Inikah galeri seni paling menyeramkan di dunia?

Katakomba San Gaudioso di Napoli Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Di bawah Basilika Santa Maria della Sanità terdapat galeri dari potret menyeramkan ini.

Katakomba San Gaudioso di Napoli menyimpan beberapa fresco paling mengerikan di dunia. Tapi kenapa kaum bangsawan abad 17 menginginkan potret mereka dilukis di sekeliling tengkorak mereka sendiri? Amanda Ruggeri mencari tahu.

Tampaknya wajar untuk mempertanyakan apakah Giovanni Balducci - seorang pelukis yang berlatih di bawah didikan Vasari, yang karyanya meliputi fresco interior Galeri Uffizi, Katedral Volterra dan Il Duomo di kotanya, Firenze - pernah bertanya, bagaimana kariernya bisa berakhir seperti ini.

Pada awal abad 17, Balducci sedang bekerja di Napoli. Dia mengerjakan proyek lukisan potret para putri, pejabat hukum dan hakim di Basilika Santa Maria della Sanità, sebuah gereja yang baru dibangun di kawasan Rione Sanità.

Meski begitu, potret-potret ini cukup unik. Semua subjeknya sudah meninggal - dan Balducci membuat fresco atau lukisan dinding potret mereka serta pemandangan latar di sekitar tengkorak, yang kemudian ditempelkan ke dinding.

Bahkan sampai hari ini pun, hanya sedikit orang yang mengetahui keberadaan 20 fresco yang berjajar sepanjang 30m di terowongan di katakomba San Gaudioso, di bawah basilika tersebut.

Sampai 10 tahun lalu, tempat ini tidak dibuka untuk umum.

Namun pada 2006, anak muda dari Rione Sanità meluncurkan kerjasama kebudayaan La Paranza untuk mendorong insentif ekonomi ke kawasan yang biasanya hanya dikenal soal kejahatan dan kaitannya dengan Mafia, lewat upaya perlindungan terhadap kawasan warisan budaya.

Sampai sekarang kelompok tersebut masih mengelola katakomba itu dan telah mendanai beberapa restorasi lain, termasuk mempertahankan lukisan dinding.

Meski tak banyak diketahui, namun terowongan ini pastilah salah satu galeri seni paling menyeramkan di dunia.

Selama berabad-abad, sebagian besar fragmen tulang jatuh terkikis, namun apa yang tersisa tetap membuat merinding.

Pada salah satu potret, ada dua putri yang berdiri berdampingan, di atas lukisan rok gembung mereka ada tulang iga dari jasad mereka.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Dulunya ada kepala manusia di lubang-lubang ini.

Pada lukisan lain, seorang pejabat hukum berdiri, kakinya terpisah, jubah biru terbuka dan menunjukkan tengkorak di dalamnya. (Tulisan di sekitar kepalanya terbaca, "Diligete iustitiam qui iudicatis terram": Cintai kebenaran, kamu yang menjadi hakim di Dunia). Dan sosok lain bersandar pada pedang.

Mereka dulunya adalah anggota keluarga-keluarga terkaya di Napoli; dan kini, di bagian yang seharusnya adalah kepala mereka, yang ada hanya lubang.

Setelah waktu berlalu, wajah mereka menjadi tengkorak dan kemudian, hilang, karena hancur. Waktu menghapus mereka yang terkaya dan paling mulia di antara kita.

Salah satu yang tergerak oleh tontonan kematian dan persamaan ini adalah Totò, seorang aktor Italia yang lahir pada 1898 yang meski terkenal dari 97 film komedinya, juga seorang penyair.

Totò yang besar di Rione Sanità, sering mengunjungi katakomba San Gaudioso.

Di sinilah, katanya, dia mendapat inspirasi untuk puisinya yang paling terkenal, 'A Livella' di mana naratornya berhadapan dengan roh yang bertengkar dari dua jenazah yang dibaringkan bersebelahan; seorang bangsawan dan seorang pengumpul sampah rendahan.

'Kasta adalah kasta dan harus, sepatutnya, dihormati,' kata si bangsawan memarahi tetangganya.

"Tak bisa sedetik lagi saya memaklumi kedekatanmu yang bau."

Namun justru si pengumpul sampah yang memenangkan perdebatan mereka. Dalam dialek Napoli, dia mengatakan,

Kamu pikir kamu siapa...Tuhan?

Di sini, tidakkah kau mengerti bahwa kita adalah setara?

Mati kamu, dan mati pula aku;

Setiap orang, setelah mereka pergi, sama seperti yang lain.

Sikap bangsawan tersebut mungkin dirasakan juga oleh bangsawan lain yang dimakamkan di sana, yang mungkin membayar - dengan satu cara atau lainnya - untuk tempat peristirahatan semacam itu.

"Semua orang kaya ini tercatat sebagai penymbang Santa Maria della Sanità, dan mungkin perlakuan ini adalah bagian dari keuntungan yang mereka terima karena telah menjadi penyandang dana," kata Carlo Avilio dari University of Warwick, yang sudah menulis tentang katakomba.

(Perkumpulan keagamaan biasanya mengelola kapel kecil, dan orang bisa bergabung dengan membayar iuran tahunan. Pola ini masih ada di Napoli, katanya; keanggotaan Anda menjamin doa untuk pengampunan jiwa dan lahan pemakaman Anda di kuburan mereka).

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Potret ini menampilkan keseluruhan tengkorak - tapi disusun menggunakan tulang yang tersisa dari jasad yang berbeda, menciptakan 'penjaga' bagi para arwah.

'Lahar perawan'

Kompleks katakomba tersebut kemungkinan pertama digali sekitar abad 4 SM bukan untuk pemakaman, tapi untuk menggali tuf, batu vulkanik yang digunakan untuk membangun tembok kuat kota tersebut.

Tuf, batu vulkanik yang empuk, bukan hanya mudah digali, tapi juga ditembus - salah satu alasan orang menggali terowongan, tempat penampungan air dan pemakaman di Napoli, selama sedikitnya 2.400 tahun.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Di luar tembok kota, Rione Sanità kini menjadi salah satu kawasan kota yang paling berwarna dan sibuk.

Rione Sanità terletak di luar tembok kota.

Hukum Romawi mewajibkan orang mati dikubur di luar batas suci kota (pomerium) dan kawasan tersebut kemudian menjadi kuburan raksasa, sama seperti tetangganya, katakomba San Gennaro.

Pada abad 5, ritual penguburan yang dilakukan tak lagi pagan, melainkan ritual Kristen - dan salah satu orang paling terkenal yang dikubur di sini adalah Santo Gaudiosus, seorang uskup dari Afrika utara yang mendirikan biara di situ sebelum kematiannya pada 452.

Sama halnya seperti katakomba di lokasi-lokasi lain, orang yang taat beragama ingin menghabiskan keabadian mereka sedekat mungkin dengan orang suci, maka orang-orang pun ingin dikubur di situ.

Begitu pula kesenian yang suci menghias makam mereka, beberapa masih bisa dilihat sampai sekarang, seperti fresco penuh warna dari abad 5 yang menggambarkan Santo Petrus memperkenalkan Pacentius pada Santo Paulus, dan pada makam Gaudiosus, terlihat potret santo itu.

Hak atas foto Sergio Siano
Image caption Mosaik dan lukisan dinding masa awal Kristen yang masih terlihat di makam Santo Gaudiosus.

Kini, katakomba itu berada di bawah tanah - namun ini baru-baru saja. "Kini kita tidak berada 'di bawah tanah'," kata pemandu kami, Miryam Cuomo, saat kami berdiri - di bawah tanah - di pintu masuk katakomba. "Kita berada di kedalaman yang dulunya adalah permukaan tanah Rione Sanità pada abad 5."

Permukaan tanah biasanya terus naik, dan fenomena ini muncul dengan jelas di sini.

Rione Sanità terletak di lembah yang berhadapan dengan lima bukit; saat hujan, lumpur dan bebatuan - yang dengan puitis dinamai lave dei vergini (lahar perawan) - akan meluncur turun.

Setelah abad 9, relik San Gaudioso dan santo lain dipindahkan ke dalam gereja di dalam tembok kota, dan katakomba pun ditinggalkan, lalu terkubur di lava.

Hak atas foto Sergio Siano
Image caption Melihat ke bawah dari jembatan yang melintas dari utara ke selatan di alun-alun, jelas terlihat bahwa Rione Sanità terletak di lembah.

Pada abad 16, saat populasi Napoli tumbuh dan berkembang ke area yang dulunya ditinggalkan, terjadi sesuatu yang aneh.

Arus lahar perawan mendorong bebatuan yang ditinggalkan oleh luncuran sebelumnya - dan membongkar lukisan abad 6 Madonna dan anak, yang merupakan lukisan Bunda Maria tertua yang ditemukan di area tersebut, di Italia selatan.

Maka diputuskan agar sebuah gereja baru, yang dinamai Basilica di Santa Maria della Sanità, dibangun di sana.

Gua yang menyeramkan

Namun butuh uang yang banyak untuk membangun gereja. Untungnya ada praktik yang bisa mendukung pengeluaran itu.

Jenazah para donor gereja yang kaya akan diurus oleh schiattamuorti.

Meski kini kata itu berarti perawat jenazah, namun arti sebenarnya adalah 'membunuh yang sudah mati' dan punya makna lebih.

Mayat akan didudukkan di cantarella, celah berbentuk bangku yang digali pada batu tuf di satu dari tiga ruang bawah tanah; sesekali, schiattamuorto akan turun dan melakukan potongan.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Mayat akan didudukkan di salah satu cantarelle, seperti diperlihatkan di sini, untuk dikeringkan.

"Mereka melakukan ini untuk mengeluarkan cairan tubuh dengan cepat - ini maksudnya darah, organ tubuh, dan semua cairan yang ada di badan kita," kata Cuomo. Dia berhenti. "Cukup seram buat Anda?"

Meski kedengarannya berdarah-darah, dan terkesan tak biasa - saat itu, jenazah biasanya akan dikubur di gereja tanpa perlakuan apapun - sehingga praktik mengeluarkan cairan dan membersihkan tulang terasa lebih masuk akal, terutama dalam iklim yang panas.

Praktik ini juga sudah dilakukan sejak berabad-abad lalu bagi individu yang dianggap penting atau suci.

Salah satu contohnya, setelah kematiannya di Afrika utara pada 1270, tubuh raja Prancis Louis IX dihancurkan lalu direbus, agar tulangnya bisa dipindahkan dengan bersih ke Paris.

Hak atas foto Amanda Ruggeri
Image caption Mengenakan rok, dua perempuan terhormat berdiri berdampingan.

Namun, kisah kematian William Sang Penakluk pada 1087 menjadi peringatan apa yang bisa terjadi jika jasad manusia tidak diperlakukan dengan hati-hati: saat pemuka agama berusaha memaksa tubuhnya masuk ke peti sarkofagus yang terlalu kecil, tubuh itu meledak.

Ini tidak akan terjadi bagi bangsawan Napoli yang memilih perawatan oleh schiattamuorti.

Bahkan, setelah cairan tubuhnya dikeluarkan, tulang mereka akan dibersihkan dan diistirahatkan di katakomba.

Bagi beberapa orang istimewa, gereja akan melakukan hal istimewa. Setelah dikeringkan, kepala orang yang meninggal akan dilepaskan, lalu ditempelkan di tembok di atas makam mereka - dan dihias oleh fresco atau lukisan dinding oleh Balducci.

"Dengan melakukan ini, dalam 10 tahun, mereka mendapat sebagian besar biaya untuk membangun basilika di atas kita," kata Cuomo.

Praktik ini dilihat sebagai sesuatu yang suci.

Kepala dianggap sebagai sedes anime: tempat duduk jiwa.

"Sepanjang Abad Pertengahan sampai era modern awal, ada banyak perdebatan tentang di mana tempat jiwa dalam tubuh kita. Kadang orang bilang, jiwa ada dalam darah, dan ini sudah merupakan kepercayaan lama - orang Maya pun percaya itu," kata sejarawan abad pertengahan dari University of Kent, Emily Guerry.

Dia tengah menulis buku tentang ikonografi pemenggalam dalam seni Kristiani.

"Namun dalam teologi Katolik, jiwa terletak di kepala. Dan konsep itu semakin menguat setelah pemikiran Aristotelian menyebar di universitas-universitas dari abad 12 sampai seterusnya."

Peninggalan juga mencerminkan pentingnya tengkorak.

"Kepala dianggap memiliki keseluruhan praesentia atau kehadiran dan potentia atau kekuatan orang itu," kata Guerry.

"Peninggalan terbaik yang bisa Anda miliki dari seorang santo adalah bagian kepalanya; di situlah Anda bisa berbicara dengannya dan dia mendengar Anda - bagian dari kepribadian yang dinilai bertahan dalam jasad kita ada di kepala."

Hak atas foto Sergio Siano
Image caption Para bangsawan menyimpan kepala mereka secara terpisah karena dianggap sebagai 'tempat duduk jiwa'.

Meski menggunakan tengkorak sebagai relik atau peninggalan dan sekaligus sebagai karya seni terdengar aneh, namun praktik ini sudah berlangsung sejak 9.500 tahun sebelumnya; dalam tengkorak Jericho yang dihias, orang menambahkan lapisan plaster dan 'mata' dari kerang.

Maka mungkin tak mengejutkan, meski galeri ini terkesan menyeramkan, namun dikubur di sini adalah sebuah kehormatan.

Saking terhormatnya sampai Balducci - bukannya menyesali jalan yang membawanya dari melukis interior kubah katedral Firenze ke tempat yang gelap, suram dan penuh kematian ini - menolak untuk dibayar.

Malah dia menyampaikan satu permintaan: agar badannya dirawat oleh schiattamuorti dan dia mendapat tempat di galeri tersebut, maka tengkoraknya - dan jiwanya - tersimpan di salah satu tempat paling elite dan suci di Napoli.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Is this the world's most macabre art gallery di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait