Mengapa sapi menjadi jadi simbol budaya begitu kuat?

Pacu jawi Hak atas foto Riau Images / Barcroft Images
Image caption Pacu Jawi di Batusangkar, Sumatera Barat.

Foto seorang lelaki yang menggelayut, mengendarai dua ekor sapi jantan di sebuah pacuan, membuat Kelly Grovier tertarik untuk menelisik bagaimana sapi jantan digambarkan dalam budaya karya seni.

Beberapa simbol dalam sejarah telah memperlihatkan bagaimana kita melihat sapi jantan sebagai sumber kekuatan. Kita genggam tanduknya sebagai simbol kontrol terhadap situasi; kita gambar bendera berwarna merah di wajahnya sebagai simbol tak kenal takut.

Sejak zaman pra-sejarah, sapi jantan telah menjadi simbol kekuatan dalam bawah sadar kita, seperti kekuatan granat tangan yang menunggu untuk meledak.

Ingatlah lukisan dari zaman Paleolitikum yang ditemukan di gua-gua di barat daya Prancis. Ketika baru bisa melukis, manusia melukis sapi jantan. Atau saat kita melihat langit penuh bintang. Rasi bintang kepala sapi jantan atau Taurus, terus terngiang, membuat kita membayangkan ada surga di baliknya.

Foto Pacu Jawi atau balapan sapi, untuk merayakan panen di Sumatera Barat, kembali memperlihatkan kuatnya hubungan antara sapi jantan dengan keinginan manusia untuk tampil tidak terkalahkan. Dilangsungkan di sawah basah, kompetisi ini menuntut joki atau penunggang sapi untuk berdiri di sebuah kayu pengikat yang diletakkan di antara dua ekor sapi jantan. Ketika sapi berlari dan kadang mengarah agak menjauh, badan si joki terkesan seperti akan terbelah. Namun, reaksi si joki memperlihatkan kontrol tetap ada di dirinya.

Alhasil, dari Zaman Perunggu, hingga zaman sekarang yang diwakili oleh Pacu Jawi, sapi jantan dan berbagai aktivitas dan karya seni terkaitnya telah mendarah daging dalam budaya manusia.

Image caption Karya seni Picasso dengan referensi kepala kerbau.

Dan memang, seluruh sejarah seni, mulai dari lukisan di dinding gua Lascaux, hingga representasi Eropa yang dilukis Rembrandt pada 1932, yang menggambarkan Zeus menyamar menjadi sapi jantan, hingga ke studi abstrak Arshile Gorky (1942), dan karya "Ayam Jantan dan Sapi Jantan" bikinan Damien Hirst, semuanya memperlihatkan bagaimana pentingnya sapi jantan.

Namun, tanpa mengecilkan hormat pada karya-karya seni di atas, kita tak boleh melupakan patung buatan Pablo Picasso, yang menggambarkan semangat yang sama dengan foto pacu jawi. Seperti joki di foto, Picasso melihat sapi jantan sebagai kendaraan untuk mempertajam pemahaman tentang dirinya. "Jika seluruh perjalanan hidupku diwakili oleh sesuatu, itu tentu Minotaur." Dan memang, hewan campuran separuh manusia dan separuh sapi jantan itu kerap muncul di karya-karya Picasso.

Lima tahun usai melukis mahakaryanya, Guernica (yang menampilkan makhluk berkepala sapi jantan, yang dinilai banyak orang merupakan perwakilan Picasso sendiri), Picasso mulai membuat karya-karya berbentuk hewan ini di berbagai kesempatan.

Pada tahun 1942, ketika lewat di dekat bangkai sepeda, dia pun terpikir untuk membuat karya. Bagian-bagian sepeda (stang dan tempat duduk) dibuatnya menjadi kepala sapi jantan. Tidak hanya itu, ia memadukannya dengan berbagai simbol kesuburan. Patung ini juga memuat diagram uterus dan tuba falopi. Patung tersebut seolah menjadi simbol manusia dan regenerasi.

Bersamaan dengan foto Pacu Jawi yang tadi kita bicarakan, karya Picasso mengingatkan kita bahwa untuk memahami tempat kita di bumi, kita memerlukan seni. Dan kali ini seni itu berbentuk sapi jantan.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini dengan judul How the animal become the powerful symbol in our culture di BBC Culture.

Berita terkait