya, Bapa Ferreira (Liam Neeson).

Silence, adaptasi novel Shusaku Endo tentang pendeta Yesuit di Jepang pada abad ke-17, disebut-sebut merupakan ´proyek passion' Martin Scorsese; namun hampir semua film Scorsese bisa disebut demikian.

Kita bisa saja membagi karir Scorsese menjadi proyek komersial dan proyek personal (yaitu proyek yang sepertinya tidak mungkin menghasilkan uang banyak). Akan tetapi jika Anda mengamati baik-baik film-film sebelumnya - The Wolf of Wall Street, misalnya, atau The Departed - Anda akan menemukan ciri khas Scorsese yang tersembunyi bagaikan pesan bagi para penggemar setianya.

Meskipun mereka sangat berniat untuk menyebarkan ajaran agama, pendeta Yesuit Portugis Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) terpaksa berdakwah secara sembunyi-sembunyi, jauh dari pengawasan keshogunan Tokugawa. Umat Kristiani Jepang yang tertangkap mengamalkan keyakinan mereka akan disiksa, disiram air panas perlahan-lahan sampai mati, atau digantung dalam posisi terbalik dengan kepala mereka di dalam lubang; dan pendeta yang melayani mereka menghadapi ancaman yang lebih kejam lagi.

Namun ketakutan terbesar mereka ialah menyerah pada tuntutan untuk murtad, melepaskan keyakinan mereka dan mengutuk tuhan mereka secara terang-terangan. Rodrigues dan Garupe khawatir mentor mereka, Bapa Ferreira (Liam Neeson) telah dipaksa melakukannya.

Tiba laporan di Portugal yang mengatakan bahwa Ferreira telah menghilang, mungkin meninggal, mungkin mengabaikan misinya, bahkan mungkin telah mengambil nama Jepang dan memperistri warga Jepang. Karena itu kedua pendeta memulai perjalanan ke Jepang untuk mencari tahu kabar mentor mereka, dan apakah agama mereka dapat bertahan tanpa kehadirannya.

Silence, yang diadaptasi Scorsese dan kolaboratornya dalam film Gangs of New York/Age of Innocence, Jay Cocks, anehnya tidak menceritakan alasan penganiayaan keshogunan terhadap umat Kristiani, yang menyusul pemberontakan pemeluk Katolik Jepang pada 1637 dan 1638. Namun ini bukan film tentang sejarah, kendati berlatar belakang sejarah, juga bukan tentang ajaran Katolik, yang sering dibahas Scorsese dalam karyanya.

Hak atas foto Paramount Pictures
Image caption Rodrigues (Andrew Garfield) dan Garupe (Adam Driver) khawatir mentor mereka, Bapa Ferreira (Liam Neeson) telah dipaksa untuk murtad dari agamanya.

Rodrigues dan Garupe bukan orang suci, melainkan utusan yang sungguh-sungguh; tanpa kostum di masa itu, rambut Garfield yang tampak liar dan tidak disisir cocok untuk seorang pendakwah jalanan. Dan seperti mereka, Rodrigues berisiko dibutakan oleh dedikasinya sendiri, sehingga tak mampu melihat apa yang benar-benar dipahami orang-orang yang menjadi sasaran khotbahnya, dan enggan merenungkan dampak perbuatannya dari sudut pandang orang lain.

Mempertahankan iman?

Rodrigues berhadapan dengan sejumlah antagonis dengan berbagai ideologi. Beberapa tampaknya berkomitmen sepenuhnya untuk menghapus 'momok' agama Kristen, lainnya lebih seperti orang sadis bayaran. Musuh utamanya ialah Inoue, diperankan Issey Ogata. Meskipun metode penyiksaan yang disusunnya untuk mereka yang mempraktikkan agama terlarang itu luar biasa kejam, ia malah bagaikan suuatu sosok komedi: berbicara dalam bahasa Inggris dengan suara yang nyaring dan melodik, seperti sedang menuturkan semacam lelucon gelap.

Sebelum kedatangannya, Silence terasa kurang lebih seperti cerita linear tentang penganiayaan terhadap pemeluk suatu agama. Namun Inoue muncul dan, bagaikan para inquisitor dalam karya-karya Dostoyevsky, ia menghadapkan Rodrigues pada rangkaian pertanyaan yang mengguncang dasar keimanannya, dan mengaitkannya dengan sejarah panjang dan berdarah kolonialisme Eropa.

Misi Rodrigues hanya berfokus pada khutbah untuk warga Jepang yang sudah memeluk Katolik, namun Inoue mengingatkannya tentang begitu banyak warga Jepang yang sudah ditarik untuk memeluk Katolik dan, lebih penting lagi, sedalam apa.

Seperti The Wolf of Wall Street, Silence adalah film yang menceritakan dua sisi, mengadu satu pendapat dengan yang lain. Silence adalah cerita yang sangat menggugah, juga sangat, dengan sengaja, mengganggu.

Strategi Inoue ialah mengancam Rodrigues, bukan dengan siksaan fisik, tapi spiritual, terutama rasa perih menyaksikan sesama Kristiani menderita. Ia menghadapkan Rodrigues dengan ide bahwa kesalehannya hanya bentuk kenarsisan, bahwa jika ia menyembah tuhan, khususnya Kristus, yang mengorbankan dirinya demi umat manusia, maka ia seharusnya rela melakukan hal yang sama, meskipun pengorbanan itu berupa mengutuk tuhan secara terang-terangan.

Apakah ia seharusnya mengikuti tuntunan Yesus, ataukah berusaha menirunya adalah tindakan yang paling angkuh? Pada momen ketika ia akhirnya ditangkap, Rodrigues berlutut dan menatap pantulan bayangan wajahnya di permukaan air, yang untuk beberapa saat memperlihatkan gambar wajah Kristus. Itu bisa jadi semacam wahyu atau halusinasi orang yang putus asa; bagaimana kita memandangnya tergantung pada iman kita.

Pertanyaan paling mengganggu dalam Silence muncul dalam wilayah di mana evangelism dan kreasi artistik tumpang tindih. Pada akhir perjalanannya, Rodrigues berhadapan dengan pertanyaan apakah orang-orang yang ia ajak masuk Kristen benar-benar tahu apa yang mereka sembah. Mereka menyebut diri mereka "Kirishitan", dan menyamarkan lambang-lambang dan bahkan ibadah mereka sebagai praktik Buddhisme - namun dengan melakukan itu, apakah mereka mempertahankan iman mereka atau menodainya?

Dapatkah keyakinan seseorang disampaikan kepada orang lain, ataukah itu hanya urusan mereka dengan tuhan yang mereka sembah? Scorsese telah menggoreskan keyakinannya kepada pita seluloid selama hampir 50 tahun, dan maknanya selalu samar, selalu misterius. Silence bukan film yang harus dipecahkan, atau dicari penyelesaiannya, tapi direnungkan. Ini bukan sebuah parabel, tapi koan.*

----------

*cerita, dialog, pertanyaan, atau pernyataan yang digunakan dalam praktik Zen untuk memancing "keraguan" dan menguji kemajuan murid dalam praktik Zen.

Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris, Is Martin Scorsese's Silence worth the wait?, di BBC Culture.

Berita terkait