Apa yang membuat perang bantal menarik?

Perang Bantal Hak atas foto Getty Images

Ribuan orang di seluruh dunia ikut dalam Hari Perang Bantal Internasional. Tampak menyenangkan — tapi saling timpuk bantal empuk ini sebenarnya punya makna besar, kata Kelly Grovier.

Apa sebenarnya isi bantal? Bukan isinya, tapi sebagai simbol. Pertanyaan ini muncul pada saya ketika berita dan media sosial banyak berisi foto-foto dari 50 kota di seluruh dunia yang melakukan perayaan massal Hari Perang Bantal Internasional, April lalu.

Bersenjatakan hanya dengan bantal masing-masing yang memang siap 'dikorbankan', orang-orang yang tidak saling kenal saling menimpuk satu sama lain dengan bantal yang berisi bulu-bulu, dari Amsterdam sampai Atlanta, Warsawa ke Washington DC.

Semuanya mengatakan bahwa ribuan orang yang berpartisipasi ini hanya bersenang-senang. Tapi kenapa? Apakah ada yang lebih menyenangkan daripada pukulan ke mata?

Sebagai penanda budaya, bantal itu terlihat lembut dan empuk. Bahkan, benda yang diisi bulu atau busa ini terlihat membosankan. Namun, sejak setidaknya abad 16 lalu, bantal terbebani dengan kedalaman makna.

Penulis drama Cina, Tang Xianzu, menceritakan kisah termasyhur tentang seorang pria bijak yang bertemu dengan pelajar muda yang sedang sedih di penginapan, dan menawarkannya bantal ajaib dengan mimpi-mimpi paling nyata dari hidup yang tampaknya lebih memuaskan.

Saat si pria muda itu terbangun dan menyadari bahwa mimpi 50 tahunnya yang memuaskan itu terjadi hanya saat tidur siang, kesan kita akan kekuatan bantal ini berubah, dari terkesan menjadi ketakutan.

Penulis-penulis berikutnya juga telah menggunakan bantal sebagai lebih dari sekadar metafora untuk kenyamanan tidur.

Saat novelis abad 19 Charlotte Brontë dengan puitis mengamati bahwa "pikiran yang terganggu menjadikan bantal gelisah", dia tidak hanya mengacaukan aturan tata bahasa yang biasa soal kata sifat dan kata beda, namun juga membalikkan sintaks kalimat tersebut untuk mengaburkan batasan antara pikiran dan kenyataan — antara yang beristirahat dan tempat istirahat.

Dalam kalimat Brontë, bantal dan pikiran berganti posisi dan, untuk sesaat, menjadi satu substansi.

Mungkin ini adalah trik yang dia pelajari dari filsuf Renaisans, Montaigne, yang pernah berkeras (dengan ketidaknyamanan) bahwa "ketidaktahuan adalah bantal terlembut tempat seseorang bisa mengistirahatkan kepalanya".

Lewat pemikiran Montaigne yang multi-tekstur, kecerdasan dan kebahagiaan saling berhadapan selamanya dalam perang bantal eksistensial yang hanya bisa dimenangkan oleh salah satunya.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bulu-bulu beterbangan di Dam Square di Amsterdam saat orang-orang berpartisipasi dalam Hari Perang Bantal Internasional.

Dengan logika Montaigne, tak ada yang namanya tidur bagi mereka yang pintar, hanya bagi mereka yang bodohnya tak terkalahkan.

Dengan kata-kata Tang, Brontë, dan Montaigne dalam otak kita, kita mungkin bisa dengan lebih mudah melihat daya tarik saling timpuk global yang terjadi pada Hari Perang Bantal Internasional, April lalu.

Seperti ritual pelepasan, hari perang bantal tahunan internasional itu menjadi semacam pembersihan, menghapus omong kosong keseharian: pengosongan otak secara kolektif sedunia.

Daripada menjadikannya tempat beristirahat, bantal menjadi simbol subliminal akan pikiran berat: jangkar yang memberatkan jiwa dunia — dan itu harus diringankan bebannya.

Hak atas foto Chris 9/Flickr
Image caption Bantal yang terikat tergantung seperti pendulum di karya Robert Rauschenberg dari 1959, Canyon.

Ketegangan antara bulu-bulu yang menempel dan yang terlepas keluar menghidupkan lagi karya besar seni modern: karya multimedia Robert Rauschenberg yang penuh teka-teki, Canyon, yang dibuat pada 1959.

Berada di antara lukisan dan pahatan, kolase dan ready-made, Canyon masuk dalam kumpulan karya Rauschenberg yang idiosinkratis, 'Combines'.

Dengan latar kumpulan foto acak, coretan abstrak, dan perca, badan elang gundul yang sudah diawetkan bertengger di atas kotak kecil, yang juga bertahan di atas potongan kayu yang muncul — bulu-bulu dari sayap burung yang mengepak seperti siap-siap akan terbang.

Namun sensasi yang kita dapat dari gerakan keluar yang mengangkat karya itu seperti diseimbangkan dengan beban yang aneh dan tak terukur dari bantal yang tergantung secara surealis di bawah dari bagian dasar Combine — tergantung seperti bandul dari jam yang berhenti.

Dalam karya Rauschenberg, bantal bukan sekadar beban penyimbang, tapi menggambarkan pertentangan antara keinginan jiwa untuk bebas dan kekuatan yang menarik semuanya kembali ke Bumi.

Jika dilihat berdampingan dengan foto Hari Perang Bantal, Canyon mengingatkan kita apa yang terjadi jika kita tak pernah berhenti sejenak untuk bersenang-senang.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The strange allure of pillow fight di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait