Foto yang menunjukkan bahwa 'berbuat kekerasan' tidak selalu salah

Beberapa foto tak pernah lekang dimakan zaman. Foto-foto tersebut terus terasa penting. Jika foto-foto viral masa kini populer dalam waktu singkat, ada foto-foto yang terus memperlihatkan kedalaman makna dan relevan di berbagai masa. Foto-foto tersebut kekal di ingatan kita.

Di era media sosial, dengan Facebook dan Twitter kini menjadi tempat berbagi dan menilai foto, foto lama yang diambil di jalanan Vaxjo, Swedia, pada April 1985 saat berlangsungya demo oleh Partai Neo-Nazi Nordic Reich, kembali mencuat. Foto itu adalah foto hitam-putih Danuta Danielsson memukul seorang anggita Neo-Nazi dengan tas tangannya.

Foto ini menyeruak karena dinilai relevan terhadap berbagai peristiwa yang terjadi belakangan. Misalnya pelantikan Donald Trump sebagai presiden Amerika dan referendum. Melihat foto Danielsson yang kala itu berusia 38 tahun, banyak yang berucap, "Jadilah perempuan kuat yang memukul Neo-Nazi itu."

Image caption Foto yang diambil tahun 1985 ini kembali ramai di media sosial.

Kebencian Danielsson disebut-sebut karena ibunya tewas dibunuh dalam kamar gas buatan Nazi pada perang dunia kedua.

Kondisi ini membuat pembaca berdebat dan berani mengungkapkan bahwa kekerasan yang tidak terlalu brutal, masih dapat diterima. Foto yang diambil Hans Runesson ini sejalan dengan berbagai karya seni lain yang menggambarkan bagaimana perempuan beraksi ketika dirinya sudah terpojok.

Misalnya lukisan Artemisia Gentileschi dan Caravaggio yang mengisahkan cerita alkitab tentang Judith, perempuan yang memenggal seorang jenderal Asiria yang berencana menghancurkan kotanya. Serupa halnya dengan pelukis Elisabetta Sirani, yang menggambarkan cerita Timoclea, perempuan yang mendorong lelaki pemerkosanya masuk ke dalam sumur.

Image caption Ilustrasi dari naskah The Luttrell Psalter.

Jauh sebelum penggambaran perempuan yang balas dendam di atas, pada abad ke-14, ditemukan naskah The Luttrell Psalter, yang menggambarkan bagaimana perempuan menjadi warga kelas dua, dan sebagai istri, ia kerap disiksa. Perempuan pun membalas.

Cerita pada abad pertengahan itu menjadi pencilan di masanya, karena saat itu suami dibolehkan memukul istri. Sama seperti foto Danielsson, penggambaran itu akan kekal di benak, bahwa ada kekerasan yang dapat kita terima, bahkan kita harapkan untuk terjadi.

Berita terkait