Saat seorang juru kamera membantu anak-anak yang terluka di Suriah

foto Hak atas foto Baladi News/Muhammad Alrageb
Image caption Fotografer asal Suriah, Abd Alkader Habak, menggendong seorang anak ke tempat aman setelah sebuah konvoi bis yang membawa pengungsi dari kampung-kampung di Suriah dibom.

Beberapa foto terbaru menunjukkan seorang fotografer Suriah menyingkirkan kameranya untuk menyelamatkan anak-anak yang terluka di sebuah pengeboman. Hal ini mengingatkan kita pada potret pengorbanan diri yang terlupakan.

Dalam teori, seorang seniman dan wartawan tidak banyak memiliki kesamaan kecuali keinginan untuk berkomunikasi. Saat diri seorang seniman tidak akan pernah dapat dilepaskan dari karyanya ("bagaimana kita dapat mengetahui siapa penari dari tariannya?", seperti yang pernah ditanyakan penyair Irlandia William Butler Yeats), etika jurnalistik mendikte bahwa identitas seorang wartawan harus tidak pernah mengganggu cerita yang disampaikannya.

Yang satu adalah lambang subjektivitas, yang lain objektivitas. Namun teori itu dapat dibantah saat sebuah foto yang terekam di luar kota Aleppo di Suriah mengungkapkan sesuatu dengan tajam.

Dalam sebuah adegan kehancuran, saat sebuah bom baru saja menimbulkan kekacauan, jurnalis foto Suriah bernama Abd Alkader Habak harus memilih antara memisahkan diri dari peristiwa yang sedang terjadi atau menyingkirkan kameranya dan bertindak.

Di hadapan Habak ada seorang anak telungkup, terlempar dari ledakan. Anak itu tampaknya dianggap sudah tewas oleh orang yang melintas, namun Habak mulai memperhatikan bocah laki-laki itu ketika tangannya terlihat sedikit bergerak.

Dalam sekejap, Habak berlari sambil menggendong anak laki-laki itu menuju sebuah ambulans untuk menyelamatkannya. Tak lama kemudian, dia kembali lagi ke lokasi ledakan demi menyelamatkan seorang anak perempuan yang sedang menangis meminta bantuan.

Habak terekam kamera saat dia berlari. Pewarta berita akhirnya menjadi yang diberitakan, orang yang mengambil gambar menjadi gambar. Foto Habak menyelamatkan anak-anak ini mengingatkan potret lain akan kemanusiaan yang heroik.

Pada 1854, pelukis Inggris, John Everett Millais, terpanggil untuk melestarikan sebuah citra keberanian yang dia yakin tak akan dikenal orang jika tidak dilakukan. Hasilnya adalah sebuah profil keberanian yang dapat membantu mendefinisikan ketidaktakutan dalam imajinasi populer bagi sebuah generasi.

Terpukau dengan pemandangan sebuah nyala api di langit pagi, Millais meminta supir taksi untuk mengarah ke tempat api berasal.

Saat seniman dan saudaranya tiba di lokasi kejadian, dia terpaku oleh kegagahan sepasang petugas pemadam kebakaran, berdiri di atas balok yang semakin rentan ("dua siluet hitam menantang nyala api", seperti dikatakan saudara Millais) dan membasmi api dengan selang, ketika atapnya mendadak runtuh - "membawa serta dua orang pemberani itu".

Hak atas foto Wikipedia
Image caption John Everett Millais melukis The Rescue (1855) setelah menyaksikan kematian seorang pemadam kebakaran saat bekerja.

Tergerak oleh kejadian yang mengerikan itu (dan teriakan horor tengah kobaran api), Millais bertekad untuk menghargai pemadam kebakaran tanpa tanda jasa itu, dengan mengatakan bahwa"para prajurit dan pelaut sudah pernah dipuji di atas kanvas seribu kali. Gambar saya selanjutnya terdiri dari pemadam kebakaran."

Untuk itu, Millais dengan susah payah merekonstruksi di studionya atmosfer dari adegan yang membara, membuatnya tampak seasli mungkin dari lembaran kaca berwarna dan papan kayu yang terbakar guna menangkap rasa takut terkurung asap dan ketakutan.

Hasilnya adalah potret gemerlap The Rescue (1855). Millais mempekerjakan seorang model untuk memerankan peran pemadam kebakaran yang kekar, tubuhnya yang seakan dipahat dibebani tiga anak-anak: dua di punggungnya dan satu di lengannya.

Pada tahun-tahun berikutnya, Millais akan mengambil setiap kesempatan yang dia miliki untuk menemani temannya, kepala pasukan pemadam, menuju peristiwa kebakaran yang terjadi di London, yang tak terhitung jumlahnya.

Itu adalah masa ketika regu pemadam kebakaran merupakan institusi publik, yang didedikasikan untuk melindungi hidup manusia daripada sekedar menyelamatkan bangunan dari kerusakan.

Ketika disandingkan dengan foto terbaru dari Suriah, The Rescue dapat dilihat sebagai jenis fantasi potret diri seniman yang melakukan apa yang tak dapat dilakukan Millais pada pagi itu - dan apa yang dilakukan Habak, yaitu menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih vital dan berharga dibanding gambar apapun.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diThe moment a photographer helped injured child, atau artikel lain dalam BBC Culture

Berita terkait