God's Own Country: Film LGBT Brokeback Mountain versi Inggris

Gods

Film yang menjadi buah bibir di Festival Film Berlin ini disebut Jessica Kiang, sebagai film debut penyutradaraan yang luar biasa "tentang kisah cinta gay yang menghanyutkan".

Di bawah langit Yorkshire yang penuh gumpalan awan, dengan sepatu boot para karakternya yang kumal penuh lumpur, debut film Francis Lee, God's Own Country, adalah karya yang menghentak secara emosional.

Kita melihat kisah nyata cinta sepasang homoseksual dari tempat yang tidak elegan mempesona, tetapi dari lahan penuh jerami dan kotoran.

Film ini tentu akan membuat orang membandingkannya dengan Brokeback Mountain yang disutradarai Ang Lee. Meski dari sisi setting, film ini ada kemiripan, tetapi dari karakter yang dihadirkan, kedua film ini berbeda.

Dari berbagai sisi, God's Own Country sebenarnya bukan hanya bicara soal cinta. Film ini juga kisah tentang imigran, dan kehidupan pedesaan yang keras dan kadang berujung pahit jika ada yang menentang tradisinya.

Dan dalam karakter Josh O'Connor (Peaky Blinders) film ini terasa hidup. O'Connor adalah sosok natural dan terasa sangat otentik, membuat penonton yakin dia memang sudah hidup di sana bertahun-tahun.

Kuatnya pengaruh setting pedesaan di film ini mengingatkan kita akan novel karya Andre Arnold, Wuthering Heights. Namun, penggambaran Lee terhadap kehidupan pedesaan jauh lebih alami dan kadang kasar.

Dia menunjukkan keindahan lewat detail kulit manusia, bulu hewan, ludah, muntah, cairan sperma, liur dan cairan ketuban. Dalam film ini 'keajaiban kelahiran' dan 'roda kehidupan' digambarkannya lewat ayam yang mencopoti kulit telur dan domba betina yang menjilati ingus anaknya.

Hak atas foto AFP
Image caption Brokeback Mountain dibintangi oleh mendiang Heath Ledger dan Jake Gyllenhall.

Dan uniknya, kelahiran pertama hewan dalam film ini digambarkan sebagai kelahiran yang gagal. Johnny (O'Connor) diceritakan pergi ke pasar ternak membawa seekor sapi.

Di pasar ia bertemu dengan seorang pria muda dan berhubungan seks dengannya, hal yang dianggap terlarang di desa itu. Ketika kembali ke desa, sapi yang dipeliharanya itu mati ketika sedang melahirkan bayi sapi yang juga mati.

Ayahnya, Martin (Ian Hart) yang kondisi kesehatan membuatnya harus berjalan dengan bantuan tongkat, menyalahkan putranya itu sebagai penyebab kematian sapi dan anaknya.

'Seks yang buas'

Johnny yang selalu bermuka masam tinggal di sebuah peternakan tidak-sukses bersama ayah dan neneknya (Gemma Jones yang bermain ciamik). Hubungan mereka dikelilingi atmosfer saling bermusuhan satu sama lain.

Martin kemudian mempekerjakan seorang pekerja migran asal Romania untuk membantunya selama sepekan saat musim kawin domba. Ketika Georghe (Alec Secareanu) tiba, terkesan bahwa kehadirannya hanya akan menjadi tambahan alasan bagi Johnny untuk membenci keluarganya.

Johnny mabuk-mabukan hampir setiap malam di sebuah pub dan muntah setiap keesokan harinya. Dia memperlihatkan ketidaksukaan pada Georghe, serupa dengan ketidaksukaan pada teman-temannya yang mulai meninggalkan desa itu untuk pergi kuliah. Satu-satunya hal yang berbeda dari sosok Johnny diperlihatkan ketika di pub, salah seorang teman perempuannya mengajak Johnny minum-minum. Si perempuan bertutur: "Dia (Johnny) lucu sekali. Seperti waktu remaja dulu."

Sementara Georghe dengan santai menikmati apa yang ditugaskan padanya oleh ayah Johnny. Dia tidur di karavan dingin, dan bekerja menghabiskan hari bersama Johnny, sebagian besar dalam diam. Namun, Georghe piawai menjalankan tugasnya, tidak hanya dalam memperbaiki pagar dan dinding kebun, tetapi juga untuk urusan beternak domba.

Menghabiskan waktu berhari-hari bersama, menjaga domba, makan hanya dengan mie rebus dan tidur di dekat satu sama lain di sebuah gedung bobrok, hubungan Johnny dan Georghe pun berubah menjadi seksual. Hubungan seks pertama mereka di atas jerami dan lumpur, amatlah buas. Dan yang menarik dari perkembangan karakter Johnny, dia pun menemukan cinta di diri Georghe. Dengan kebahagian yang tiba-tiba singgah di kehidupannya, kita perlahan mulai melihat senyum di bibir Johnny. Transformasi dari sifat kasar ke lembut dengan senyuman ini, sangat nikmat untuk disaksikan.

Di masa lalu, ketika dihadapkan dengan film-film gay sekaliber Moonlight, Carol dan film yang baru saja menggebrak Sundance, Call Me By Your Name - film-film yang menyampaikan ceritanya dengan kelembutan dan mendalam - para kritikus cenderung menyebut bahwa film-film tersebut "untuk semua orang yang pernah merasakan cinta", dan "untuk para pecinta film", seakan-akan fakta gay yang ditonton harus dikesampingkan agar bisa dinikmati mayoritas penonton yang (tentunya) heteroseksual.

Namun, rasanya penting untuk melihat film gay seperti ini sebagai film gay, tanpa perlu pernyataan bahwa ini film cinta-umum yang bisa dirasakan semua orientasi. Tidak perlu lagi seakan meminta maaf atas tema yang diangkatnya.

Dan tidak seperti kebanyakan film gay, yang berkisah tentang coming out - setidaknya dari pandangan tradisional - seksualitas Johnny sejak awal sudah kita ketahui jelas, yaitu seorang gay, sebetapapun dia tak mengucapkannya secara lisan. Johnny adalah potret dari karakter yang benar-benar nyata, dalam, yang tidak pernah menyangka bahwa dirinya pantas mendapatkan cinta, dan cinta itu hadir di hadapannya. Melihat perjalanan ini amatlah memukau hati.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul God's Own Country is Britain answer to Brokeback Mountain di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait