Apa yang sesungguhnya ingin diungkap Amy Winehouse dengan musiknya?

Amy Winehouse

Back to Black berumur 10 tahun - meskipun sifatnya mentah dan merupakan pengakuan, karya itu tidak mengungkapkan kenyataan keseluruhan tentang pergumulan sang artis, tulis Fraser McAlpine.

Paduan berbagai faktor dalam sebuah album yang mendunia seringkali sehalus bisikan, setipis tisu dan mustahil untuk menangkapnya kembali. Bakat memainkan peranan kunci, tetapi begitu juga timing yang tepat, penilaian dan keberuntungan luar biasa.

Dalam kasus album Amy Winehouse berjudul Back to Black yang dirilis 10 tahun lalu, bakatnya tidak dapat dipungkiri, tetapi penilaian personalnya dipertanyakan meski ketika keputusan artistiknya tak bisa digugat: timingyang tepat tentu saja merupakan sebuah anugerah; dan keberuntungannya berubah-ubah dari jelek ke bagus, dan kembali lagi dengan gairah yang terbarukan.

Bahan-bahan otobiografinya sudah cukup menjelaskan: anak perempuan bertemu anak laki-laki, lalu si anak laki-laki sedang dalam hubungan yang ia tak mau akhiri, tetapi daya tarik di antara keduanya terlalu kuat untuk dikalahkan. Perasaan mendua si anak laki-laki membakar perasaan rendah diri si anak perempuan. Satu-satunya pelarian bagi si anak perempuan adalah minum atau mengkonsumsi narkoba sampai ia merasa berbeda.

Hak atas foto Island
Image caption Back to Black telah terjual lebih dari 12 juta keping di seluruh dunia.

Kondisi ini mengarah pada suatu rangkaian episode memabukkan yang suram dan berujung pada campur tangan teman-teman dan keluarga. Mereka mencoba untuk menyemangatinya agar merawat dirinya sendiri. Jauh di dalam pergolakan akan kecanduan dan dengan keahliannya menyangkal yang terbentuk dari upayanya menyembunyikan gangguan makan sepanjang hidupnya, dia bersikeras menyatakan bahwa dia baik-baik saja. Dalam keadaan putus asa, dia melemparkan segalanya, benar-benar segalanya, ke dalam lirik lagu untuk album barunya sebagai satu-satunya penyelamatnya.

Di titik inilah bakatnya mengambil alih. Seluruh 11 lagu yang ditulis oleh Amy Winehouse untuk Back to Black adalah tanggapan puitis terhadap perasaan-perasaan yang kacau balau. Terkadang lirik-lirik itu filosofis dan percaya diri - seperti pada Love is a Losing Game - terkadang kasar dan keras. Suaranya yang serak menyusun ketenangan dari situasi kekacauan sehingga memberinya - sekaligus para pendengarnya - suatu perasaan untuk mengendalikan perasaan patah hati.

Suara yang dia keluarkan juga merupakan suatu cara berdamai dengan sejumlah emosi yang luar biasa kuat dengan cara merinci sisinya yang paling gelap, tindakan-tindakannya yang paling tidak senonoh; dirinci dengan pandangan sangat awas dan ketelitian forensik untuk hal-hal detil. Mendengarkan You Know I'm No Good akan menempatkan siapa saja masuk lebih jauh ke dalam gambaran itu lebih daripada yang mereka inginkan.

Dan rincian kehidupan nyata itu adalah salah satu dari berbagai faktor kunci yang memicu keberhasilan albumnya saat itu. Ketika Amy masih merupakan penggemar berat jazz, soul, dan gospel, ia menggunakan unsur emosional dari musik pada awal abad ke-20 sebagai dasar gaya penulisan lagunya. Lirik-liriknya terinspirasi dari kejujuran yang brutal dan ketangguhan hip hop. Ini adalah suatu pengaruh yang dia senang tunjukkan, terutama dalam Me & Mr Jones, dengan rujukan pada rapper Slick Rick serta Nas, menggunakan ketidaksenonohan yang tidak pernah mengacak-acak notasi lagu Ella Fitzgerald atau Billie Holiday.

Black and blues

Faktor kunci lain, dan yang lebih kontroversial, adalah kemewahan aransemennya. Mark Ronson dan Salaam Remi berusaha menempatkan kata-kata Amy ke dalam latar musik yang mewah.

Fokus Ronson adalah menciptakan efek Motown dengan membawa Dap-Kings untuk menciptakan aransemen-aransemen merujuk yang selama ini digunakan grup vokal The Supremes dan The Temptations. Aransemen ini bisa didengarkan dalam lagu Back to Black.

Adapun Remi menggali inspirasi dari musik khas kaum kulit hitam yang sedikit lebih luas. Inspirasi tersebut dapat disimak lewat lagu Tears Dry on their Own, lagu sedih Some Unholy War, serta hentakan gaya ala Lovers' Rock dalam Just Friends.

Hak atas foto Getty/Bruno Vincent
Image caption Amy Winehouse, Juni 2004.

Pada ujungnya, kedua produser mencoba mencocokkan tekanan pada lirik-lirik karya Amy dengan vitalitas jiwa yang tak terbantahkan, yang membuat cerita-cerita suramnya tampak lebih dapat diterima dan memberikan kontribusi yang tidak bisa dibilang kecil terhadap popularitas album itu.

Bisa saja ada yang menuding bahwa upaya-upaya mempermanis ini mengurangi makna lagu-lagunya, mengubur puisi dan kebenaran kata-kata Amy di bawah suatu polesan rapi retro-soul, dan bukannya mengasah semua sisi mentahnya. Tetapi perlu dicatat bahwa pengambilan contoh musik dari rekaman lama untuk dibuat baru, benar-benar cocok dengan kecintaan Amy terhadap hip hop dan soul klasik. Ibaratnya, hal itu memberikan tampilan luar yang kokoh baginya.

Hak atas foto Getty/Peter Macdiarmid
Image caption Hanya Amy Winehouse yang dapat menuliskan sebuah lagu saat dirinya terkoyak atau rentan seperti Back to Black.

Landasan pendekatan ini adalah Rehab, single pertama dalam album Back to Black dan lagu yang memastikan bahwa Amy Winehouse akan tetap menjadi sensasi media selama hidupnya. Ini adalah lagu yang momennya sempurna, sifat pemberontak Ray Charles yang terpojok lahir kembali dari mulut seorang perempuan patah hati yang frustrasi dari London. Dan meskipun lagu tersebut menimbulkan jutaan hinaan murahan terhadap si penyanyi pada bulan-bulan selanjutnya, kekuatannya terhampar dalam salam pemberontakan dua jari saat dia menulisnya, dan eksploitasi komersial yang kejam terhadap kehidupan pribadinya yang segera saja menyusul.

Tepat sebelum momen inspirasi menerjang, Mark Ronson sudah berbicara pada Amy Winehouse tentang upaya ayahnya untuk mengatasi kecanduan alkoholnya. Dalam wawancara dengan Radio 1 BBC, Mark mengungkapkan bahwa Amy berkata "'Dia mencoba untuk membawaku ke pusat rehabilitasi dan reaksi saya, 'Uhh.. tidak, tidak, tidak". Kalimat itu segera muncul di kepalanya, dan membuatnya menyadari bahwa dia telah menjadi teman yang buruk tetapi produser yang baik.

"Maksud saya seharusnya bicara seperti, 'Bagaimana imbas upaya (rehabilitasi) itu untuk kamu?'. Saya justru mengatakan "Kita harus kembali ke studio.'" Melalui kejujuran yang dibantu oleh estetika, lagu Amy Winehouse yang paling terkenal pun lahir, untuk keadaan yang lebih baik atau lebih buruk.

Itu adalah salah satu penyebab utama Back to Black berdiri sendiri di samping hampir setiap album lain yang dirilis tahun 2006. Banyak artis yang menggali balada jazz tua yang berdebu atau retro soul, dan banyak dari mereka akan dengan senang hati mengklaim telah menuliskan lagu-lagu yang jujur. Adele kemudian segera muncul dan mengambil alih dunia dengan paduan jitu yang sama antara rhythm and blues dan cacian romantis, meninggalkan Joss Stone dan Duffy bertanya-tanya apa yang dimiliki Amy namun tidak mereka miliki.

Tetapi sangat sedikit di antara mereka yang kehidupannya seekstrem Amy, dan lebih sedikit lagi yang akan mengakui setiap memar dan cacar yang tidak tampak elok, baik melalui karya seni atau sebaliknya. Mungkin mereka bisa menulis lagu Tears Dry on Their On, tetapi hanya Amy Winehouse yang bisa menulis sebuah lagu saat dirinya terkoyak atau rentan seperti Back to Black, sambil mempersiapkan catatan bunuh dirinya yang romantis dengan kebijakan pahit dan kekeras-kepalaannya.

Hak atas foto Getty/Matt Cardy
Image caption Amy Winehouse, Juni 2007.

Ada tudingan bahwa kejujuran itu hanyalah sebuah tabir untuk menutupi sesuatu, suatu cara menyembunyikan kebenaran yang lebih buruk di depan mata, di bawah serbuan reportase murahan. Ya dia patah hati, ya dia seorang pemabuk, ya dia memiliki beberapa masalah di masa kecilnya dan ya dia mampu melakukan perbuatan ekstrem. Tetapi ketika dia menyebutkan kekasihnya, minuman kerasnya, penggunaan obat-obatannya, berbagai dorongan petualangannya, dan bahkan ayahnya di dalam lagu, tidak ada lirik karya Amy Winehouse yang bicara tentang makanan atau gangguan pola makan, dan itu pasti merupakan pilihan bebasnya.

Tetapi bahkan tanpa narasi tersembunyi itu, sebagai sebuah album Back to Black berbicara pada begitu banyak orang karena kita semua berbagi monolog batin bahwa kita ini mahluk ganjil dan tidak pantas mendapatkan nasib baik. Bahkan tanpa mengalami sebagian kecil dari hal-hal yang tertulis dalam lembaran-lembaran lirik dalam album itu, kita semua membawa dugaan bahwa kita manusia kacau balau, individu-individu cacat yang merasa kita tidak bisa dibenarkan karena melakukan hal yang salah. Jika cinta adalah permainan yang pasti membuat kita kalah, yang kita perlukan adalah nasihat dari seseorang yang telah bangkrut, mempertaruhkan segalanya yang mereka punya, dan kalah.

Anda dapat membaca artikel ini dalam versi bahasa Inggris, What Amy's music really revealed di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait