Meninjau hasrat seks sesama jenis dari lukisan abad 19

Simeon Solomon's Sappho Erinna in a Garden in Mytilene Hak atas foto Tate
Image caption Sappho and Erinna in a Garden at Mytilene, sebuah lukisan cat air dari 1864, menggambarkan dua penyair perempuan Yunani berpelukan. (Kredit: Tate)

Seks, terutama homoseksualitas, adalah hal yang tabu di Inggris pada abad ke-19. Tapi, benarkah demikian? Kehidupan dan karya pelukis Simeon Solomon tampaknya membenarkan sekaligus menantang pandangan ini, tulis Holly Williams.

Pameran terbaru Queer British Art di Museum Seni Tate di London mempersembahkan karya-karya lukisan tentang identitas gender dan gairah sesama jenis. Beragam lukisan yang dipajang berasal dari era sejak 1861, ketika hukuman mati untuk sodomi dihapuskan, hingga 1967, ketika hukum di Inggris dan Wales tak lagi mengkriminalkan dua pria yang melakukan hubungan seksual suka sama suka.

Para pengunjung mungkin menduga pameran ini menampilkan pembukaan yang bertahap, sehingga karya-karya lukisan yang semakin terbuka dan tak tahu malu bakal dipajang belakangan. Kenyataannya tidak begitu. Karya Simeon Solomon - pelukis yang merupakan bagian dari gerakan Aesthetic dan seorang tokoh muda dari masa sebelum kelompok pelukis Pre-Raphaelite didirikan di Inggris pada 1848 - menampilkan gairah homoseksual yang tak kasat mata sejak pertengahan 1800-an.

Ambil contoh Witness The Bride, The Bridegroom dan Sad Love, sebuah lukisan yang dibuat pada 1865. Ketika sepasang pengantin bercumbu, tangan mempelai pria menggapai tangan seorang pria muda, yang juga tampak sedih. Sang mempelai pria mungkin mengorbankan cinta sesama jenis demi sebuah pernikahan heteroseksual yang terhormat, tetapi jari-jari kedua lelaki itu itu terjalin erat di depan selangkangan… Sebagai lukisan yang menggambarkan cinta terlarang, lukisan itu tampak eksplisit bagi khalayak masa kini.

Hak atas foto Tate
Image caption Lukisan The Bride, The Bridegroom and Sad Love – karya Solomon untuk koleksi pribadi yang diciptakan pada 1865 – lebih eksplisit ketimbang lukisan-lukisan lain yang dipajang untuk umum. (Kredit: Tate)

Tetapi apakah penggambaran itu juga tampak eksplisit bagi masyarakat pada abad ke-19? Untuk lukisan ini, mungkin iya mengingat ini merupakan koleksi pribadi. Namun, perlu diingat bahwa Simeon merupakan seorang yang mengikuti fesyen sekaligus seniman arus utama, yang berpameran di Royal Academy, sebuah institusi di pusat kesenian era Victoria.

Banyak karyanya untuk publik secara mengejutkan mengandung pesan gairah homoseksual. Dalam sejumlah lukisannya yang menggambarkan mitos klasik, biasanya menampilkan laki-laki lemah lembut atau laki-laki muda androgini yang telanjang, gairah homoseksual merupakan sebuah kode tersirat.

Dia bahkan menggambarkan percintaan kaum lesbian dengan jelas, seperti digambarkan dalam lukisan cat air dari 1864 yang berjudul Sappho and Erinna in a Garden at Mytilene.

"Itu merupakan gambaran gairah perempuan sesama jenis," kata kurator Tate, Clare Barlow. "Tidak eksplisit seperti pornografi, tetapi ciuman yang penuh gairah, pipi yang memerah… Itu semua ada di sana untuk ditafsirkan. Saya pikir dia melangkah lebih jauh dibandingkan seniman lainnya pada saat itu."

Mengernyitkan dahi

Kalaupun Solomon disanjung oleh kelompok pelukis Pra-Raphaelite dan karya-karyanya secara rutin dipamerkan di galeri-galeri besar, tanggapan yang kritis seringkali dilontarkan. Menurut Barlow, reaksi terhadap gaya yang sangat sensual dari lukisan kelompok Pra-Raphaelite dan gerakan Aesthetic selalu dibarengi dengan kegelisahan masyarakat saat itu.

Para kritikus mungkin tidak secara blak-blakan mencap karya-karya ini mengandung pesan homoseksual atau menyimpang, walau begitu mereka sering kali melontarkan kritik pedas.

"Kata-kata seperti 'kemerosotan' atau 'feminin' atau 'memuakkan' seringkali muncul. Ada banyak kecurigaan, " kata Barlow, merujuk karya-karya Solomon dan juga seniman seperti Frederic Leighton (yang tidak menikah dan orientasi seksualnya banyak digunjingkan) serta Edward Burne-Jones (yang tampaknya merupakan heteroseksual).

Kritik-kritik pedas dilancarkan melalui surat kabar pada jaman itu. Pada 1865, Pall Mall Gazette menilai gaya Burne-Jones sebagai "sesuatu yang menggairahkan tetapi bukan maskulin"; Spectator mengkritik "sentimen memuakkan yang terlalu sering menandai komposisi Solomon". Terhadap karya Leighton yaitu Daedalus dan Icarus, surat kabar Times menulis bahwa Icarus yang telanjang tampak lebih seperti "seorang perawan ketimbang seorang pemuda" dan ada "bentuk bulat halus seperti payudara perempuan" dalam otot yang padat.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Surat kabar Times mengkritik bahwa Icarus yang telanjang dalam karya Frederic Leighton lebh tampak seperti "seorang perawan ketimbang seorang pemuda" (Kredit: Wikipedia)

Tetapi sepanjang ada ambiguitas - baik dalam karya maupun kecenderungan senimannya - masyarakat abad ke-19 akan mengabaikan pesan homoseksual. Atau, setidaknya, mengernyitkan dahi. Hal ini bahkan berlaku untuk karya-karya yang tampak homoerotik, untuk khalayak masa kini, namun dihargai masyarakat abad ke-19 karena dibalut dalam konteks mitologi Yunani. Narasi seperti itu "menutupi potensi homoerotik dalam karya tersebut," kata Barlow.

Catatan tentang sebuah skandal

Bagaimanapun, pada 1873, tindakan Solomon membenarkan semua desas-desus kecurigaan bahwa dirinya merupakan seorang gay. Saat itu, dia dipergoki berhubungan seks dengan seorang pria di sebuah toilet umum di Oxford Street. Sebuah skandal bergulir sehingga Solomon yang berusia 32 tahun didakwa melakukan "percobaan persetubuhan dengan sesama laki-laki" dan dikenakan denda sebesar £100. Kariernya yang sukses pun ambruk dengan cepat.

Setelah sekali lagi ditangkap karena melakukan"sentuhan tidak senonoh" di sebuah toilet di Paris pada tahun berikutnya, dia dipenjara selama tiga bulan. Solomon dibawa ke Rumah Sakit Jiwa, dan menghabiskan sisa hidupnya berjuang melepaskan ketergantungan alkohol, uangnya tidak bersisa sepeserpun dan dia jatuh miskin.

"Seniman jaman itu dapat melenggang, walau cukup banyak (memberi pesan-pesan homoseksual), asalkan tiada bukti kuat," jelas Barlow. "Baru ketika Solomon tertangkap, seluruh desas-desus tentang dirinya yang saat itu menyebar, mengkristal ke dalam sebuah tindakan seksual tertentu."

Meskipun kisah Solomon menyimpan kesedihan - rekan-rekannya yang tersohor mencampakkannya, dan dia meninggal di sebuah panti sosial untuk gelandangan di Covent Garden pada 1905 - dia tetap memproduksi karya dengan kegigihan yang impresif dan kreativitas pada masa-masa akhir hidupnya. Belakangan, dia sangat disanjung oleh kelompok-kelompok gay.

Frederick Hollyer, yang mempopulerkan kelompok pelukis Pra-Raphaelites, menjual foto karya-karya Solomon. Foto-foto itu kemudian dikoleksi Oscar Wilde, kritikus dan penulis esai Walter Pater, dan penulis John Addington Symonds.

"Jika Anda berupaya untuk menggoda pemuda elegan pada 1890-an, menunjukkan karya-karya Simeon Solomon Hollyer kepada mereka tidak mungkin akan membahayakan Anda," kata Barlow dengan nada satire.

Pandangan tentang homoseksualitas

Queer British Art merupakan sebuah pameran yang seringkali mengajak kita untuk membaca (atau membaca ulang) karya dari sudut pandang kehidupan seniman, membiarkan apa yang kita ketahui - atau duga- mengenai gairah seksual mereka untuk membuka potensi makna yang baru.

"Kita tergoda untuk membaca biografi dalam karya - sesuatu yang dapat mencerahkan tetapi juga bisa menjadi problematik. Tetapi dia menciptakan rangkaian karya yang simbolis yang mengagumkan pada akhir hidupnya," kata Barlow.

Dia merujuk pada sebuah seri penggambaran kepala Medusa yang disiksa, lelaki lintas gender. Mereka disebut sebagai maskulin dalam naskah-naskah kuno latin dan juga disebut sebagai sesuatu "yang paling buruk bagi yang terbaik adalah menjadi rusak." Judul lukisan seperti ini adalah Sang Hati Nurani yang Tersiksa.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Solomon tampil dalam kostum oriental dalam sebuah foto yang diabadikan David Wilkie Wynfield. Posen ini meyakinkan banyak seniman besar era Victorian untuk berdandan di depan kamera. (Kredit: Wikipedia)

Pameran di Tate dimulai dari karya-karya Solomon, lalu mengarah ke David Hockney dan Francis Bacon, kemudian ke seniman-seniman yang berdandan lintas gender, pengadilan terhadap Oscar Wilde, dan eksperimen kelompok Bloomsbury.

Pameran ini bertujuan untuk menyoroti "banyaknya aspek-aspek yang berbeda dalam keterkaitan antara karya seorang seniman dan narasi homoseksualitas di sekitar mereka. Beberapa bersifat otobiografi, kadang kala pandangan homoseksualitas justru muncul dari pengunjung, atau mungkin datang dari sebuah kepekaan tentang homoseksualitas," urai Barlow.

"Yang kita lakukan adalah mengamati apa yang terjadi ketika pengunjung diberikan narasi ini saat menyaksikan karya-karya lukisan. Apakah itu menambah pemahaman, atau justru menganggu? Tentu saja itu sebuah kemungkinan. Kami tidak berupaya untuk menegaskan bahwa ini merupakan satu-satunya cara dalam meninjau lukisan, tetapi narasi homoseksualitas seringkali membantu Anda untuk melihat sesuatu dalam karya yang Anda tidak pernah lihat sebelumnya."

Menariknya, ketika penikmat seni modern melihat sejumlah lukisan Solomon, sesuatu yang mungkin mencolok adalah karya-karya tersebut tidak memerlukan banyak keterangan atau penjelasan. Betapa mudahnya pengunjung menafsirkan karya-karya dari abad ke-19 itu dalam konteks homoseksualitas, sekaligus membuat pengunjung berempati terhadap Solomon yang ditolak dari masyarakat dan ditinggalkan dalam kenestapaan.

Anda bisa membaca artikel The Victorian view of same sex desire atau artikel lain dalam BBC Culture.

Berita terkait