Apakah T2 Trainspotting layak untuk ditunggu?

T2 Trainspotting Hak atas foto T2 Trainspotting
Image caption T2 Trainspotting mempertemukan lagi empat kawan pecandu di Edinburgh, Skotlandia.

Sekuel Trainspotting yang sudah lama dinantikan mengisahkan empat orang usia empat puluhan yang menyadari mereka tak lagi semuda dulu, maka wajar jika film ini terasa lebih paruh baya dibanding pendahulunya.

T2 Trainspotting, seperti judulnya yang agak membuat bingung, lebih lamban dan rapuh dibanding Trainspotting. Jelas tak sekeren dulu, film ini lebih konvensional dan cenderung sentimental terhadap masa lalu.

Tergantung seberapa maklumnya Anda — dan berapa usia Anda — Anda bisa terkesan bahwa film ini sudah memasukkan tema menua dalam nada yang lebih lembut dan ritme yang lebih perlahan, atau Anda akan kecewa ini bukanlah tontonan seru seperti Trainspotting yang dulu.

Tentu saja, tak semua film adalah Trainspotting.

Diadaptasi dari novel cult Irvine Welsh tentang sekelompok pecandu heroin yang menjalani kehidupan bawah di Edinburgh, tragikomedi yang vulgar dan penuh gaya dari 1996 ini membombardir penonton dengan karakter luar biasa dan anekdot yang meledak, menggunakan keterangan tulisan, alih suara, dan lagu-lagu yang dipilih dengan baik — Lust for Life dari Iggy Pop, Perfect Day dari Lou Reed, dan Born Slippy dari Underworld — untuk menambahkan lebih banyak lagi informasi.

Jika Anda meninggalkan bioskop setelah adegan pembukaan selama 10 menit, Anda tetap tak akan rugi.

Hak atas foto Jeff J Mitchell/Getty Images
Image caption Sutradara Danny Boyle dan aktor Ewan Bremner,di lokasi pembuatan sekuel film Trainspotting di pusat perbelanjaan Muirhouse di Edinburgh, Scotland, pada Mei 2016.

Sekuelnya terasa lebih sendu. Meski sutradaranya dan penulis skenarionya sama (Danny Boyle dan John Hodge), namun mereka mengurangi narasi dan keterangan tulisan, dan butuh waktu untuk mengetahui di mana karakter berada dan apa yang kini mereka lakukan.

Yang luar biasa, mereka semua masih hidup.

Renton (Ewan McGregor) hidup bebas narkoba di Amsterdam selama 20 tahun terakhir namun kembali ke Edinburgh menyusul kematian ibunya. Spud yang sering tak beruntung (Ewen Bremner) telah mencoba dan gagal menjauh dari heroin, dan dia kehilangan istri serta anak laki-lakinya dalam proses itu.

Begbie (Robert Carlyle) berada di penjara, di mana lingkar pinggangnya, kumis, serta kekejamannya makin bertambah. Dan Sick Boy (Jonny Lee Miller) menghirup kokain, menjalankan pub kotor bibinya, dan memeras klien-klien dari PSK Bulgaria (Anjela Nedyalkova).

Hit terakhir

Terakhir kalinya empat pria ini berada di ruang yang sama adalah saat Renton diam-diam keluar dari sana dengan tas penuh uang curian, sehingga dia tak bisa dibilang diterima dengan baik di Skotlandia.

Sick Boy meminta tolong pada Renton untuk mengubah pub tersebut menjadi sebuah tempat pelacuran, hanya agar nantinya dia bisa mengkhianati Renton. Sementara Begbie merencanakan pembalasan dendam yang lebih halus, melibatkan pisau dan palu godam.

Berbagai petualangan ini terasa familiar dengan elemen Trainspotting: stik biliar yang dipatahkan dan klub malam yang kotor, penggunaan kata-kata umpatan yang jago dan kekerasan yang tiba-tiba dengan efek khusus dan membekukan bingkai.

Dengan menyeimbangkan antara realisme sosial dan adegan berlebihan yang terasa seperti kartun, film komedi gelap yang konyol ini punya semangat lebih daripada kebanyakan film Inggris lainnya (termasuk film-film Doyle lainnya).

Namun faktanya adalah, pada setiap elemen yang muncul di T2 akan terasa inferior dibandingkan dengan T1: sinematografinya lebih kabur, penyuntingannya tidak seenergetik dulu, musiknya tak sebagus dulu, dan penampilannya juga tak setajam dulu (walaupun Miller, aktor Inggris, memberikan aksen Skotlandia yang lebih meyakinkan dibanding dulu).

Hanya pada satu sekuens — di mana Renton dan Sick Boy merampok klub sosial Protestan dan kemudian merayakannya dengan membahas kecintaan mereka pada George Best — memiliki gaya yang ramai dan kekonyolan dari film pertama.

Dan beberapa sekuensnya lebih cocok ada di film-film kriminal yang dirilis khusus untuk video.

Hak atas foto Jeff J Mitchell/Getty Images
Image caption Aktor Ewan McGregor dan Ewan Bremner berlari dalam adegan sekuel film Trainspotting on Princess Street pada Juli 2016 do in Edinburgh, Scotland.

Masa perlu ada lelucon tentang Viagra di 2017? Yang benar saja.

Jika sulit untuk menonton T2 tanpa mengingat bagaimana jauh lebih baiknya Trainspotting, film ini punya kebesaran hati untuk mengakui penurunan kualitas tersebut.

Seperti berbagai waralaba Hollywood yang keluar pada 2015 — Creed, Jurassic World, The Force Awakens — film ini memicu ingatan yang menyenangkan tentang karya besar yang sangat dicintai, dan ini mendorong kita untuk mengingat tahun-tahun yang terlewati sejak karya tersebut diluncurkan.

Saat Renton dan rekannya mengingat masa muda mereka yang lebih hedonistik, Boyle dengan cerdas memasukkan potongan dari film 1996, dan mengirimkan berbagai karakter itu dalam perjalanan sentimental ke lokasi-lokasi yang paling dikenang.

Langkah jeniusnya adalah memasukkan adegan karakter-karakter tersebut saat masih anak-anak, menendang bola di lapangan SD, dan menegaskan bahwa hubungan mereka sudah terjalin jauh lebih lama dari hari-hari mereka sebagai pecandu. Jika salah satu dari mereka mulai menyanyi Auld Lang Syne, maka akan cocok-cocok saja.

Kadang-kadang kecanduan film pada nostalgia sering keluar kendali. Saat Renton memperbarui monolog 'Choose life'-nya misalnya, itu sudah kelewatan.

Namun, secara umum, menelusuri jalan kenangan sering menjadi sesuatu yang menyentuh: Trainspotting dan T2 layak bersanding dengan trilogi Before dari Richard Linklater dan Petualangan Antoine Doniel karya Truffaut soal kisah pahit manisnya menjadi dewasa dan menua.

Satu hal yang hilang adalah referensi terhadap "teori yang menyatukan hidup" yang disebut Sick Boy di Trainspotting awal.

"Pada satu titik, kita mendapatkannya, lalu kemudian hilang. Dan hilang untuk selamanya."

Boyle dan rekan-rekannya pernah mendapatkannya, lalu mereka kehilangan hal itu, tapi sangat menyentuh bahwa mereka sadar akan sesuatu yang hilang itu.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Is T2 Trainspotting really worth the wait? di BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait