Zoroastrianisme: Agama asing yang mempengaruhi Barat

Simbol Zoroastrianisme di Kuil Api di Yazd, Iran. Hak atas foto Jeremy Woodhouse
Image caption Simbol Zoroastrianisme di Kuil Api di Yazd, Iran.

Agama ini telah mempengaruhi Star Wars dan Game of Thrones. Berbagai karakter mulai dari Voltaire, Nietzsche dan Freddie Mercury juga menyebut agama ini sebagai inspirasi. Apa itu Zoroastrianisme?

Pembahasan tentang 'kami' dan 'mereka' telah lama mendominasi isu terkait politik Iran di Barat.

Pada saat bersamaan, Kristen sejak lama digunakan untuk mendefinisikan identitas dan nilai-nilai di AS dan Eropa, dan mengkontraskan nilai tersebut dengan nilai-nilai Timur Tengah sebagai sesuatu yang 'berbeda'.

Namun dengan melihat agama kuno — yang sampai sekarang masih dipraktikkan — kita bisa melihat bahwa apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai nilai-nilai ideal, kepercayaan dan budaya Barat, malah berakar di Iran.

Para pakar percaya bahwa nabi Iran kuno Zarathustra (di Persia dikenal sebagai Zartosht dan di Yunani sebagai Zoroaster) hidup antara 1.500 dan 1.000 SM.

Sebelum Zarathustra, orang Persia kuno memuja dewa-dewa dari agama Iran-Arya lama (pararel dengan agama Indo-Arya baru yang kemudian kenal sebagai Hindu). Namun Zarathustra mengecam praktik ini, dan bersabda bahwa hanya Tuhan saja — Ahura Mazda, Tuhan Kebijaksanaan — harus dipuja.

Dan dengan melakukan itu, dia bukan saja berkontribusi pada pemisahan besar antara Iran dan India Arya, tapi juga mengenalkan manusia pada keyakinan monoteistik pertama.

Gagasan akan Tuhan yang Esa bukan hanya satu-satunya ajaran Zoroastrianisme yang masuk ke berbagai agama besar lain, terutama 'tiga besar': Yahudi, Kristen dan Islam.

Konsep surga dan neraka, hari akhir dan kiamat dunia, serta malaikat dan iblis semua berakar pada ajaran Zarathustra, dan kitab-kitab terakhir Zoroaster yang menginspirasi agama-agama tersebut.

Bahkan ide akan setan adalah pemikiran Zoroaster; bahkan keseluruhan keyakinan Zoroastrianisme berdasar pada pergulatan antara Tuhan dan kekuatan kebajikan serta cahaya (diwakili oleh Roh Kudus, Spenta Manyu) dengan Ahriman, yang mewakili kekuatan jahat dan kegelapan.

Meski manusia harus memilih di sisi mana dia akan berpihak, agama itu mengajarkan bahwa pada akhirnya, Tuhan akan menang, dan bahkan mereka yang terkutuk di api neraka akan menikmati Surga (ungkapan lama Persia).

Hak atas foto Tim Gerard Barker
Image caption Pahatan di pintu tembaga yang menggambarkan sosok Zoroaster. Zoroaster hidup antara 1.500 dan 1.000 SM tapi beberapa pakar menyatakan bahwa dia mungkin hidup di era kaisar Persia, Koresh yang Agung dan Darius I.

Bagaimana ide-ide Zoroaster muncul ke agama-agama Ibrahim dan agama lainnya? Menurut para pakar, banyak dari konsep-konsep ini dikenalkan ke orang Yahudi di Babilonia setelah dibebaskan oleh kaisar Persia, Koresh yang Agung.

Kepercayaan ini kemudian masuk ke pikiran-pikiran Yahudi utama, dan sosok seperti Beelzebub pun muncul.

Dan setelah Persia menguasai daerah-daerah Yunani pada masa Kekaisaran Achaemenid, filsafat Yunani Kuno pun mengambil arah berbeda.

Orang-orang Yunani Kuno percaya manusia hanya punya sedikit pilihan, dan nasib mereka tergantung pada banyak dewa-dewa, yang bertingkah sesuai kesenangan mereka saja.

Namun, setelah perkenalan mereka dengan agama dan filsafat Yunani, mereka mulai merasa bahwa nasib ada di tangan mereka sendiri, dan keputusan ada di tangan mereka.

Meski awalnya Zoroaster adalah agama negara Iran dan dipraktikkan secara luas di daerah-daerah yang dikuasai oleh orang-orang Persia (seperti Afghanistan, Tajikistan dan sebagian besar Asia Tengah), Zoroastrianisme kini menjadi agama minoritas di Iran, dan hanya memiliki sedikit penganut di seluruh dunia.

Namun lain ceritanya bagi warisan budaya agama ini. Banyak tradisi Zoroaster yang terus muncul dan membedakan budaya Iran, dan di luar Iran, agama ini juga memiliki dampak yang penting, terutama di Eropa Barat.

Rapsodi Zoroaster

Berabad-abad sebelum Komedi Ketuhanan Dante, Kitab Arda Viraf sudah menggambarkan secara detail perjalanan ke Surga dan Neraka.

Mungkinkah Dante mendengar tentang laporan perjalanan kosmik Zoroaster ini, yang versi akhirnya muncul pada abad 10 Masehi?

Kemiripan antara dua karya ini terlihat unik, tapi kita hanya bisa menawarkan hipotesis.

Hak atas foto Stefan Auth
Image caption Zoroaster berdoa di kuil api, seperti yang satu ini yang ada di Yazd, Iran — mereka percaya bahwa api dan air adalah zat kembar dalam kemurnian dan penting untuk ritual penyucian.

Namun di tempat-tempat lain, 'hubungan' Zoroaster ini tampak lebih jelas. Nabi Iran ini muncul memegang bola dunia yang berkilau di lukisan Raphael, Mazhab Athena Abad 16.

Begitu pula pada Clavis Artis, karya ilmu kimia kuno Jerman dari akhir abad 17 atau awal abad 18, yang didekasikan untuk Zarathustra, dan menampilkan beberapa penggambarannya dengan tema Kristiani.

Zoroaster "dipandang [oleh Kristen Eropa] sebagai sosok ajaib, filsuf dan astrolog, terutama setelah Abad Renaisans," kata Ursula Sims-Williams dari School of Oriental and African Studies di University of London.

Kini, menyebut nama Zadig mengingatkan kita pada label mode Prancis, Zadig & Voltaire.

Meski pakaiannya bukan gaya Zoroaster, namun kisah di balik namanya menyiratkan agama itu. Ditulis di pertengahan abad 18 oleh Voltaire, Zadig mengisahkan seorang pahlawan Persia Zoroaster yang termasyhur, yang setelah melewati serangkaian ujian dan kesulitan, menikahi seorang putri Babilonia.

Meski kadang suka melompat-lompat dan tak berdasar pada sejarah, kisah filosofis Voltaire ini tumbuh dari ketertarikan akan Iran yang juga dimiliki oleh pemimpin Zaman Pencerahan lainnya.

Saking terpesonanya Voltaire dengan budaya Iran, sampai-sampai di lingkaran pergaulannya dia dikenal dengan 'Sa'di'.

Dengan semangat yang sama, Diwan Barat-Timur dari Goethe yang didedikasikan untuk penyair Persia, Hafez, juga menampilkan bab bertema Zoroaster, sementara Thomas Moore mengenang nasib penganut Zoroaster di Iran lewat Lalla Rookh.

Hak atas foto Eric Lafforgue/Art in All of Us
Image caption Menara Kebisuan, seperti yang ada di Yazd, Iran, tempat penganut Zoroaster meninggalkan jenazah kerabatnya untuk dimakan oleh burung bangkai.

Warisan Zoroaster bukan hanya ada di kesenian atau sastra Barat; kepercayaan kuno ini juga muncul dalam penampilan musik di panggung-panggung Eropa.

Selain karakter Sarastro, libretto di Seruling Ajaib Mozart juga penuh dengan tema Zoroaster, seperti kebajikan melawan kegelapan, ujian lewat api dan air, dan pengejaran akan kebajikan dan kebaikan di atas segalanya.

Dan mendiang Farrokh Bulsara - alias Freddie Mercury - juga sangat bangga akan warisan Zoroaster Persia-nya.

"Saya selalu berjalan-jalan seperti layaknya seorang pesolek Persia," katanya dalam sebuah wawancara, "dan, tidak ada yang akan menghalangi saya, sayangku!"

Saudarinya, Kashmira Cooke lewat wawancara pada 2014 juga menceritakan tentang pengaruh Zoroastrianisme di keluarganya. "Keluarga kami sangat bangga menjadi penganut Zoroaster," katanya. "Saya rasa keyakinan Zoroaster [Freddie] membuatnya bekerja keras, bertahan, dan mengejar impiannya."

Api dan es

Dalam dunia musik, tak ada satu contoh yang lebih kuat yang mencerminkan pengaruh Zoroastrianisme daripada Thus Spoke Zarathustra dari Richard Strauss.

Musik inilah yang memberikan dentuman yang menjadi penyangga kuat dalam film Stanley Kubrick, 2001: A Space Odyssey.

Musik latar tersebut terinspirasi dari karya besar Nietzsche dengan judul yang sama, yang mengikuti seorang nabi bernama Zarathustra, meskibanyak ide-ide yang dihasilkan Nietzsche sebenarnya anti-Zoroaster.

Filsuf Jerman itu menolak pembedaan antara kebaikan dan kejahatan yang menjadi karakteristik Zoroastrianisme — dan sebagai seorang ateis, Nietzsche tak menganggap monoteisme berguna.

Terlepas dari Freddie Mercury serta Zadig & Voltaire, ada contoh lain pengaruh Zoroastrianisme dalam budaya kontemporer populer di Barat.

Hak atas foto SuperStock
Image caption Lukisan Mazhab Athena dari Raphael, yang selesai pada 1511, menampilkan sosok, yang jika dilihat secara detail di lukisan yang lebih besar, banyak dianggap oleh sejarawan adalah Zoroaster, memegang bola dunia.

Ahura Mazda menginspirasi nama perusahaan mobil Mazda, selain juga inspirasi atas legenda Azor Ahai — sosok setengah dewa yang menang atas kegelapan — dalam novel Game of Thrones karya George RR Martin, seperti diketahui oleh banyak penggemarnya tahun lalu.

Selain itu, kita juga bisa berargumen bahwa perang kosmik antara kekuatan sisi terang dan gelap di Star Wars, mungkin saja, berasal dari Zoroastrianisme.

Freddie Mercury, penyanyi legendaris dari Queen, terinspirasi oleh keyakinan Zoroaster dari keluarganya yang berasal dari Persia

Terlepas dari semua sumbangannya bagi pemikiran, agama dan budaya Barat, hanya sedikit yang diketahui dari agama monoteistik pertama dunia itu serta pendirinya.

Jika dalam pemikiran umum dan bagi banyak politisi AS serta Eropa, Iran dianggap sebagai kebalikan dari nilai-nilai yang dipercayai dan dijunjung oleh dunia yang bebas, maka warisan budaya dan pengaruh Iran lainnya yang terlupakan, seperti Zoroastrianisme, mungkin memberikan kunci pemahaman, betapa miripnya 'kita' dan 'mereka'.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The obscure religion that shaped the West di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait