The Lost City of Z dan kisah penjelajah yang hilang

poster

Kritikus film Caryn James menyebut film petualangan yang didasarkan pada kisah nyata ini, unik jika dibandingkan dengan film petualangan lainnya.

Pada awal abad ke-20, Percy Fawcett, menjelajah masuk ke dalam hutan Amazon untuk mencari kota emas yang banyak dibicarakan. Mendengar premis itu saja sudah cukup bagi kita untuk penasaran menyaksikan film dinamis karya James Gray, The Lost City of Z. Namun, film ini berhasil tampil berbeda dengan film petualangan standard lainnya, dengan mengedepankan unsur latar belakang budaya dan cara pikir masyarakat ketika itu.

Gary menempatkan Fawcett dalam konteks zaman penjelajahan Inggris, lengkap dengan asumsi orang-orang di sana tentang bagaimana primitifnya orang Amazon. Dengan kelihaian Gray dalam menyutradarai, serta permainan subtil bagai magnet dari Charlie Hunnam sebagai Fawcett, penonton bisa melihat secara menyeluruh perjalanan emosi Fawcett. Kita melihat perubahannya, mulai dari saat Fawcett menjadi korban dari zamannya, hingga menjadi sosok yang 'berbudaya'.

Film ini dimulai dari penggambaran tentang bagaimana masyarakat tidak sepenuhnya menerima Fawcett, yang merupakan seorang tentara. Kita akan menyaksikan adegan-adegan eksyen perburuan rubah, pesta dan di sela-selanya percakapan intim antara Fawcett dan istrinya, Nina, yang dimainkan sangat alami dan elegan oleh Sienna Miller. Dia memanggil sang istri si tembem dan menceritakan kepadanya bagaimana Fawcett merasa dirinya adalah seorang lelaki yang gagal.

Adegan awal ini membangun karakter masing-masing sosok dan gerak film yang tidak begitu cepat. Bahkan pada momen-momen paling dramatis di hutan, Lost City berhasil bertutur dengan cara memikat penonton, bukan melalui adegan-adegannya yang dibuat tegang dan bergerak cepat.

Bagi penonton yang pernah menonton karya Gray sebelumnya, The Immigrant, dan merasa film itu berjalan lamban, mungkin akan merasakan ritme yang sama di film ini. Namun, bagi mereka yang mau bertahan, akan dihadiahi sebuah tontonan petualangan yang luar biasa memperkaya pikiran.

Hak atas foto Amazon Studios
Image caption Penampilan Charlie Hunnam sebagai Fawcett dipuji-puji kritikus.

Keputusan Fawcett menerima tawaran berbahaya Royal Geographical Society untuk pergi ke Bolivia memetakan daerah perbatasan Brasil, karena dia melihat itu sebagai peluang untuk membersihkan nama keluarganya yang telah diporakporandakan ayahnya yang merupakan seorang pejudi. Dia pun meninggalkan Nina, yang memahami pengorbanan itu bisa berbuah baik kepada citra keluarga dalam jangka panjang.

Perjalanan penuh penemuan

Pada ekspedisi, Hunnam menampilkan sosok Fawcett sebagai lelaki yang datar. Di sepanjang perjalanan dia dan timnya dituntun dengan kano oleh orang-orang di Indian Amerika Selatan. Namun, tiba-tiba mereka diserang dengan panah dari pinggir sungai. Fawcett sempat diperlihatkan menyerang orang Indian dengan tangan kosong, dibantu rekan-rekan Inggrisnya sambil menyanyikan lagu patriotik Soldiers of the Queen. Fawcett jelas melihat orang Indian dengan cara berbeda, lebih manusiawi, dibandingkan rekan-rekannya.

Dia juga sempat mendengar rumor tentang kota yang hilang dan menemukan pecahan keramik tua yang menjadi bukti adanya peradaban maju di sana.

Fawcett kemudian mungkin terobsesi dengan kota emas yang disebutnya sebagai Zed. Namun, dia tidak berubah menjadi gila seperti karakter sejenis dalam film-film petualangan lainnya (coba ingat sosok Kurtz dalam Apocalypse Now atau sosok Aguirre dalam Aguirre the Wrath of God). Bahkan saat berada di Amazon, dia terus merindukan istri dan anak-anaknya.

Dan ketika Fawcett berpidato di hadapan Royal Geographical Society saat kembali ke Inggris, dia memegang pecahan keramik yang ditemukannya, memperlihatkan betapa banyaknya dia telah berubah. Dia dicemooh ketika mengatakan peradaban di Amerika Selatan lebih maju dibandingkan Inggris. Fawcett pun menyebut rekan-rekannya telah terjerat dan terlalu fanatik pada gereja.

Hak atas foto Amazon Studios
Image caption Adegan ketika Fawcett kembali ke Amazon bersama puteranya.

Film ini berlanjut dengan Fawcett yang kembali terlibat perjalanan menegangkan ketika memutuskan terjun ke perang dunia pertama, di usianya yang sudah mendekati setengah abad. Gray menggambarkan adegan perang, dengan set besarnya dengan kemahiran dan ketenangan. Lost City terus melanjutkan ambisi cerita sejarah epik yang sebelumnya ditampilkan The Immigrant. Di sana Marion Cotilard berperan sebagai perempuan Polandia yang dipaksa menjadi pelacur di New York pada abad ke-20.

Perjalanan ke dalam

Dengan penata kamera Darius Khondji, Gray menciptakan tampilan the Lost City lebih temaram. Setiap adegan dikomposisi dengan anggun: tone kecokelatan mewarnai adegan-adegan di Eropa, sementara warna hijau di hutan dikurangi. Film ini tidak bernuansa seperti film fantasi penuh warna.

Adegan-adegan di Bolivia yang disyuting di Kolombia, dibuat sekasar mungkin membuat orang merasa bahwa serangga benar-benar akan lewat di depan mereka.

Gray memang mensyuting Hunnam dengan tampilan yang agak glamor bagaikan bintang. Tetapi Hunnam, yang terkenalkan lewat serial Sons of Anarchy, membuktikan dia adalah aktor dengan kedalaman akting. Dia menampilkan Fawcett dengan berbagai lapisan emosi dengan sempurna.

Pada 1925, anak sulung Fawcett, Jack (Tom Holland, yang memainkan perannya dengan kuat tetapi juga terlihat lugu) bergabung dengan ayahnya dalam perjalanan mencari kota emas Z itu. Saat itu mereka sudah punya banyak saingan. "Orang-orang Amerika akan datang ke sini, membawa senapan mereka. Kita harus berdoa mereka tak akan membunuh orang-orang Indian," kata Jack pada ayahnya.

Pada kenyataannya, Fawcett dan Jack menghilang dalam perjalanan itu. Tidak ada yang tahu nasib mereka. Buku laris karya David Grann, yang merupakan inspirasi bagi film ini, memberikan solusi argumentatif tentang misteri hilangnya kedua orang itu. Namun, dalam film buatan Gray ini endingnya lebih ambigu. Gambar terakhir film ini bahkan amat indah dibayangkan.

Perjalanan imajinatif Gray ke dalam karakter Fawcett, benar-benar membentuk film yang emosional ini. Meskipun Fawcett memiliki pandangan maju tentang orang Indian, dia selalu melihat sesuatu secara tiga dimensi. "Kuatlah," katanya kepada putranya ketika mereka dikepung oleh orang-orang Indian. "Kalau belum waktunya, kita pasti akan baik-baik saja."

★★★★☆

Anda bisa menyimak versi bahasa Inggris dari artikel di atas, berjudul The lost city of Z and the explorers who vanished di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait