Sisi sensual dan pembangkangan Jane Austen

austen Hak atas foto World History Archive

Untuk memperingati dua abad kematian penulis Inggris, Jane Austen, Perpustakaan Inggris memamerkan tiga catatan milik Austen dari awal karirnya. Fiona Macdonald mengintip apa yang ditulis oleh salah satu ahli kata-kata paling mempesona itu.

"Tulisan-tulisan awal Jane Austen ternyata tak memiliki banyak kemiripan dengan karya-karya penuh penggambaran realistis yang ditampilkannya di kemudian hari," kata Kathryn Sutherland, profesor bahasa Inggris dari Universitas Oxford. "Kebalikannya, tulisan-tulisan Austen kala itu sangat ekspresif menggambarkan daya tarik seksual, kegilaan perempuan dan kekerasan."

Sisi berbeda dari novelis Inggris itu bisa dilihat dari tiga buku catatan di awal karirnya, yang berhasil ditemukan. Diyakini ditulis saat Austen berusia 11 hingga 17 tahun, buku itu berisi cerita, sketsa dramatis dan tulisan sejarah 'palsu'.

Dan untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, Perpustakaan Inggris akhirnya memamerkannya secara bersamaan. Austen menyajikannya dengan judul-judul 'Volume Satu', 'Volume Dua', dan 'Volume Tiga'.

"Jelas, dia sudah yakin dengan gaya tulisannya sejak masih muda - Austen piawai meniru gaya tulisan dari buku yang dibacanya saat masih kanak-kanak," kata Sandra Tuppen, seorang kurator dari Perpustakaan Inggris. "Gayanya sangat satir."

Volume Pertama terdiri dari 12 bab. "Meskipun 12 bab, tetapi tiap-tiap bab hanya terdiri dari satu atau dua kalimat. Jadi, dia mengambil gaya seperti novel, terdiri dari berbab-bab, meskipun sama-sekali tidak serius menulis novel. Namun, itu sengaja," tutur Tuppen.

Gadis lucu

Meskipun pendek, cerita-cerita di buku itu lucu-lucu, penuh humor. "Sangat hidup, tetapi masih cerdas," cerita Tuppen. "Mungkin orang tak akan membayangkan tulisan-tulisan ini ditulis oleh seorang gadis biasa pada abad ke-18, yang tinggal di lingkungan tertutup."

Profesor Sutherland di satu sisi menyebut, banyak dari tulisan awal Austen adalah "imitasi humor dari berbagai novel populer yang ditulis Samuel Richardson, Oliver Goldsmith, dan Samuel Johnson."

Image caption Banyak yang berasumsi gambar Ratu Elizabeth I di buku catatan ini terinspirasi dari Ibunda Austen sendiri.

Sementara buku berjudul Sejarah Inggris, yang dibuatnya saat berusia 16 tahun, adalah narasi 'palsu' dari sejarah Inggris, dari masa Henri IV hingga Charles I. "Cerita ini sangat subjektif dan penuh praduga."

"Sebuah catatan di bawah halaman pertama, memberikan kesan bagaimana cerita ini akan ditampilkan," tulis Sutherland. Pada bagian bawah tertulis: "NB: meskipun adalah buku sejarah, Anda akan menemukan sangat sedikit tanggal di sini."

Saudari Austen, Cassandra membuat potret ilustasi dari 'buku sejarah' itu. Kebanyakan karakter tidak terlihat seperti bangsawan, mereka lebih seperti orang-orang biasa pada masa itu. "Henry VII tampak sangat lelah," ungkap Sutherland.

Potret itu kemungkinan adalah anggota-anggota keluarga Austen sendiri. "Portrait Elizabeth yang tampak kasar, kemungkinan adalah ibunda Austen," tutur Tuppen. "Lalu juga ada foto cantik Mary, yang masih kanak-kanak, yang diyakini adalah Austen sendiri."

Mendarah daging

Austen diberikan buku catatan itu oleh ayahnya. Mereka sekeluarga adalah orang-orang yang cinta dan berbakat dalam sastra.

"Ibunya menulis pantun dan sajak. Sementara abangnya, James dan Henry bersama-sama mendirikan koran mingguan humor, The Loiterer, saat menjadi mahasiswa di Oxford. Austen bersaudara tumbuh besar dengan saling menulis puisi, pantun dan sajak untuk satu-sama lain."

Image caption Austen menulis apa komentar orang tentang novel Mansfield Park-nya.

Buku-buku catatan tersebut adalah bagian dari tradisi keluarga. "Buku tersebut semi-publik, dalam arti dibuat dengan tujuan untuk diedarkan dan dibacakan kepada anggota keluarga dan teman," tulis Sutherland. "Berbeda dengan tulisan remaja lainnya, tulisan Austen tidak berisi rahasia atau curhatan. Tulisan ini memang ditujukan untuk dibacakan pada anggota keluarga."

Tulisan yang dipamerkan perpustakaan Inggris termasuk tulisan tangan Austen tentang tanggapan keluarga dan teman-teman, terhadap novel ketiganya, Mansfield Park. Sangat menarik mengetahui bahwa Austen ternyata amat peduli tentang komentar orang soal karyanya.

"Ketika Mansfield Park diterbitkan, dia tidak mendapat satupun ulasan, jadi ini adalah cara unik baginya untuk tahu apa penilaian orang atas karyanya itu," ungkap Tuppen. "Menarik mengetahui bahwa dia mentranskrip semua kata-kata orang itu ke dalam buku. Mungkin saja dia mendengarkan komentar itu dan menulisnya dengan bahasanya sendiri. Pasalnya beberapa komentar itu terasa sangat cerdas, sehingga terasa ada nuansa khas Austen di dalamnya."

Ibunda Austen, Cassandra, menilai Mansfield Park tidak sebagus Pride & Prejudice. Sementara seorang teman dekat keluarga, Augusta Brownstone, menilai novel itu mirip dengan karya Austen yang lain.

Perempuan penuh warna

Cerita-cerita di buku catatan tersebut terasa berbeda dengan karya-karta Austen di kemudian hari. "Karakter cerita di buku ini cenderung hiperbolik dilengkapi petualangan absurd," tulis Sutherland. Dan Tuppen mengklaim, cerita di buku catatan tersebut lebih seksi dibandingkan novel-novel Austen.

"Jauh lebih seksi. Selain itu juga ada kekerasan bahkan pembunuhan. Jelas sekali dia mendapat referensi ini dari novel-novel yang dia baca."

Dan tidak hanya itu. Di antara buku-buku ada kemiripan, "Semuanya menampilkan cerita yang menampilkan perempuan muda yang percaya diri, penuh ambisi dan bahkan pembangkang: karakter seperti Charlotte Lutterell di cerita Lesley Castle (Volume Kedua) dan Kitty... dalam Kitty, and the Bower (Volume Ketiga), adalah di antaranya," cerita Sutherland. "Ada nuansa satir pada karakter ini yang bertentangan dengan bagaimana perempuan pada abad ke-18 pada umumnya."

Draft pertama dari buku legendaris Austen, seperti Sense and Sensibility, Pride and Prejudice dan Northanger Abbey, ditulis beberapa waktu setelah buku-buku remaja Austen tersebut. "Melihat karyanya di usia muda, tidak mengejutkan bahwa karakter-karakter di novel besar Austen kemudian, adalah perempuan kuat dengan pikiran besar."

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini berjudul The racy side of Jane Austen di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait