Kenapa remaja pemurung menyukai Emily Dickinson

Emily Dickinson Hak atas foto Amherst College Archives

Penggambaran penyair Emily Dickinson sebagai perawan tua yang suka menutup diri dan 'panutan bagi mereka yang pemalu' telah membuatnya menjadi idola bagi orang muda dari beberapa generasi. Namun gambaran akan Emily Dickinson ini salah, tulis Hephzibah Anderson.

Aktris Cynthia Nixon terlihat sangat cocok memerankan Emily Dickinson dalam film mengagumkan karya Terence Davies, A Quiet Passion.

Bukan hanya dari caranya menata rambut — belah tengah, kepangan yang digelung — atau pita di lehernya. Aktris itu tampak memiliki beberapa fitur wajah yang mirip dengan sang penyair. Namun dalam aspek-aspek lain, penggambaran Nixon itu penuh dengan kejutan.

Anda bisa melihatnya di trailer film itu, saat Dickinson dan temannya, seorang proto-feminis yang usil, Vryling Buffam, menganalisis pria-pria sambil berkipas.

Apakah ini Dickinson atau karakter Miranda Hobbes dari Sex and the City (yang juga diperankan oleh Nixon) yang tengah mengenakan baju lama?

Yang pasti, perilaku seperti ini tidak seperti yang dibayangkan orang ketika mereka mengingat sosok paling menutup diri yang paling terkenal dalam sastra.

Kultus akan sosok penyair Amerika abad 19 itu berkutat pada penggambaran sosok yang sangat sempit, yang memperlihatkan bagaimana kita melihat penyair dan, khususnya, penyair perempuan.

Gambaran identitas Dickinson digabungkan dari detil-detil teraneh dalam biografi Dickinson: kesukaannya menggunakan pakaian putih, keengganannya meninggalkan kamarnya, kebiasaannya berbicara pada tamu lewat pintu daripada secara tatap muka.

Hak atas foto Hulton Archive
Image caption Aktris Cynthia Nixon dari Sex and the City memerankan Emily Dickinson dalam film baru Terrence Davies, A Quiet Passion.

Gambaran akan sosok Dickinson ini tampaknya muncul dan bertahan bersamaan dengan tersebarnya puisi-puisinya.

Meski Dickinson menulis hampir 1.800 puisi, hanya 10 yang diterbitkan saat dia masih hidup. Penerbitan penting terjadi setelah kematiannya, pada usia 55 di 1866, dan saat itulah tulisannya langsung mendapat basis penggemar yang kuat.

Pembaca perempuan benar-benar terpesona dan mulai mengunjungi Homestead, rumah Dickinson di Amherst, Massachusetts, yang kini menjadi museum.

Sejak itu, pemikiran bahwa puisi-puisi seperti ini bisa ditulis oleh seorang perawan tua yang menutup diri menjadi sangat menarik — terutama bagi generasi remaja yang canggung dan suka menulis.

Seperti kata Nixon, Dickinson menjadi "panutan bagi orang-orang pemalu". Meski begitu ini baru sebagian cerita, dan film Davies hanyalah satu dari satu proyek kreatif yang menunjukkan sisi lain Emily Dickinson.

Kebenaran yang sebagian dikatakan

"Kita diajarkan bahwa dia adalah seorang perawan tua yang suka mengasingkan diri yang tinggal dengan keluarganya, suka mengenakan baju warna putih, dan menulis seharian di kamarnya," kata seniman Rosanna Bruno mengenang pelajaran di SMA tentang penyair itu, pada 1980an.

Bahkan saat itu pun, Bruno merasa bahwa mitos akan sang penyair tidak konsisten dengan puisi-puisinya.

"(Gambaran sosok Dickinson) seperti tidak cocok dengan apa yang dia tulis," kata Bruno.

"Pernahkah Anda mendengar aktris Helen Mirren membacakan Wild Nights!? Anda benar-benar harus memikirkan ulang sosok Dickinson sebagai perawan tua yang menutup diri setelah pembacaan itu."

Bruno menggambar sebuah kartun untuk salah satu puisi paling terkenal Dickinson, Because I could not stop for Death, dan saat dia membaca lagi karya Dickinson saat berada dalam program beasiswa di koloni seniman di Yaddo, Saratoga Springs, lebih dari 20 tahun lalu, Bruno menggambar lebih banyak lagi.

Hasilnya adalah The Slanted Life of Emily Dickinson, sebuah novel grafis yang menggambarkan kilasan spekulatif dari kemungkinan isi media sosial Emily Dickinson, yang diterbitkan Maret lalu.

Hak atas foto Michael Mederios
Image caption Kamar tidur Emily Dickinson di rumahnya di Massachusetts - mitos menceritakan bahwa, sama seperti para remaja yang mencintainya, Dickinson enggan meninggalkan kamar ini.

Selain beberapa kartun yang menggambarkan akun Instagram seorang Dickinson ("@recluse1830") dan profil akunnya di situs perjodohan OKCupid ("etnis: seputih pualam"), ada juga beberapa judul buku yang menyoroti obsesi terhadap kehidupan pribadi Dickinson: Her Daily Bread: Emily Dickinson's Silent Struggle with Gluten Intolerance, dan Emily Wiccanson: The Poet and Her 'Craft', yang membahas kemungkinan kedekatannya dengan dunia sihir.

Sosok Dickinson sebagai bintang media sosial mungkin adalah satir, tapi sebagai seorang perempuan muda, penyair itu memang aktif secara sosial.

Bahkan di masa tuanya, dia menjaga dan menjalin persahabatan-persahabatan baru lewat surat-menyurat, dan sebagian diperlihatnya di pameran I'm Nobody! Who Are You? The Life and Poetry of Emily Dickinson di Morgan Library's di New York (salah satu program dalam acara itu adalah pembacaan dan resital oleh Patti Smith dan anak perempuannya, seorang pianis.)

Kurator pameran itu, Carolyn Vega, sudah menyukai Dickinson sejak lama.

"Meski benar bahwa dia menarik diri dari masyarakat, namun dia juga sangat terhubung ke dunia lewat keluarganya, persahabatannya, mentor sastranya dan para editor. Dia juga sangat banyak membaca dan sadar akan realita politik, termasuk Perang Saudara AS, yang terjadi di sekitarnya. Tak benar bahwa dia hidup terisolasi," kata Vega.

Dan tak benar juga bahwa Dickinson menulis sendirian: seperti ditunjukkan dalam pameran itu, dia juga mengirimkan ratusan puisi ke lingkaran teman terpilih dan para editor.

"Dia tidak malu atau ragu-ragu untuk membagikan karyanya pada mereka."

Hak atas foto Amherst College Archives
Image caption Sejumput rambut penyair itu termasuk dalam benda pribadi, naskah dan artefak lain yang dipamerkan di Morgan Library di New York City.

Dickinson memang kemudian memilih isolasi secara fisik, namun keliru untuk berpikir bahwa rasa malu atau menutup dirilah yang mendasari pilihan itu.

Seperti kata Paul Hetherington, seorang pakar Dickinson dan profesor penulisan di University of Canberra, 'Citra bahwa Dickinson adalah seorang eksentrik yang menutup diri terus membayangi, dan mengganggu pembacaan kita akan karya-karyanya, karena kemudian gambaran itu memisahkan dia dari arus utama dan menempatkannya dalam peran pendamping pengantin perempuan, tak cocok dengan kehidupan yang lebih ramai dan selalu berada di pinggiran".

Tetapi, kata Hetherington, dengan tinggal di rumah ayahnya yang nyaman memberi Dickinson kesempatan, di dunia yang sangat patriarkal, "untuk berbicara secara terbuka soal cinta, hasrat dan berbagai pemikiran akan pengabdian dengan cara yang tak mungkin dilakukan oleh penyair abad 19 lainnya. Mungkin dia adalah penyair modern pertama dalam sastra Inggris."

'Gadis poster'

Penulis dan akademisi Dr Cassandra Atherton sepakat.

"Mitologi akan Dickinson sering keliru dipahami oleh pakar dan guru. Dia sangat jauh dari terperangkap di rumah ayahnya, Dickinson adalah seorang penyair cemerlang dan subversif yang pemberontakannya bisa dilihat dalam perlawanannya terhadap masyarakat patriarkal dan upaya mereka membatasinya sebagai seorang perempuan intelektual."

Seperti halnya Bruno dan Vega, Atherton sudah sejak lama menyukai puisi Dickinson.

"Emily Dickinson adalah gadis poster saya," katanya mengenang masa remajanya. Dia bahkan bersekolah menggunakan pakaian putih dengan rambut dibelah tengah dan digelung di belakang seperti penyair itu.

"Dickinson adalah seorang pengamat yang tajam — peran yang saya rasa harus saya jalani sebagai remaja, dan dia mengambil tema-tema seperti pentingnya diri sendiri, selain juga rasa sakit dan penderitaan, cinta dan kematian, semuanya adalah hal penting dalam pengalaman saya saat tumbuh besar."

Kecintaan itu tidak memudar saat dewasa — dia bahkan memiliki (dan menggunakan) pemotong adonan kue berbentuk Emily Dickinson.

Bagi orang lain, mitos tersebut menghilangkan minat mereka.

Penulis drama dan pembuat film Madeleine Olnek kehilangan ketertarikan setelah di SMP mendengar bahwa Dickinson adalah seorang agorafobik atau takut berada di tempat-tempat yang membuat panik.

Sebagai seorang lajang yang baru lulus kuliah, Olnek akan mengatakan bahwa dia berharap menjadi "Emily Dickinson versi komedi" — karena Dickinson bukanlah orang yang lucu.

Setidaknya dia sempat berpikir begitu. "Kemudian saat saya meneliti tentang dia, saya sangat, sangat terkejut ketika mengetahui bahwa dia lucu — hal-hal yang dia katakan itu membuat tertawa keras. Dan dia juga menulis hal-hal yang lucu," katanya .

"Bagi saya seorang penulis, ini sangat menarik, bahwa kenyataan akan kehidupan Emily Dickinson sangat berbeda dari apa yang diceritakan tentang dia pada dunia. Buat saya, ini seperti kisah tentang pemasaran seorang seniman, dan bagaimana citra publik yang dibangun bisa menutupi makna sebenarnya dari karya seorang seniman."

Hak atas foto Houghton Library, Harvard University
Image caption I'm Nobody, Who Are You? adalah puisi yang pertama terbit pada 1891, di sini diperlihatkan dalam tulisan tangan Dickinson sendiri.

Olnek sudah mementaskan satu drama tentang Dickinson, dan satu film lagi sedang diproduksi, dan dijadwalkan akan selesai pada awal 2018.

"Saya tidak ingin membocorkan terlalu banyak, tapi film ini membahas tentang hubungan bermakna yang dijalin dan dipertahankan Emily sepanjang hidupnya. Dia selalu digambarkan sebagai penyendiri yang tak pernah keluar dari kamarnya, tapi sebenarnya dia memiliki hubungan-hubungan yang memuaskan dan penuh kasih sayang," katanya.

Film ini adalah drama dengan momen-momen komedi dan Dickinson diperankan oleh aktris Molly Shannon, yang pernah tampil dalam acara sketsa komedi Saturday Night Live.

"Molly adalah seorang penampil sui generis, dengan pikiran yang aktif dan cepat, seperti halnya Dickinson. Butuh keberanian untuk menulis puisi, untuk menuangkan isi kepala pada kertas — terutama seperti yang dilakukan Dickinson, mendahului masanya, dia menciptakan bentuk-bentuk baru — ada rasa tidak gentar, subversif, dan kemauan untuk melintasi batas."

Penelitian Olnek, yang didanai oleh beasiswa Guggenheim, terinspirasi oleh penggunaan teknologi inframerah untuk mengakses kata-kata yang dihapus atau dicoret dalam naskah-naskah Dickinson.

Sebagian besar dari penyuntingan yang banyak ini dilakukan oleh Mabel Todd, simpanan saudara laki-laki Dickinson, Austin.

Secara khusus, Todd sangat ingin menghilangkan penyebutan teman Dickinson, Susan Gilbert, istri Austin — tapi mungkin, lebih banyak lagi yang dihilangkan, menurut Olnek.

Meski temuan-temuan ini menarik, tapi juga menjadi pengingat bahwa kita lebih baik berfokus pada warisan yang ditinggalkan oleh Dickinson: kata-katanya. Dan betapa mengagumkannya kata-kata itu.

Mungkin karya Dickinson lebih baik dirangkum lewat kutipan yang diambil Vega dari Morgan Library dari salah satu surat Dickinson sendiri: "Jika saya merasa seperti bagian atas kepala saya diambil, saya tahu itu adalah puisi."


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Why moody teenagers love Emily Dickinson di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait