Seperti seni, mengapa jurnalisme tak bisa dibungkam?

gag Hak atas foto Reuters

Sebuah foto seorang demonstran di Meksiko menjadi buah bibir. Kelly Grovier menelisik alasan mengapa upaya membungkam orang-orang yang ingin menyuarakan kebenaran, selalu gagal.

Seni tidak bisa dibungkam. Sama dengan kebenaran. Seperti apa yang pernah dialami para tiran di sepanjang sejarah, menekan kebebasan berekspresi baik ekspresi kreatif maupun jurnalistik, pada akhirnya akan membawa kemunduran bagi kuasa si tiran.

Sebuah foto kuat dari kota Ciudad Juárez di Meksiko, mengingatkan kita tentang kemampuan seni untuk berbagi rasa, dan bagaimana kegigihan untuk bisa didengar dan dilihat serta dipahami, tidak akan pernah dapat dibungkam.

Image caption Para wartawan terlihat dalam pantulan di kacamata perempuan yang berdemo terkait pembunuhan seorang wartawan Meksiko, Miroslava Breach.

Foto yang diambil oleh fotografer Jose Luis Gonzales itu memperlihatkan foto close-up intens dari seorang perempuan yang berunjuk rasa terkait kasus pembunuhan seorang wartawan yang menginvestigasi penyelundupan narkoba dan kejahatan bawah tanah di negara itu.

Dia adalah wartawan Meksiko ketiga yang tewas dibunuh dalam sebulan terakhir. Miroslava Breach ditembak delapan kali saat dia berada di dalam mobil, bersama satu dari tiga anaknya. Anak wartawan perempuan ini tidak terluka. Polisi menemukan sebuah catatan di dekat tempat kejadian perkara, yang bertuliskan kemungkinan alasan Breach dibunuh; "Karena terlalu cerewet".

Ketika berita kematian Breach mengemuka, rekan-rekan wartawannya mengadakan unjuk rasa yang menyuarakan gagalnya pemerintah mencegah semakin derasnya penyerangan dan kekerasan terhadap wartawan.

Meskipun perempuan yang ada di foto Gonzales kemungkinan juga adalah wartawan, tapi kita tidak benar-benar tidak tahu siapa dia. Dia menggunakan kaca mata besar yang memantulkan apa yang dilihat. Mulutnya ditutup selotip besar bertuliskan "Ni uno" yang berarti "tidak lagi".

Pengunjuk rasa perempuan yang foto wajahnya terlihat separuh ini mungkin semula kita kira sebagai obyek fotonya. Namun, yang sebenarnya di foto oleh Gonzales adalah kegigihan tanpa letih dari upaya untuk menjunjung kebebasan berekspresi, bahkan di tengah intimidasi yang luar biasa.

Image caption Karya seni buata Cesare Ripa.

Coba lihat lebih dalam ke kacamata yang dikenakan si perempuan. Di sana tampak jelas pantulan fotografer. Sangat janggal di jurnalisme foto - yang selalu menekankan untuk menghapus subyektifitas dalam karyanya- kita melihat sosok sang fotografer. Foto Gonzales adalah perlambang dari jurnalisme yang berani, jujur dan tanpa takut.

Jika ditelisik lebih jauh lagi, foto ini muncul untuk merayakan tidak tertahankannya seni dan kebenaran, serta kebenaran seni.

Pada tahun 1603, Cesare Ripa, seorang pelayan dari Kardinal Antnonio Maria Salviati yang baru saja wafat, menerbitkan karya besar yang dia kumpulkan (baik verbal maupun visual) terkait kualitas manusia, kegigihan, pemikiran, dari kecemburuan hingga kemurungan hari, sampai kejujuran dan kedangkalan pikiran.

Di antara karya Ripa yang memikat banyak orang itu, termasuk menginspirasi seniman besar setelahnya (contohnya Johannes Vermeer), adalah sebuah lukisan atau "Pittura".

Lukisan itu memperlihatkan seorang perempuan yang menggunakan topeng teater yang menggantung di lehernya, yang berdiri di sebuah papan, memegang palet dan segenggam sikat. Mulutnya tersumbat.

Sumbat itu mungkin melambangkan keheningan seni visual (dibandingkan dengan puisi atau musik), serupa dengan foto dari Meksiko yang kita bahas di atas. Seni adalah penyintas. Dia tumbuh subur saat terancam. Seperti kebenaran, seni tidak dapat dibungkam.

------------

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari tulisan ini berjudul The shocking force of a gagdi BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait