'Tidak ada cinta’ di film romantis Love Actually

cinta Hak atas foto Universal Pictures

Sineas Richard Curtis segera meluncurkan sekuel spesial dari film Love Actually. Nicholas Barber pun mengulas kembali film yang dicintai tapi juga dibenci orang-orang ini.

Jika Anda adalah penggemar berat film komedi romantis, pasti Anda kerap membayangkan apa yang terjadi usai pasangan di film yang Anda tonton berciuman atau bercinta di akhir film.

Apakah mereka bahagia selamanya atau tidak?

Penggemar komedi romantis buatan Richard Curtis yang dipenuhi aktor-aktris terkenal, Love Actually, akan mendapatkan jawabannya.

Pada perayaan Red Nose Day, 24 Maret lalu, sutradara dan penulis film itu menyatakan akan membuat sekuel pendek Love Actually. Jadi kita akan tahu pasangan mana saja di film itu yang tetap bahagia.

Hak atas foto Universal Pictures
Image caption Beberapa karakter, seperti David (Hugh Grant) jatuh cinta kepada orang yang bahkan dia jarang ajak bicara.

Namun, sebenarnya ada satu pertanyaan lain yang rasanya tetap tidak akan terjawab dalam sekuel film ini.

Seberapa banyak sih di antara pasangan tersebut yang benar-benar bahagia dengan diri dan hubungannya?

Love Actually adalah karya debut penyutradaraan Curtis. Namun, dia sebenarnya sudah dikenal lama sebagai raja film komedi-romantis Inggris berkat naskah untuk film The Tall Guy,Four Weddings and a Funeral dan Notting Hill.

Dia bahkan menulis lagu cinta The Troggs' Love is All Around, yang dipopulerkan oleh Wet Wet Wet dan sempat merajai tangga lagu Inggris selama 15 minggu.

Namun, apakah benar ada cinta di Love Actually? Saya tidak yakin. Pasalnya, hal paling unik dari film ini sebenarnya adalah betapa sedikitnya cinta yang ada di film itu.

Tapi tentu saja, ada 'sedikit' cinta di film ini.

Misalnya kasih sayang seorang perempuan kepada saudara lelakinya yang tidak stabil, seorang duda yang bersimpati pada anak tirinya, dan bintang rock pecandu narkoba yang perhatian kepada manajernya.

Namun, tidak ada cinta romantis yang biasanya kita kenal. Tidak ada karakter di film itu yang berusaha memahami pasangannya dan menghargai kualitas diri gebetannya.

Tidak ada pula karakter yang diperlihatkan berbicara satu sama lain, mengenal diri masing-masing selama berjam-jam, lalu mulai mengagumi pasangannya.

Malah film ini menggambarkan karakter-karakter yang tertarik kepada orang yang bahkan jarang mereka ajak bicara. Mungkin judul film ini lebih tepat diganti menjadi Lust (nafsu) Actually.

Hak atas foto Universal Pictures
Image caption Mark (Andrew Lincoln) menyampaikan perasaannya kepada karakter Keira Knightley dengan kartu tulisan.

Harry dan Sarah (Alan Rickman dan Laura Linney) jatuh cinta pada rekan kerja mereka (yang diperankan Heike Makatsch dan Rodrigo Santoro secara berturut-turut).

Jamie (Colin Firth) menyukai Aurelia (Lucia Moniz), Sam (Thomas Sangster) tertarik pada teman kelasnya Joanna (Olivia Olson).

Sementara Colin (Kris Marshall) terpesona dengan perempuan Amerika pertama yang dilihatnya. Dan Mark (Andrew Lincoln) suka dengan istri sahabatnya, Juliet (Keira Knightley).

Mark digambarkan ingin sekali menyerahkan kartu cinta di pintu rumah Juliet, padahal suaminya Peter (Chiwetel Ejiofor), sedang asyik duduk di dalam rumah.

Apa yang akan dilakukan Mark jika seandainya Peter yang membuka pintu, mungkin akan terjawab di sekuel Love Actually.

"Bagiku, kau sempurna," tulis Mark di salah satu kartu yang ditulisnya. Tetapi yang tidak penonton ketahui adalah, mengapa Juliet sempurna.

Apa yang spesial di dirinya? Jelas, karena diperankan Keira Knightley, tentu secara fisik dia rupawan. Namun, apa hal lain yang membuat Mark tertarik. Apakah Juliet lucu? Berani? Baik kepada binatang?

Apakah mereka memiliki hobi yang sama? Itu tidak pernah kita ketahui.

Sama juga dengan fakta bahwa kita tidak akan pernah tahu apa yang disukai David dari Natalie atau Jamie dari Aurelia. Karena tidak ada dialog atau adegan yang memperlihatkan sesuatu muncul di antara mereka.

Tidak ada flirting

Dan itulah hal terburuk tentang Love Actually. Curtis terkenal sebagai penulis naskah yang sangat verbal, penuh dialog. Dan dia seakan melupakan bahwa ketertarikan satu sama lain juga bisa muncul dari apa yang dikatakan, tidak hanya apa yang dilihat.

Hak atas foto Universal Pictures
Image caption Jamie (Colin Firth) jatuh cinta pada pembantu asal Portugis-nya Aurelia (Lucia Moniz), tanpa mereka pernah berbicara hal yang bermakna.

Dia juga tidak menampilkan flirting-flirting verbal yang menjadi kunci suksesnya film-film seperti It Happened One Night, Pillow Talk, The Apartement, dan When Harry Met Sally.

Contoh paling ekstrem dari cueknya Curtis terlihat dari karakter Jamie yang merupakan orang Inggris, dan Aurelia, seorang Portugis, yang bahkan tidak memahami bahasa satu sama lain.

Tapi memang tidak adil juga menyebut karakter di film ini tak berbicara sama sekali. Mereka memang bicara, tetapi penuh umpatan dan kata-kata yang menyinggung orang lain.

Love Actually menampilkan dua karakter ayah yang memanggil putri-putrinya dengan istilah yang menyinggung bentuk fisik ("si tembem" dan "Miss Dunki' Donuts 2003").

Ada pula seorang penyanyi rock tua (Bill Nighy) yang berkali-kali menyentil betapa gendutnya manajernya (Gregor Fisher).

Ada pula karakter perdana menteri Inggris yang sedang diperkenalkan kepada seorang staf Downing Street bernama Terrence, dan dia langsung berkomentar "Saya punya paman bernama Terrence. Benci sekali sama dia. Dia cabul."

Hak atas foto Universal Pictures
Image caption Martin Freeman dan Joanna Page berperan sebagai pemeran pengganti adegan seks.

Jujur saja, kalau film itu dibuat saat ini, mungkin tidak terasa begitu janggal mengingat Menlu Inggris sekarang adalah Boris Johnson yang dikenal bermulut pedas.

Tetapi tetap saja, film ini meninggalkan kesan tidak enak setelah menontonnya.

Bayangkan saja, cuma dalam empat menit, karakter di film ini sudah menamai "DJ terburuk di dunia", "Laki-laki terjelek di bumi", dan bahkan sebuah lagu Natal disebut sebagai "rekaman terburuk" yang pernah dibuat.

Bagian di mana karakter terlihat sopan dan berbudaya terjadi ketika dua orang pemeran pengganti (diperankan Martin Freeman and Joanna Page), yang saling bertukar candaan ringan ketika mereka harus bertelanjang dan berakting adegan seks di saat syuting film.

Jarang sekali melihat orang di film ini saling mengapresiasi satu sama lain, membicarakan hal-hal bermakna, tidak sekadar hanya soal kemacetan lalu lintas.

Dan sayangnya lagi, ketika satu karakter sedang berupaya membuka diri dan menyatakan sesuatu yang pribadi, respons dari lawan mainnya kerap sekali aneh.

Di awal film, seorang lelaki, Daniel (Liam Neeson) yang baru saja ditinggal mati istri, menelpon temannya, Karen (Emma Thompson) untuk curhat. Namun si teman memotong pembicaraannya.

"Aku memotong bukan berarti aku tidak peduli curhatan kalau istrimu baru saja meninggal dunia," katanya, seolah-olah istri si lelaki hanya menderita sakit kepala biasa.

Perkataan itu membuat si lelaki tambah berduka. Dia menangis lebih keras.

Dan Karen pun membalas, "Ayolah, orang tidak suka lelaki penangis. Tidak ada yang akan mau mendekatimu kalau kamu menangis terus." Wow, mengejutkan sekali si lelaki masih mau berteman dengan perempuan ini.

Hak atas foto Universal Pictures
Image caption Karakter Karen (Emma Thompson) kerap mengeluarkan pernyataan yang membuat karakter lain terluka.

Namun, di sisi lain mungkin karakter Karen punya tujuan tertentu.

Di akhir film, Daniel ternyata bercinta dengan seorang perempuan yang mirip supermodel Claudia Schiffer (diperankan oleh, siapa lagi kalau bukan Claudia Schiffer). Jadi, ternyata proses berdukanya hanya beberapa minggu saja.

Serupa, Jamie melamar Aurelia tidak lebih sebulan setelah dia memergoki mantan pacarnya bercinta dengan saudaranya sendiri.

Jadi, patah hati bukanlah hal yang besar, setidaknya di pandangan Curtis.

Lalu, apa sebenarnya cinta? Berdasarkan film ini, cinta hanyalah emosi meluap-luap sesaat.

Cinta tidak ada hubungannya dengan kemampuan berkomunikasi dan bisa saja hilang tiba-tiba. Ketika sekuel filmnya nanti muncul, tentu akan sulit ditebak apakah pasangan-pasangan di film ini masih bersama.

Tapi, kalau mereka ternyata berpisah dan patah hati, ya sudah, mereka akan sembuh dalam beberapa minggu dan akan mendapat teman kencan baru.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul There's actually no love in Love Actually di BBC Culture.

Berita terkait