'Tidak pernah ada kata terlambat untuk belajar alat musik'

piano

Awal tahun merupakan waktu yang tepat untuk menerima tantangan baru. Pianis James Rhodes berkata pada Clemency Burton-Hill bagaimana seseorang dapat belajar memainkan karya Bach dalam enam minggu.

Apakah ada kata terlambat untuk belajar sebuah alat musik? Menurut pianis konser terkenal dari Inggris James Rhodes, jawabannya secara tegas adalah 'tidak' - dan dia baru saja menulis sebuah buku untuk membuktikannya. 'How to Play the Piano' yang menyenangkan dan tidak bertele-tele adalah sebuah buku kecil elegan yang menjanjikan bisa membuat Anda memainkan salah satu karya JS Bach yang indah, Prelude no 1 in C major dari Book One of The Well-Tempered Clavier - dengan hanya 45 menit latihan setiap hari, enam hari dalam seminggu, selama enam minggu.

Rhodes mengungkapkan bahwa buku itu muncul setelah ada tanggapan yang luar biasa terhadap memoarnya yang kritis di tahun 2015, Instrumental, yang menceritakan gangguan jiwanya yang parah dan peran penting musik dalam masa penyembuhannya.

Setelah buku itu terbit, tidak terhitung banyaknya pembaca yang tergerak untuk mengatakan bahwa mereka terinspirasi untuk mereka kembali bermain piano. "Saya tidak dapat lagi menghitung berapa banyak orang yang telah mengatakan 'Oh, saya pernah memainkan piano ketika masih kanak-kanak, seandainya saya masih memainkannya,'" katanya pada saya, dengan menunjukan satu email khusus yang mencetuskan ide itu.

Hak atas foto Getty/Amy T. Zielinski
Image caption Pianis konser James Rhodes yakin tidak pernah terlambat untuk belajar sebuah alat musik.

"Saya mendapat sebuah pesan dari seorang pensiunan pilot profesional dari Meksiko yang berkata: 'Saya pernah bermain piano ketika masih kecil, tetapi saya tidak pernah memainkannya lagi selama 50 tahun. Saya membaca Instrumental, dan saya membeli sebuah piano, saya membayar seorang guru piano, sekarang saya berlatih setiap hari. Dan saya hanya ingin Anda mengetahui: itu hari-hari terbaik saya.' Saya merasa hal itu mengharukan."

Buku baru karya Rhodes, adalah buku pertama dari seri Little Book of Life Skills, yang diterbitkan Quercus Books. Buku itu berhasil masuk dalam semangat zaman di Barat - menjadi versi diri kita sendiri yang lebih baik, lebih terlatih, lebih berbudaya, dan lebih berhasil - sementara tidak pernah menyimpang dari integritas suatu tradisi yang pada dasarnya tidak berubah sejak manusia-manusia pertama kali mulai membuat musik dengan piano ratusan tahun lalu.

"Mempelajari sebuah alat musik dapat membuka kunci ke dalam suatu dimensi baru yang bahkan telah dilupakan keberadaannya oleh banyak orang," Rhodes memulai dalam bab pembukanya, dan tidak ada yang menyangkal daya tarik besar untuk menyingkirkan diri teknologi dan menyatukan jari-jari, otak dan jiwa seseorang dalam pencarian yang tidak ada hubungannya dengan email, SMS atau media sosial.

Mungkin proyeknya ini menawarkan detoks digital pada akhirnya. Dengan membaca bukunya, saya membayangkan nyala beberapa lilin di malam hari, mencampur anggur ke dalam gelas besar dan tekun berlatih piano: sebuah aktivitas menyenangkan yang tak hanya memicu rasa nyaman, tapi juga upaya artistik pengembangan diri, sekaligus perawatan diri.

Jika Anda berkata ketika saya masih anak-anak bahwa satu hari saya akan berusaha berlatih piano, saya mungkin akan tertawa tidak percaya. Tetapi di tangan bersahaja Rhodes yang cerdas dan menarik, prospek berlatih piano setiap hari dan tuntutan untuk serius berkonsentrasi menjadi cara meditasi dan pengobatan.

Hak atas foto Getty/BORIS HORVAT
Image caption Konsentrasi yang mendalam yang dibutuhkan dalam berlatih piano mungkin menawarkan digital detox yang penting.

"Kita hidup di jaman kepuasan instan, kita selalu mencari di luar diri kita, dan saya pikir kita sudah kehilangan arah untuk melakukan sesuatu untuk diri kita sendiri," katanya ketika saya mengatakan bahwa buku ini juga merupakan suatu refleksi aspirasi Barat modern untuk tidak membendakan kekayan tetapi pada pengayaan spiritual dan emosional, seperti yang tampak dalam maraknya kursus ketrampilan untuk orang dewasa, seperti yang ditawarkan oleh Skillshare, Creative Live dan The School of Life.

"Bukan untuk hadiahnya tetapi semata-mata hanya untuk kecintaan dalam melakukannya. Saya pikir bermain piano sebagai suatu versi kesadaran penuh - di mana Anda tidak membutuhkan gaya satu armada komando, para biarawan berkepala gundul, Anda hanya membutuhkan sebuah piano." Selain itu, pernahkah kita begitu membutuhkan rute pelarian lebih dari sekarang? Rhodes setuju. "Semua berita adalah buruk, jadi mengapa tidak kerjakan sesuatu yang menyenangkan untuk diri kita sendiri?"

Menyingkirkan aturan

Selain itu, belajar - atau mempelajari kembali - suatu keahlian seperti bermain piano terbukti bagus untuk otak kita. Menurut riset dari University of Texas, "aktivitas menyenangkan yang menantang jiwa" dapat mengembalikan otak kita pada keadaan yang lebih "tampak muda".

Secara berhati-hati Rhodes tidak terlalu banyak berjanji. "Lihatlah, buku ini tidak akan membuatmu memainkan etude Rachmaninov atau Chopin. Saya sangat menyadari bahwa jika Anda mulai dengan sebuah buku tentang bagaimana bermain piano dan Anda berkata hal itu membutuhkan 10.000 jam, tidak ada seorang pun yang akan melakukan itu, karena untuk alasan apapun, bagus atau jelek, menjadi berat untuk menyisihkan waktu guna menyederhanakan fokus dan melakukan sesuatu untuk diri sendiri. Waktu merupakan komoditas yang berharga. Tetapi buku ini akan dapat membuat Anda memainkan beberapa karya Bach. Dan Bach masih menantang, karya Bach masih akan mendorong Anda, tetapi dengan cara semudah mungkin."

Dia melanjutkan. "Dan enam minggu merupakan perkiraan yang sangat besar: jika Anda memiliki waktu untuk berlatih lebih banyak, atau Anda memainkan banyak lagu ketika anak-anak, maka keahlian itu akan kembali lebih cepat. Dan akan memberikan wawasan yang tepat ke dalam musik. Mungkin hal itu akan sudah cukup, atau mungkin Anda akan begitu menikmati sehingga Anda akan memutuskan untuk membayar seorang guru dan mempelajari karya-karya lain."

Hak atas foto DDP/JENS-ULRICH KOCH
Image caption Prelude no 1 in C major karya Bach cukup menantang tetapi cukup mudah diakses.

Pusat dari cara pendekatannya adalah: keindahan dari musik yang sebenarnya adalah musik itu sendiri. "Saya sangat suka mengambil sebuah karya yang ingin Anda mainkan dan menemukan cara positif untuk memainkannya, tidak melalui konsep scale, etude dan latihan-latihan, tetapi hanya dengan memainkannya," jelasnya.

Buku itu menunjukan bagaimana berlatih dengan cara seperti ini, termasuk latihan jari-jarinya yang jenius, yang dapat menghindarkan dari kemungkinan bosan dan frustrasi yang dapat membuat kebanyakan kita menyerah. Saya katakan padanya bahwa saya tidak pernah bisa menghadapi notasi dan arpeggio sama seperti ketika masih anak-anak dan saya masih merasakan kesulitan yang sama sebagai orang dewasa.

Hak atas foto AFP/TIMOTHY A. CLARY
Image caption Rhodes mendorong mereka yang belajar untuk menyingkirkan scale dan berlatih suatu karya musik yang mereka sukai.

"Arpeggio dan scale tidak pernah menjadi keharusan!" dia berkeras. "Dalam karya mana pun akan ada tantangan-tantangan teknis yang dapat Anda selesaikan menggunakan musik itu sendiri. Saya juga benci menggunakan scale dan arpeggio, tetapi hey, saya sekarang sedang melihat Mozart concerto yang ada di atas piano saya saat ini, dan dipenuhi dengan scale dan arpeggio. Jika Anda mempelajari suatu karya dan mendapatkan sesuatu, ini adalah cara yang hebat untuk belajar. Temukan karya yang Anda suka, dan latihlah sampai menjadi musik."

Rhodes percaya tentang munculnya kebahagiaan ketika terhubung kembali dengan piano, dan di luar bukunya itu sendiri, websitenya memiliki tutorial dan video-video yang dipersembahkan untuk membantu Anda dalam perjalanan.

Awal tahun baru, dengan segala tekad yang menyertainya, tampaknya merupakan waktu yang tepat untuk mengambil risiko; bagaimanapun, kehidupan kita tidak menjadi lebih panjang. "Ya, kita tidak akan berbaring di atas meja kematian kita dan berpikir, saya berharap saya akan mengirimkan beberapa email dan menyelesaikan beberapa lembar kerja," candanya. " Tetapi Anda mungkin akan berpikir: seandainya saya menulis novel itu atau melukis gambar itu. Atau belajar bagaimana memainkan karya Bach di piano..."

Anda bisa juga membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul Why it is never too late to learn the piano atau artikel lain di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait