Generasi X: Sinis, penyuka pesta dan anti-kemapanan?

generasi X Hak atas foto Everynight Images

Douglas Coupland melalui novelnya yang dirilis tahun 1991 menyebut generasi muda kala itu sebagai Generasi X. Generasi yang disebut sinis dan anti-kemapanan itu kini sudah berusia 40an. Bagaimana nasib mereka sekarang? Lindsay Baker menelusurinya.

Perseteruan cara pikir antara baby boomers (generasi yang lahir tahun 1940an hingga 1960an) dan milenial (generasi yang lahir tahun 1981 hingga 1997) sering kita dengar. Namun, kita jarang mendengar kabar tentang generasi di antara kedua generasi itu, Generasi X. Bagaimana kabar mereka yang kini berusia di antara 35 hingga 55 tahun itu? Apa yang dapat kita pelajari dari mereka?

Pertanyaan itu diutarakan dan dijawab seorang Generasi X - sering disingkat sebagai Gen X saja- asal Inggris, Tiffanie Darke, lewat bukunya Now We Are 40: Whatever Happened to Generation X? (Sekarang Kita Berusia 40 tahun: Apa yang Terjadi dengan Generasi X?).

Kembali ke awal 1990an, Darke saat itu masih bekerja di McJob, sebuah restoran pizza tempat dia mengumpulkan uang untuk jalan-jalan di India. Darke menyebut buku Coupland, Generation X, "menjelaskan siapa saya waktu itu."

Image caption Tiffanie Darke mengenang masa 90an yang penuh pesta dan hedonisme.

Buku itu menyebut Gen X sebegai generasi yang 'lesu', sinis dan anti kemapanan. Budaya mengumpulkan kekayaan, tidak lagi dinilai keren oleh anak-anak Gen X. Mereka memilih untuk pergi jalan-jalan membuka pikiran mereka dan berkecimpung di industri kreatif, yang kemudian berujung dengan digemarinya musik-musik tekno, dan narkoba. Darke menyebut tahun 1980an dan 1990an adalah tahun yang "panas, penuh gegap gempita".

Pesta berhari-hari

Darke mengalami benar budaya yang disebut dan ditulis dibuku itu; budaya yang berfokus pada cinta, hedonisme dan bersenang-senang. Hal itu terjadi lintas kelas sosial, ekonomi, ras, gender dan orientasi seksual. Darke bercerita saat itu dia beberapa kali menghadiri pesta musik dua hari suntuk di Castlemorton, yang kemudian ditutup polisi.

"Budaya kala itu keren, penuh pemberontakan dan didasarkan pada cara pikir liberal dan setara," katanya. "Misalnya di pesta-festival Castlemorton, Anda berbicara dengan siapa saja. Semuanya setara. Para traveler berkumpul di sana, kaum homoseksual dihargai, musik orang kulit hitam dinikmati. Dan budaya itu berkembang organik dan terasa membumi," ungkap Darke.

Image caption Foto supermodel Kate Moss di sampul majalah The Face menjadi ikon era 1990an.

"Waktu itu adalah masa sebelum ada ponsel. Untuk bertemu, Anda harus datang secara fisik," katanya. Pada 1994, pemerintah Inggris kemudian mengesahkan undang-undang yang melarang pertemuan orang dalam jumlah banyak secara spontan, seperti pada pesta di Castlemorton. Namun, keputusan pemerintah di satu sisi membuat acara-acara pesta jadi lebih terorganisasi dan terencana.

Pesta-pesta ini terus berlanjut di sepanjang tahun 1990an, mempopulerkan musik grunge di Amerika Serikat dan Britpop di Inggris. Banyak yang menyanjung masa-masa ini. Darke menilai, Gen X sangat toleran karena orang-orang terhubung secara nyata, langsung. Mereka menilai dari apa yang mereka sendiri alami.

"Sekarang, di zaman internet dan media sosial, semuanya berjalan terlalu gampang. Anda bisa bergabung ke puluhan pesta dalam semalam dengan menggunakan internet," katanya. "Ya, apa boleh buat sekarang anak-anak milenial banyak yang mengalami krisis identitas."

Hak atas foto Universal Pictures
Image caption Film Reality Bites (1994) menggambarkan realita anak-anak muda Generasi X.

Darke menilai Gen X seharusnya memberikan sesuatu kepada milenial: menjadi jembatan antara milenial dan baby boomers. Apalagi milenial saat ini sudah sangat jauh meninggalkan konsep anti-kemapaman. Selain itu, Gen X juga bisa mengambil peran untuk mempromosikan toleransi. "Kita harus ingat hal-hal yang penting sebelum dunia digital menguasai. Memang teknologi itu mencandu, tapi banyak hal-hal baik lain yang kita bisa ambil dari masa sebelum teknologi mendominasi."

Maukah kembali lagi?

Cerita Tiffanie Darke tentang Gen X di bukunya, amatlah meyakinkan dan diceritakan dengan penuh semangat. Tapi bagaimana pembuat istilah Generasi X, melihat generasi ini dan evolusinya.

Penulis Kanada, Douglas Coupland kini sudah berusia 55 tahun, usia anggota Gen X paling senior. Di buku terakhirnya dia menulis: "Meskipun kadang saya rindu kembali ke zaman sebelum ada internet, saya tidak ingin kembali ke sana."

Lalu apa yang dia rindukan atau tidak rindukan dari masa-masa jaya Gen X? "Saya tidak sedang pura-pura sekarang, tapi jujur, saya tidak ingat," katanya kepada BBC Culture.

"Saya mulai melupakan masa itu sekitar dua tahun lalu, dan saya sekarang semuanya sudah lenyap. Kadang saya berusaha mengingat dengan membaca buku-buku tentang abad ke-20. Tapi ketika saya berhenti, saya kembali lagi ke masa ini."

"Sekali kita berganti zaman, zaman sebelumnya akan dilupakan."

Lalu apakah dia menilai budaya teknologi akan membuat orang semakin melupakan intuisinya untuk bersosialisasi? "Iya. Saya tahu, saya diharapkan untuk menjawab 'tidak'. Tapi inilah faktanya."

Coupland yang saat ini bekerja di Google menyatakan "jika kita seluruh kehidupan di semesta ini hanya ada di bumi, maka internet adalah hal terbesar yang pernah dibuat di seluruh alam semesta ini."

Image caption Penulis Kanada, Douglas Coupland.

Lalu bagaimana dia melihat Gen X ke depannya? "Saya tidak pernah mendiskusikan itu terkait Gen X," kata Coupland. "Namun, pada dasarnya orang-orang Gen X sudah bertransformasi dari generasi yang terkesan nakal, menjadi generasi yang 'serius', mewarisi peninggalan Baby Boomers."

"Boomers sendiri tidak pernah berubah. Mereka membiayai uang sekolah anak-anaknya dan merawat orang tua mereka ketika tua. Tidak ada waktu untuk berpikir soal kemapanan atau anti-kemapaman. Mereka terlalu sibuk bekerja mencari kekayaan sampai mati."

Coupland merasa "datar-datar saja" soal generasi milenial. "Menurut saya, apa yang orang sampaikan tentang generasi milenial, sama dengan yang dulu orang katakan soal Generasi X, namun tampaknya milenial dianggap juga tidak bisa menghadapi situasi yang berjalan tidak seperti yang mereka inginkan."

Kita tidak perlu takut pada masa depan, katanya. "Sekarang ini sudah sangat enak sekali," ujar Coupland. Dia optimis.

Sebagai seseorang yang pernah disebut "peramal", bagaimana masa depan Gen X di matanya? "Menikmati hari tua sambil minum anggur, tidur di kasur yang nyaman, lengkap dengan wi-fi, dan tidak ada yang mengganggu, bahkan anak-anak kami."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris dari artikel di atas berjudul Whatever happened to Generation Xdi BBC Culture.

Berita terkait