Sebagus apakah film baru Ghost in the Shell?

SCARLET Hak atas foto PARAMOUNT

Film anime Ghost in the Shell yang diluncurkan pada 1995 adalah sebuah karya klasik dan kerap disebut sebagai salah satu film fiksi ilmiah terbaik yang pernah dibuat. Lalu, masih perlukah membuat film versi live-actionnya? Nicholas Barber menilai perlu.

Film anime Jepang Ghost in the Shell tidak hanya merupakan kartun fiksi ilmiah terbaik, tetapi juga film fiksi ilmiah terbaik secara umum. Mencengangkan secara konsep dan visual, film detektif cyberpunk buatan Mamoru Oshii itu menjadi jembatan antara film fiksi ilmiah 'analog' dan yang digital. FIlm itu menjadi jembatan antara film-film lama Blade Runner dan The Terminator yang menampilkan karakter cyborg dan android, dengan The Matrix dan Avatar yang sudah menghadirkan fiksi ilmiah melalui virtual reality dan konsep 'tukar tubuh.'

Pembuat The Matrix bahkan dengan santai menyatakan bahwa film buatan Oshii itu adalah inspirasi mereka.

Pertanyaan yang kemudian muncul ada dua. Masih perlukan membuat ulang - versi live action - dari film klasik ini, menimbang sudah banyak film lain yang menggunakan formulanya? Lalu yang kedua, bisakah film Hollywood beranggaran raksasa ini hadir dengan kualitas keunikannya sendiri? Jawaban untuk kedua pertanyaan ini adalah 'Ya.'

Memang, konsep utama cerita film Ghost in the Shell tidak lagi semengejutkan ketika film ini tayang 22 tahun lalu. Di tahun 1995, masih terasa janggal mendengar konsep tentang bagaimana setiap manusia disambungkan dengan jaringan komputer dan bisa berkomunikasi satu sama lain, berbagi informasi dengan kecepatan seperti pemikiran.

Di film anime Ghost in the Shell, pembukaan film, yang memperkenalkan tokoh dan berbagai macam organisasi dan birokrasinya terasa berlama-lama. Padahal di akhir film, tidak lagi dibahas soal organisasi itu. Film ini terasa hanya sebagai bagian pembuka dari sebuah film bersambung. Namun, di film live action terbarunya, penulis Jamie Moss, William Wheeler dan Ehren Kruger, membuat film ini lebih lugas dan tuntas - bukan berarti tidak ada peluang sekuel bagi Ghost in the Shell.

Scarlett Johansson berperan sebagai seorang perempuan yang terluka karena serangan teroris. Hanya otaknya yang dapat diselamatkan. Beruntung ternyata otak tersebut bisa dipasang ke sebuah tubuh robot. Fisik baru ini memiliki kekuatan super dan bisa berkamuflase. Hidup dengan hanya sedikit ingatan masa lalu, manusia-robot ini, yang kemudian diberi nama The Major direkrut oleh pemerintah untuk menjadi bagian dari pasukan anti-teror Seksi 9.

Hak atas foto PARAMOUNT
Image caption Salah satu adegan Ghost in the Shell.

Setahun kemudian, ilmuan yang membuat perempuan bionik ini dibunuh. Robot-robot mereka diprogram ulang oleh seorang peretas (Michael Pitt, yang ditampilkan ala Julian assange) untuk melawan pembuatnya. Bersama dengan timnya, the Major menginvestigasi peristiwa ini, memberantas musuh, sembari membuka tabir masa lalunya sendiri.

Gelap dan pilu

Film Ghost in the Shell yang baru jauh lebih masuk akal dibandingkan yang lama. Film yang baru, menawarkan nuansa horor dan thriller konspirasi.

Cukup banyak pula penggambaran versi anime yang dihadirkan di sini, meskipun film bertutur dengan gayanya sendiri yang juga kuat (sesuatu yang gagal dilakukan oleh film Beauty and the Beast yang baru). Meskipun begitu, tidak salah jika penonton akan menilai penulisnya melangkah terlalu jauh, membuat dialog kadang terasa 'murahan'. Misalnya ketika seorang tokoh di film ini menceritakan tentang apa itu Ghost in the Shell: "Tubuhmu, cangkangmu, mungkin sintetis buatan manusia, tetapi jiwamu, tetap ada di dalamnya." Tapi tetap saja, film ini jauh lebih lugas, tanpa menghilangkan nuansa gelap yang dihadirkan film animenya.

Ghost in the Shell berlatar metropolis Hong Kong yang sangat padat. Setiap tempat lowong yang tidak memiliki gedung pencakar langit, diisi oleh hologram super tinggi. Ada manusia raksasa dengan tangan metal. Kotanya dibangun penuh 'kepalsuan': Anda tak akan tahu apakah Anda berbicara dengan manusia, siborg, robot atau hologram. Dan menariknya, itu digambarkan dengan sangat nyata, dan terkadang terasa mengerikan. Ketika menonton film ini dalam format 3D di layar Imax, ada masa-masa di mana penggambarannya terasa sangat asli, terasa menyesakkan, membuat saya khawatir akan terkena kepanikan.

Namun, Anda perlu berhati-hati. Jika Anda adalah orang yang terganggu dengan nuansa gelap dan pilu yang dihadirkan oleh film-film superhero DC, Anda akan kesal sekali dan mungkin akan marah menonton Ghost in the Shell. Pasalnya film ini kerap sangat gelap dan terasa kejam, membuat film Batman v Superman: Dawn of Justice hanya terasa seperti film lego, The Lego Batman Movie. Jelas saja, sutradara film ini adalah Rupert Sanders, yang debut penyutradaraannya, Snow White and the Huntsman, terasa seperti salah satu episode Game of Thrones.

Hak atas foto PALM PICTURES
Image caption Anime Ghost in the Shell dianggap salah satu film fiksi ilmiah terbaik secara umum -bukan hanya untuk kategori animasi.

Fakta menarik lainnya adalah betapa multi-etnisnya film ini. Pemeran film termasuk aktris Prancis (Juliette Binoche) sebagai dokter yang membuat the Major hidup kembali, aktor Denmark (Pilou Asbaek) sebagai mitra kerja the Major, dan seorang lelaki Jepang ('Beat' Takeshi Kitano) sebagai komandan perempuan bionik itu. Pemilihan Johansson sebagai the Major tentu saja kontroversial, karena sosoknya berubah dari yang sebelumnya Asia menjadi Kaukasia. Namun, dengan konteks masyarakat yang sangat beragam yang dihadirkan di film, pilihan itu terasa masuk akal.

Sosok-sosok lain juga terasa lebih hidup dibandingkan di film animenya. Meskipun begitu, sosok-sosok tersebut penggarapannya masih terlalu permukaan untuk menjadi sosok manusia. Mereka seperti sosok yang berjalan, berbicara dengan kostum penuh gaya, sehingga membuat Ghost in the Shell lebih gampang untuk dikagumi daripada dicintai. Juga, andai saja film ini menambahkan humor dan kemanusiaan: lebih terasa adanya ghost in the shell, ruh dalam cangkang. Lepas dari itu, betapa menakjudkannya cangkang itu.

★★★★☆

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, berjudul How good is the new Ghost in the Shell di BBC Culture.

Berita terkait