Mengapa Beauty and the Beast dikatakan tidak sebagus film kartun aslinya?

  • 21 Maret 2017
beauty and the beast Hak atas foto Walt Disney Pictures

Disney dalam beberapa tahun terakhir telah membuat ulang film-film lamanya dengan tingkat efisiensi setara industri manufaktur mobil.

Tapi banyak dari film daur ulang ini memiliki identitas baru. Maleficent mengubah sosok jahat dari film Putri Tidur sebagai pahlawan, misalnya.

The Jungle Book membawa kekhasan Rudyard Kipling kembali ke layar kaca. Dan Pete's Dragon tidak banyak mengambil film sebelumnya tahun 1977, selain judulnya itu sendiri.

Tapi film 'baru' Beauty and the Beast adalah film Disney pertama yang mengambil pendekatan yang berlawanan dan mencontek semua materi di film lamanya semirip mungkin.

Kisahnya sama dengan film kartun originalnya yang dibuat tahun 1991, karakternya juga sama, bahkan kostum Belle sama: gaun biru dan blus putih di awal dan gaun kuning kemudian.

Dan cukup mengejutkan bahwa situs film IMDb mencantumkan Stephen Chbosky dan Evan Spiliotopoulis sebagai penulis naskah, bukan Linda Woolverton yang menulis naskah orisinilnya, karena banyak dialog yang identik.

Tentu saja ada dua perbedaan yang jelas di antara dua film itu.

Perbedaan pertama adalah film baru ini adalah aksi-langsung (atau live-action), jadi banyak set zaman dulu yang dibuat dan juga kreasi digital yang rumit.

Tapi sayangnya, dengan berjuta-juta dolar yang mungkin dihabiskan untuk desain produksi ala Hogwarts itu, tidak ada satupun yang terasa lebih magis atau imajinatif dibandingkan kartunnya yang dibuat seperempat abad lalu.

Hak atas foto Disney via AP

Banyak aktor juga dibayang-bayangi para pendahulunya. Tenggelam dalam lapisan gambar yang dikomputerisasi, Dan Stevens berhasil membuat Si Buruk Rupa berbeda dengan menemukan kepedihan dalam kecanggungan aristokratnya.

Ewan McGregor menambahkan ciri khas 'oomph and ooh-la-la' pada karakter lilin Lumiere. Sedangkan untuk karakter lainnya, Emma Watson tampak teliti dan pemarah sebagai Belle; Emma Thompson sebagai Ibu Potts tidak bisa menandingi Angela Lansbury, yang tampak hangat dan memenangkan seperti teh yang diseduh, dan Kevin Kline tampak susah payah bersikap sopan sebagai ayah Belle.

Dalam banyak kasus, apa yang terlihat adalah bahwa tokoh-tokoh dalam kartun disuarakan oleh veteran musik dan opera yang benar-benar bisa menyanyi, sedangkan karakter yang sama dalam film live-action dimainkan oleh bintang film yang benar-benar tidak bisa menyanyi.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Emma Watson, pemeran Hermionie dalam seri Harry Potter kini memerankan Belle.

Perbedaan kedua di antara film Beauty and the Beast ini adalah bahwa yang baru berdurasi lebih lama dibanding yang lama. Sutradara Bill Condon membawa dongeng romantis yang awalnya berdurasi 84 menit ini menjadi drama yang berlarut-larut selama 129 menit.

Beberapa tambahan tampak sesuai. Pada prolog, pangeran digambarkan sebagai orang brengsek, yang berpesta-pesta mewah dengan mengorbankan rakyat miskin, sehingga ketika penyihir mengubah dirinya menjadi raksasa bertaring dan berbulu, kutukan tidak tampak seolah tidak adil seperti yang dicitrakan sebelumnya.

Kita juga belajar mengapa pemburu Gaston (diperankan Luke Evans), begitu tertarik pada si kutu buku Belle.

Tapi upaya lain oleh pembuat film tidak terlalu sesuai. Beauty and the Beast mengikuti contoh film lain seperti Batman dan Bond yang baru dengan menjelaskan setiap aspek terakhir dari sejarah dan psikologi karakter - dan, seperti dalam Batman, kematian orang tua merupakan faktor utama.

Hasilnya adalah bahwa ada beberapa dialog, dan beberapa lagu baru, yang hanya berfungsi untuk membuat seluruh film terkesan lebih lambat dan suram.

Ini adalah kesalahan fatal. plot bergantung pada gagasan bahwa jika Belle dan pelamar berbulunya tidak jatuh cinta pada saat kelopak jatuh dari sebuah mawar, ia akan terjebak menjadi buruk rupa selamanya.

Tapi film ini bergerak pada kecepatan yang terseret-seret sehingga rasanya seolah-olah mawar akan layu dan mati setelah tiga lagu berikutnya.

Di satu sisi, menonton Beauty and the Beast seperti menonton extended cut film Apocalypse Now, bahwa menarik untuk melihat semua adegan tambahan yang telah ditempatkan menjadi film klasik, tapi jelas mengapa mereka dihilangkan untuk versi jadinya.

Kemiripannya pada kartun adalah hal yang menarik bagi beberapa penonton. Seperti penggemar muda novel Harry Potter yang menilai film pertama bukan pada seberapa baik film itu dalam hal sinematik, tapi bagaimana setia film itu pada bukunya.

Penggemar muda Beauty and the Beast mungkin senang melihat begitu banyak momen favorit mereka diciptakan ulang - dan dengan Hermione di dalamnya.

Pada tingkat ekstrem yang lain, ada orang-orang yang belum pernah melihat film aslinya - yang menjadi film animasi pertama yang dinominasikan untuk film terbaik Oscar - sehingga mereka akan menemukan banyak hal yang menyenangkan.

Pada akhirnya, film baru ini tidak jelek-jelek amat, tetapi sulit untuk menemukan alasan mengapa itu dibuat ketika kartunnya sudah ada.

Beauty and the Beast ibarat sebuah versi daur ulang dari lagu papan atas, yang mencoba bermain dengan kompetensinya. Sehingga motto sang sutradara Bill Condon, "Jika tidak pecah, jangan diperbaiki" mungkin lebih cocok diganti sedikit, "jika tidak memecahkan rekor sebelumnya, mungkin jangan dibuat ulang."

★★☆☆☆

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul Beauty and the Beast doesn't hold a candle to the original atau artikel lain dalam BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait