Gambaran sejarah mengerikan yang meramal kiamat

Augsburg Book of Miraculous Signs mengungkapkan cerita masyarakat abad ke-16 yang dicengkeram kecemasan - perasaan yang juga bisa kita kaitkan dengan situasi abad 21, tulis Rebecca Laurence.

Belalang raksasa berkerumun di sekitar gunung laut. Paus dan binatang buas besar menggelepar di tengah lautan yang penuh badai. Dan, langit hitam menurunkan hujan es dan darah. Penglihatan aneh dan mengerikan ini ditemukan di dalam Augsburg Book of Miraculous Signs yang disebut juga sebagai Kitab Keajaiban.

Ini adalah manuskrip dengan ilustrasi indah yang dibuat di sebuah kota di Jerman pada pertengahan abad ke-16, namun baru-baru ini ditemukan dan sekarang disusun kembali dalam sebuah edisi baru, oleh Till-Holger Borchert dan Joshua P Waterman.

Bola-bola emas

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

"Saya ingat ketika pertama kali melihat gambar secara langsung," kata Till-Holger Borchert kepada BBC Culture, "Saya sangat terpesona dengan kombinasi kesederhanaan dan keindahan yang secara sistematis menggambarkan malapetaka sepanjang masa."

"Gambar memukau ini pastinya disampaikan kepada para pembaca - yang melihat pertama kali dengan rasa kagum akan perkembangan bencana dan keajaiban dari awal sejarah sampai akhir zaman, seperti yang kemudian dipahami," catat Waterman.

Bagian pertama buku ini menyangkut Perjanjian Lama, sementara yang kedua berisi kisah yang terkait zaman purba sampai pertengahan tahun 1500an, saat buku itu diproduksi. Buku berakhir dengan cerita dari Kitab Wahyu.

Merasakan sensasi terbakar

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

Setiap gambar, seperti 1009 - Burning torch, disertai dengan keterangan yang suram: "Pada tahun 910 SM, matahari menjadi gelap dan bulan terlihat seperti darah, dan sebuah gempa besar terjadi, dan di sana jatuhlah dari langit dengan suara nyaring dan memekakkan obor besar yang terbakar. Ini diikuti dengan kematian banyak orang dan kelaparan di seluruh Jerman dan Italia. Lebih banyak orang meninggal daripada yang hidup."

Mengacu pada ramalan kuno, alkitabiah dan kontemporer dalam urutan kronologis, Kitab Keajaiban ini membangun struktur mapan yang serupa dengan buku-buku ramalan kontemporer lainnya. Ini adalah tradisi yang menyoroti periode penataan sejarah melalui tanda dan visi akhir zaman. "Saat mempelajari seri ilustrasi yang unik ini," kata Waterman, "penting untuk mengingat prinsip penataan sejarah dunia Kristen."

"Obsesi abad 16 terhadap tanda-tanda ajaib dimulai dalam agama, khususnya dalam pergolakan Reformasi Protestan," catatnya. Borchert setuju. "Dewan-dewan abad pertengahan telah meninggalkan Kekristenan dalam keadaan tidak kukuh, dan Reformasi mencoba untuk mengisi kekosongan itu," jelasnya.

"Ada perasaan umum dan mendesak tentang kehidupan akhirat dan cara terbaik untuk menjamin nasib seseorang." Munculnya perasaan yang meluas dan cepat tentang kemungkinan munculnya bencana "menciptakan lingkungan kegelisahan di mana tanda-tanda ajaib itu memainkan peran penting."

'Bokong Paus'

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

Banyak gambar dalam buku ini, seperti monster Tiber 1496, berasal dari cerita rakyat kontemporer: seekor monster disebut telah ditemukan di Roma, di tepi Sungai Tiber setelah banjir 1496.

Namun, Waterman mengatakan bahwa binatang itu juga menjadi "contoh penting" dari fenomena penggunaan cerita untuk kepentingan "propaganda atau pemicu polemik."

Pada tahun 1523, Martin Luther dan rekannya Philipp Melanchthon menerbitkan sebuah pamflet dimana mereka menggambarkan makhluk mirip keledai itu sebagai 'Papal Ass' atau 'Bokong Paus' - untuk menyimbolkan korupsi gereja Katolik Roma.

"Para ahli telah mengidentifikasi kemiripan apokaliptik yang kuat dalam pemikiran Martin Luther dan awal Lutheranisme secara umum," jelas Waterman, "sebagian didorong oleh keyakinan bahwa anti-Kristus hadir di bumi sebagai pribadi Paus."

Tetapi meskipun Lutheranisme akhir zaman membantu menempatkan Augsburg Book of Miracles dengan kukuh pada masanya, versi polemik kisah monster Tiber dari Luther, jelas Waterman, sama sekali tidak ada dalam dokumen tersebut.

"Augsburg adalah kota kekaisaran yang bebas, sehingga langsung tunduk pada Kaisar Romawi Suci ... Oleh karena itu, polemik anti-Katolik sama sekali tidak menguntungkan elite Augsburg."

Paus Lisbon

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

"Pada tahun 1531, pada tanggal 26 dan 28 Januari, tanda-tanda berdarah dan mengerikan terlihat di malam hari di langit di Lisbon di Portugal dan kemudian seekor paus besar terlihat di langit. Ini diikuti oleh gempa besar, sehingga sekitar dua ratus rumah roboh dan lebih dari seribu orang terbunuh. "

'Paus Lisbon' menunjukkan bagaimana cerita disebarkan di seluruh Eropa melalui media termasuk surat dan pamflet, yang oleh Waterman digambarkan sebagai "bentuk awal jaringan berita modern," yang disebarkan di sepanjang rute perdagangan yang ada.

Dia mengutip 'Fugger newsletter' (Fuggerzeitungen) - yang dinamai menurut keluarga Fugger berbasis di Augbsurg - sebagai contoh utama dari "surat kabar tulisan tangan dengan laporan peristiwa penting di Eropa dan luar negeri, termasuk bencana dan fenomena ajaib."

Penampakan paus Lisbon, yang diikuti oleh beberapa bencana, merupakan salah satu kisah di mana berita tersebut pertama kali ditayangkan melalui surat dan kemudian dicetak dan diilustrasikan, termasuk Augsburg Book of Miracles.

Makhluk angkasa

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

"Pada tahun 1506, sebuah komet muncul selama beberapa malam dan menampakkan ekornya ke arah Spanyol. Pada saat itu, banyak buah tumbuh tapi semuanya hancur karena ulat atau tikus. Nasib buruk ini juga terjadi delapan dan sembilan tahun kemudian, di negara ini dan juga di Italia, mengalami gempa bumi yang begitu hebat sehingga di Konstantinopel banyak bangunan runtuh dan orang-orang tewas."

Kedekatan dunia kontemporer dengan ramalan astrologi membantu menjelaskan mengapa dokumen seperti Kitab Keajaiban berlimpah dengan gambar matahari dan bulan, dan khususnya komet, yang pada zaman purba dianggap sebagai pertanda malapetaka.

"Penulis seperti Johannes Virdung von HaƟfurt (1463-1538 / 39) menerbitkan ramalan tahunan tentang kejadian dunia berdasarkan penampakan komet dan konjugasi benda angkasa," tulis Waterman, dan dia mencatat bahwa bersamaan dengan sebuah "risalah" tentang itu yang diterbitkan sekitar 1587 di Flanders, Augsburg Book of Miracles mewakili koleksi gambar komet awal yang terbesar.

Gambaran komet dalam Kitab Keajaiban sering kali disertai dengan bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan wabah yang menurut Waterman semuanya "dipahami sebagai bagian dari rangkaian pertanda ilahi yang meramalkan kiamat akan datang dan meminta umat manusia untuk melakukan penebusan dosa bagi mereka."

Hujan es datang!

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

"Pada tahun 1552 Setelah Masehi, pada tanggal 17 Mei, badai dahsyat seperti hujan es turun di Dordrecht di Belanda, sehingga orang-orang mengira Hari Kiamat akan datang, dan itu berlangsung sekitar setengah jam. Beberapa batu beratnya sampai beberapa kilogram. Dan di mana mereka jatuh, mereka memberi bau busuk."

Badai hujan di kota Dordrecht pada tahun 1552 adalah kejadian terbaru yang tercatat dalam Augsburg Book of Miracles. Ilustrasi hujan es dan badai salju dianggap sebagai beberapa penggambaran awal tentang cuaca dalam seni Jerman.

"Cukup biasa memandang bahwa fenomena meteorologi yang ekstrem seperti hujan es, salju dan es bisa menghancurkan tanaman dan menyebabkan kelaparan dan epidemi dengan sendirinya," catat Waterman. Oleh karena itu, dapat dimengerti bahwa bencana alam yang dahsyat ini akan terkait dengan kesadaran apokaliptik pada zaman ini.

Hewan-hewan fantastis

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

Bagian terakhir dari buku ini, yang diilhami oleh ramalan Kitab Wahyu, menurut Waterman adalah, "sebuah contoh yang jelas tentang bagaimana fenomena yang menakjubkan ini sesuai dengan skema runutan sejarah dunia yang komprehensif, yang dipahami sebagai kemajuan dari tindakan penciptaan Allah kepada Kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali."

The Augsburg Book of Miracles adalah kilasan yang menarik menuju suasana takhayul dan ramalan akhir zaman. Namun, alih-alih mengabaikan pandangan ini sebagai kegemaran abad pertengahan yang aneh, Waterman berpendapat bahwa "mudah berempati dengan usaha abad ke-16 untuk memahami kejadian aneh, yang tidak dapat dijelaskan, atau bencana di dunia, bahkan jika pemahaman modern kita berbeda secara drastis."

Era kecemasan

Hak atas foto Book of Miracles / Taschen

Dan, dalam "suasana kecemasan" masyarakat itu, Borchert melihat beberapa hubungan dengan situasi hari ini, bahwa "setiap fenomena cuaca ekstrem dipuja dalam berita sebagai bukti perubahan iklim dan akhir-akhir ini, setiap adanya serangan di mana pun hampir selalu dikaitkan langsung dengan terorisme."

Namun, kekhawatiran tentang fenomena cuaca dan alam ini memberi hubungan yang lebih penting antara pertengahan 1500-an dan masa kini. Waterman mengatakan, "Ketika berpikir tentang bencana lingkungan saat itu dan sekarang, orang menjadi sadar akan ironi yang kejam: dosa manusia dulu pernah dituding sebagai penyebab banjir, badai, dan kekeringan, namun belakangan dipatahkan dengan penjelasan ilmiah di jaman Pencerahan, tapi dengan masalah pemanasan global yang kita miliki sekarang (di mana manusia dianggap berperan), lingkaran itu menjadi penuh kembali."

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul The eerie historical visions that predict the apocalypse atau tulisan lain di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait