Arti tersembunyi dalam foto perempuan Wushu Afghanistan

Sima Azimi Hak atas foto Reuters/Mohammad Ismail

Kelly Grovier menganalisis kekuatan geometri dalam foto terbaru dari kelompok seni bela diri Afghanistan ini.

Dengan mengenakan jubah kuno ala biksu Shaolin dan bertumpu pada satu kaki seperti penari balet, seorang instruktur Wushu -bentuk tradisional kungfu- berdiri di atas salju di atas bukit, bagian barat Kabul.

Hal yang luar biasa dari pose berdiri tegak itu bukan hanya karena keanggunan atletik atau suasana yang puitis. Di kedua sisinya, dia didampingi sekelompok murid yang memasang posisi kuda-kuda, siap untuk berkelahi, sementara sang instruktur perempuan memberikan pose yang berani — salah satu bentuk perlawanan elegan yang biasanya diharapkan dari kaum perempuan di Afghanistan.

Tak terpengaruh oleh warga setempat yang menganggap bahwa berlatih seni bela diri Cina tak pantas buat perempuan, Sima Azimi yang berusia 20 tahun (yang belajar Wushu di Iran) berkomitmen untuk memperluas pilihan masa depan gadis-gadis Afghan.

Cukup menggoda untuk membaca lengan Azimi yang merentangkan tangan seperti Samson sebagai metafora untuk penyingkiran norma-norma chauvinistis, tapi pesona dari bentuk fisiknya yang tak menunjukkan ketakutan itu juga menjadi hidup dengan simbolisme yang lebih halus.

Sadar atau tidak sadar, mata kita menanggapi geometri dalam pose Azimi, karena tubuhnya secara tidak langsung mengambil bentuk heksagram — bintang segi enam yang terdiri dari dua segi tiga yang bertumpukan di arah yang berlawanan.

Segi tiga yang menghadap ke bawah, terbentuk dari lengan Azimi yang terbentang secara horizontal ke arah kakinya yang menapak, mudah untuk dilihat.

Dan berlawanan dengan itu, ada segi tiga yang mengarah ke atas yang terbentuk dari kepala Azimi dan tubuh miring dua murid yang paling dekat dengannya — paha mereka yang tertekuk mengesankan bagian dasar bentuk tersebut.

Dalam karya seni kuno Asia, heksagram menyimbolkan gabungan yang harmonis antara maskulinitas (yang diwakili oleh segi tiga yang menghadap ke atas) dan femininitas (segi tiga yang menghadap ke bawah).

Di antara perwujudan paling menghipnotis dari bentuk yang berlawanan itu adalah penggambaran terkenal dari dewa Hindu, Siwa, yang menyamar sebagai Nataraja (Dewa Tarian), yang badannya tertata secara koreografi dan mengesankan bentuk heksagram.

Jika dibandingkan dengan Nataraja, foto Azimi dan enam muridnya ini bisa mengandung makna 'mendobrak aturan' yang potensial.

Dan dengan latar lansekap yang unik seperti gurun dan salju, maka foto ini mengumumkan kelahiran talenta kosmik kuat yang harus diterima oleh dunia: para Perempuan Penari yang tak terkalahkan.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Why the shape of this photo has meaning in Ancient Asian art di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait