Mengeksplorasi keindahan klub punk dan fetish di London

Estate of Jo Brocklehurst Hak atas foto Estate of Jo Brocklehurst

Dengan rambut palsu dan kacamata, seniman Jo Brocklehurst menyamar untuk menggambar sejumlah sosok dalam kehidupan malam London di klub-klub fetish dan acara-acara punk. Tapi karya seninya - termasuk potret banyak orang terkenal mulai dari Boy George sampai Billy Idol - tidak banyak diketahui.

Sebuah pameran karyanya yang dibuat dari tahun 1960-an hingga kematiannya pada 2006, berjudul Nobodies and Somebodies, mungkin akan mengubah itu.

Acara ini mengungkap dunia lain menuju kehidupan punk subversif, dan juga hubungan perdana antara subkultur lokal ini dengan dunia mode internasional.

"Dia adalah seniman sejati, menggambar setiap hari dalam hidupnya," kata Isabelle Bricknall, teman dekat Brocklehurst sekaligus salah satu kurator dalam pameran itu.

"Tujuannya tidak pernah karena uang. Dunia seni waktu itu tidak akan mau dekat-dekat dengan dunia punk, tapi dia melihat sesuatu di sana. Dia melampaui zamannya."

Hak atas foto Estate of Jo Brocklehurst

Sebagai anak yang cemerlang, Brocklehurst ditawari beasiswa untuk belajar di Saint Martin School of Art yang terkenal pada usia 14 tahun.

Dia lulus empat tahun kemudian, saat tradisi ilustrasi mode, kebanyakan adalah tafsiran dari haute couture Paris, yang tidak lagi menarik.

Brocklehurst menjalani pelatihan ketat akademis dan mengalihkan perhatiannya ke kehidupan kumuh London, membenamkan dirinya dalam suasana punk awal-awal dari akhir 1960-an dan klub fetish di mana orang mengeksplorasi seksualitas alternatif.

Brocklehurst sering mengunjungi sudut yang terabaikan ini dalam penyamaran, dan dengan sketsa di tangannya, dia bergerak diam-diam untuk menangkap sosok-sosok menarik di saat-saat yang paling rentan.

Kehidupan pribadinya sama rahasianya. Brocklehurst selalu menolak untuk mengungkapkan usianya sebenarnya, tapi dipercaya bahwa dia lahir di tahun 1930-an, anak hasil perselingkuhan antara seorang tokoh politik senior di Sri Lanka dan ibu asal Inggris.

Dia begitu tertutup tentang latar belakangnya sehingga banyak dari teman-temannya bahkan tidak menyadari etnisitas gandanya.

Hak atas foto Estate of Jo Brocklehurst

Lampu-lampu berkilau, kota-kota besar

Dia juga memiliki kemampuan luar biasa untuk berada di tempat dan waktu yang tepat.

Seorang pelancong yang tak kenal lelah, Brocklehurst menghabiskan waktu yang lama di Berlin dan New York, bertemu dengan semua orang, dari Siouxsie Sioux dan Billy Idol hingga Andy Warhol dan Keith Haring.

Dia bahkan membuat pameran yang disorot media massa pada 1980 di Institut Seni Kontemporer London dengan judul Women's Images of Men, diikuti dengan pameran galeri di kota itu pada 1981 dan 1982.

Setiap saat, ketika dia tenggelam dalam semangat anti-kemapanan tahun 1960-an, atau bergaul dengan seniman pop 1970-an di New York, dia selalu mengamati, selalu merekam gambar - dan selalu mengasah kemampuannya.

"Meskipun semua itu, dia tidak pernah tergoda dengan ketenaran," kata Bricknall.

"Semua orang tahu siapa dia, dan akan mencoba dan melompat di depannya untuk mendapatkan gambar mereka diambil di klub. Bahkan dengan generasi berikutnya, orang-orang seperti Alexander McQueen dan John Galliano, yang ada saat Jo adalah berumur tujuh puluh satu. Dia menjadi orang fesyen yang bisa menyimpan rahasia dengan baik. Jika Anda benar-benar keren dan naik daun, Jo akan menggambar Anda. Ironisnya adalah bahwa dia tidak pernah tahu siapa orang-orang itu; ia tidak tertarik dengan selebritas. Biasanya saya yang mengidentifikasi siapa yang digambarnya ketika dia keluar malam."

Hak atas foto Estate of Jo Brocklehurst

Gaya Brocklehurst ini sering dikaitkan dengan gaya Egon Schiele: garis liat dan mengalir yang menggambarkan topografi manusia, pose berkerut dan teatrikal, serta mata bercahaya yang menarik penonton dengan tatapan dingin dan magis.

Tapi bisa dibilang, dia lebih cocok dikategorikan pada deretan seniman dokumenter abad ke-20 yang menempatkan objek sebagai prioritas pertama dan ego mereka kemudian.

Seperti Diane Arbus atau Mary Ellen Mark, Brocklehurst menunjukkan minat pada orang-orang yang menjalani kehidupan mereka di pinggiran, memberikan mereka martabat yang mungkin tidak pernah diberikan di tempat lain.

Kacamata di malam hari

"Dia menyukai Leonora Carrington dan Frida Kahlo, misalnya, karena mereka perempuan yang punya keteguhan. Mereka keluar dari norma di masyarakat," kata Bricknall.

"Dia sadar akan pentingnya jenis kelaminnya untuk menjadi seorang seniman dokumenter, karena ada kepercayaan tertentu yang diberikan kepada perempuan sehingga berarti mereka dapat pergi ke berbagai tempat yang tak bisa dikunjungi pria. Meskipun kehadirannya bisa cukup mengintimidasi - dengan penampilan yang mempesona dan sosoknya sebagai seorang wanita misterius - orang tertarik padanya seperti magnet ".

Sebagai catatan dari budaya yang mereka diproduksi, gambar-gambar ini menawarkan obat personal yang segar di antara fotografi hitam-putih punk pada masa-masa awalnya yang Anda temukan di tempat lain.

Brocklehurst melihat objeknya dengan warna yang hidup dan kaleidoskopik.

Ini adalah pengalaman mendalam bagaimana menyaksikan mereka dari dekat, menyeret penonton ke dalam gemuruh dan gelora dunia bawah tanah.

Dengan mengisolasi subjeknya dari suasana kacau klub atau bar, ia memberikan mereka sebuah subjektivitas yang menarik.

Kita diajak mengisi celah, membangun narasi kita sendiri tekait masing-masing karakter yang aneh dan menawan ini.

Hak atas foto Estate of Jo Brocklehurst

"Dia melihat seni sebagai hal yang sakral - dan jika saya mengatakannya pada beberapa orang, mereka akan memalingkan muka, karena tidak keren untuk berpikir tentang seni seperti itu - tapi Jo sangat spiritual. Dia menggambar dengan memakai kacamata hitam, dan saya melihatnya mengambil pensil atau kuas dan mulai membuat goresan awal dalam warna-warna cerah. Saya bertanya bagaimana dia melakukan itu, dan dia menjelaskan bahwa dia melihat aura di sekitar orang. Dalam sebuah adegan fetish, dia melihat orang-orang sebagai malaikat atau setan, dan dia mewakili itu."

Brocklehurst mungkin seperti eksentrik Inggris klasik, tapi kemampuan yang luar biasa dan keingintahuannya yang tak kenal lelah berbicara sebaliknya.

Karyanya mengesankan bukan hanya karena penolakannya menggurui subjeknya, tetapi juga luar biasa karena gaya main-main dan kecerdasannya.

Serangkaian karya yang ditampilkan pada akhir pameran, terinspirasi oleh Alice in Wonderland - konon dibuat setelah Brocklehurst kembali dari New York dan merasa terdorong untuk mengenal kembali dirinya dan ke-Inggris-annya.

Brocklehurst pada akhirnya menawarkan konsep radikal baru dari para karakter itu.

Pada saat tepi transgresif kehidupan malam di London secara bertahap terkikis, mari kita berharap gambar Brocklehurst ini, dan budaya mendebarkan yang menyertainya, tidak berakhir sebagai peninggalan masa lalu Inggris

Tulisan ini adalah bagian dari BBC Britain - seri artikel di BBC Culture yang berfokus pada menjelajahi pulau yang luar biasa ini, satu cerita pada suatu waktu. Anda bisa membaca artikel lain di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait