Foto-foto keren tentang membaca buku di seluruh dunia

baca Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Myanmar, 1994

Sebuah buku mengompilasi foto yang menggambarkan kegiatan membaca buku di 30 negara. Dari pekerja pabrik baja di Serbia hingga ruang kelas di Kashmir, mereka menguak kekuatan dari 'kumpulan kata yang dicetak' itu.

"Pembaca buku biasanya jarang merasa sepi atau bosan, karena membaca adalah sebuah pelarian sekaligus pencerahan," tulis Paul Theroux pada kata sambutannya di buku karya foto Steve McCurry, berjudul Steve McCurry: On Reading terbitan Phaidon. "Kebijaksanaan ini kadang terlihat. Bagi saya, seperti ada sesuatu yang bersinar di wajah-wajah orang yang sedang membaca buku."

'Sinar' itu tampak dalam buku ini, apakah itu dari tundukan kepala perempuan di sebuah museum di Italia atau ekspresi intens dari pedagang kaki lima di Kabul. Selama 40 tahun, fotografer Magnum ini telah mengumpulkan koleksi foto-foto yang menggambarkan orang asyik bergumul dengan kumpulan kata-kata di atas kertas.

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Roma, Italia, 1984

Beberapa tampak lebih kasual, seperti orang di depan tungku menyala, menggenggam sebuah surat kabar di satu tangan dan rokok di tangan lainnya; terlihat mempesona, tampaknya tidak menyadari pemandangan tulang kaki raksasa atau gajah yang bersandar di punggung mereka. Semua (perhatian) untuk sementara, teralih ke tempat yang berbeda.

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Chiang Mai, Thailand, 2010

McCurry terinspirasi oleh seorang pelopor Hongaria. "Saya bertemu dengan fotografer legendaris André Kertész tak lama setelah saya pindah ke New York ketika saya berusia awal tiga puluhan," kata Steve McCurry dalam pengantar buku ini. "Beberapa gambar yang paling menarik miliknyanya adalah foto-foto orang yang sedang membaca. Foto diambil selama periode 50-tahun, dan dikumpulkan dalam bukunya On Reading, diterbitkan pada tahun 1971."

Buku baru McCurry, menurutnya, adalah "penghormatan saya untuk bakat Kertész ini, pengaruhnya, dan kejeniusannya".

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Mumbai, India 1996

Di tahun 1973, dalam buku Looking at Photographs, kurator fotografi Museum of Modern Art, John Szarkowski, menulis bahwa "Kertész tidak pernah tertarik pada deskripsi analitis dan disengaja; sejak ia mulai memotret pada tahun 1912 ia berusaha menemukan revolusi pandangan elips, detail tak terduga, momen sekejap - bukan sesuatu yang epik tapi memiliki kebenaran liris."

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Umbria, Italia, 2012

Foto McCurry memiliki momen itu, menggambarkan orang yang terserap dalam kata-kata, banyak dari mereka tidak menyadari sedang difoto.

Penyair Swiss, novelis dan pelukis Hermann Hesse memberi penjelasan mendalam tentang pengalaman itu pada esainya On Reading Books pada 1920.

"Pada jam ketika imajinasi kita dan kemampuan kita untuk mengasosiasikan berada di titik tertinggi, kita tidak lagi benar-benar membaca apa yang dicetak di atas kertas tapi berenang di aliran impuls dan inspirasi yang menggapai kita dari apa yang kita baca."

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Kuwait, 1991

Foto-foto dalam On Reading mengungkapkan sesuatu yang tidak hanya membawa kita keluar dari dunia tapi juga membantu kita belajar lebih banyak tentang hal itu.

Di blognya yang berjudul Brain Pickings, Maria Popova menggambarkan peran yang berbeda dari membaca.

"Untuk Kafka, buku-buku ibarat 'kapak di antara laut beku di dalam diri kita'; untuk Carl Sagan, buku adalah 'bukti bahwa manusia mampu melakukan sihirnya'; untuk James Baldwin, itu adalah cara untuk mengubah nasib kita; untuk Neil Gaiman, buku adalah kendaraan menuju kebenaran manusia yang terdalam; untuk pemenang Nobel asal Polandia Wisława Szymborska, buku adalah baris terdepan sebuah kebebasan."

Sedangkan Galileo, ia berpendapat, "melihat kegiatan membaca sebagai cara untuk memiliki kekuatan super".

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Kashmir, 1998

Dalam kata pengantar untuk On Reading, Theroux menceritakan bagaimana membaca karya Baldwin, dan penulis seperti Langston Hughes dan Zora Neale Hurston, mengubah pandangannya tentang dunia.

"Bagaimana seorang pembaca bisa masuk dalam kehidupan batin karakter fiksi berarti segalanya bagi saya, dan berbentuk kepekaan saya, dan memberi saya beberapa pemahaman konflik rasial dalam kehidupan Amerika."

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Sri Lanka, 1995

Dalam gambar ini, McCurry memotret seorang wanita yang membaca untuk cucunya di luar kuil.

Theroux mengungkapkan pengalaman pertamanya menjadi pembaca. "Sebagian besar pembaca bisa melacak kecintaan mereka pada buku dari mendengarkan dongeng. Ayah saya membaca Treasure Island untuk saya dan saudara-saudara saya pada waktu tidur; Ibu saya membacakan kami The Five Chinese Brothers, The Snipp, seri Snapp Snurr, Sonny Elephant dan banyak buku Dr Seuss ... Minat saya terhadap dunia yang lebih luas dirangsang dari awal. "

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Suku Suri, Tulget, Omo Valley, Ethiopia, 2013

Hesse memaparkan sifat transformatif kegiatan membaca pada esainya The Magic of Book tahun 1930: "Di antara banyak hal di mana manusia tidak hanya mengambil dari alam tetapi membuat sesuatu dari pikirannya sendiri, dunia buku adalah yang terbesar... Tanpa kata, tanpa penulisan buku, tidak ada sejarah, tidak ada konsep kemanusiaan. Dan jika Anda ingin masuk dalam ruang kecil, di sebuah rumah atau satu kamar, dan memepatkan sejarah jiwa manusia untuk dirinya sendiri, Anda hanya dapat melakukannya dalam bentuk koleksi buku. "

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Real Gabinete Português de Leitura, Rio de Janeiro, Brasil, 2014

"Kata dan menulis adalah hal yang kudus dan magis," tulis Hesse. "Penamaan dan penulisan pada awalnya adalah pekerjaan yang ajaib, sebuah penaklukan magis terhadap alam melalui semangat, dan di mana-mana karunia menulis dianggap berasal dari Allah. Bagi kebanyakan orang, menulis dan membaca adalah seni yang rahasia dan suci yang disediakan untuk imamat saja."

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Kabul, Afghanistan, 2002

Theroux menggambarkan sifat yang ajaib itu dalam kata pengantarnya. "Bagian paling menarik dari membaca fiksi adalah penemuan bahwa pembaca tahu lebih banyak tentang kehidupan batin karakter dalam buku daripada karakter anggota keluarga atau teman-temannya sendiri. Intensitas dari pengalaman membaca, kemustahilannya untuk berkomunikasi dengan bukan-pembaca, adalah alasan mengapa karakter fiksi tampak nyata, teladan, tragis, jenaka dan terjangkau ... Buku-buku bagus memiliki mantra, mengajak pembaca ke dunia yang kadang-kadang menjadi teladan, seperti Polynesian Eden of Melville karya Typee, atau English dystopia of Orwell's pada 1984."

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption MKS Steelworks, Serbia, Yugoslavia, 1989

Foto McCurry, klaim Theroux, "adalah bukti visual dari banyaknya hal yang saya tulis: pembaca yang terbius, tatapan bercahaya, gagasan kesendirian, postur santai, usaha singularitas, rasa penemuan dan tanda sukacita".

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption New York City, USA, 2015

Mereka juga mengingatkan bahwa banyak orang di dunia masih memilih kata yang dicetak daripada ponsel pintar. Kembali pada tahun 1930, Hesse berpendapat bahwa "Kita tidak perlu takut akan punahnya buku di masa depan. Sebaliknya, semakin banyak kebutuhan hiburan dan pendidikan dipuaskan melalui penemuan lain, buku akan semakin memenangkan kembali martabat dan otoritas. Bahkan kecanduan paling kekanak-kanakan kita terhadap kemajuan, pada akhirnya akan segera dipaksa untuk mengakui bahwa tulisan dan buku memiliki fungsi yang kekal."

Hak atas foto Magnum Photos
Image caption Kuwait, 1991

Hesse menyimpulkan: "Ini akan menjadi jelas bahwa formulasi dalam kata-kata dan mengolah susunannya melalui tulisan tidak hanya menjadi alat bantu yang penting, tetapi juga sarana satu-satunya bagi manusia untuk memiliki sejarah dan memupuk kesadaran tentang dirinya terus menerus."

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudulatau tulisan lain dalamBBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait