Sebuah film dengan sisi lucu dari krisis paruh baya

The Meyerowitz Stories Hak atas foto Netflix
Image caption Tiga bersaudara Meyerowitz yang bersama-sama mengalami krisis pruh baya adalah Matthew (Ben Stiller), Danny (Adam Sandler), dan Jean (Elizabeth Marvel).

Salah satu hal yang paling dipuji dari drama komedi Noah Baumbach adalah dia membiarkan tokoh-tokohnya bertambah usia bersamanya, lewat cara yang biasanya lebih banyak digunakan para novelis dibanding penulis naskah dan sutradara sehingga masing-masing film menjadi pernyataan pribadi tentang tahapan tertentu dalam kehidupan.

Frances Ha, contohnya, adalah film mengenai seorang yang menerima kenyataan bahwa dirinya merupakan orang dewasa dan bukan mahasiswa abadi.

Sementara While We're Young tentang tahapan kehidupan ketika kita tidak lagi bisa mengetahui apakah musik yang kita gemari adalah sesuatu modis, ketinggalan zaman, modis secara ironis, atau diantaranya. Dan dalam film Baumbach yang mengikat perhatian, penuh kasih tetapi tajam, The Meyerowitz Stories (New and Selected), para tokoh-tokohnya masuk ke masa kelam usia paruh baya.

Mereka sekarang berada di titik ketika pernikahan hancur, anak-anak masuk TK atau universitas, keadaan kesehatan tidak bisa diremehkan, dan kesehatan orangtua yang semakin memburuk.

Tiga bersaudara Meyerowitz yang bersama-sama mengalami krisis paruh baya adalah Matthew (Ben Stiller), Jean (Elizabeth Marvel), dan Danny (Adam Sandler) - yang karena ayah mereka beberapa kali menikah maka dengan cepat menyatakan mereka adalah saudara tiri. Dan karena Baumbach menjadi Baumbach yang tulen, mereka juga adalah umat Yahudi yang berada dan memiliki selera seni yang tinggal di New York.

Yang menjadi pimpinan keluarga adalah Harold (Dustin Hoffman), seorang pematung terhormat tetapi masih tetap merasa tidak cukup dihormati seperti yang diinginkannya. (Tidak cukup baginya jika seseorang memuji patungnya yang terkenal di tempat umum dengan mengatakan, "Hei! Saya melewatinya setiap hari!)

Pemarah berjanggut yang bisa menggertak seorang nabi di Perjanjian Lama Alkitab ini tidak pernah berhenti mengeluh bahwa dirinya harus bekerja sebagai dosen universitas dan bukan hidup dari karya seninya. Dia yakin ketidaktenarannya adalah karena kesalahan orang-orang lain dan bukan dirinya sendiri.

Dia lebih kecewa lagi dengan anak-anaknya. Danny, yang baru saja berpisah dari istrinya, sangat akrab dengan anak perempuannya yang berumur 18 tahun dan berbakat (Grace Van Patten), tetapi tidak pernah memiliki cukup keyakinan untuk mengembangkan bakat musiknya. Adapun Matthew menjaga jarak dari lingkungan ayahnya dengan cara pindah ke Los Angeles dan menjadi kaya karena 'mengelola investasi'.

Sedang Jean merasa disingkirkan keluarga -dan agak kurang menguntungkan pula karena film ini pun meremehkannya. Ketiga bersaudara itu terikat dengan Harold meskipun tidak menyukai kekurangannya sebagai orangtua. Baru setelah dia mengalami sakit berat, mereka terpaksa harus berkumpul dan mengungkapkan hal-hal yang mengganggu dari Harold dan juga dari diri mereka masing-masing.

Ada sejumlah kemiripannya dengan The Royal Tenenbaums -film drama komedi karya sutradara Wes Anderson- tetapi humornya lebih kurang aneh: hanya istri Harold yang ramah dan alkoholik (Emma Thompson) yang tampil sebagai karikatur.

The Meyerowitz Stories juga merupakan film yang lebih mudah memaafkan. Baumbach, yang membuat The Squid and The Whale dan Margot at the Wedding, akan menghukum karakternya dengan kejam jika mereka gagal, namun Baumbach masa kini lebih berperasaan. Dia menyukai Meyerowitz, meskipun mereka sebenarnya tidak normal.

Adalah hal yang menyenangkan bergaul dengan mereka dan naskah film menjadi semakin hangat lewat kelembutan kamera Robbie Ryan serta musik yang riang dari piano Randy Newman.

Meskipun The Meyerowitz Stories buisa menenangkan, Baumbach menggali cukup dalam tokoh-tokohnya untuk menumbuhkan rasa sakit yang nyata.

Lewat penampilan yang bebas dari rasa kasih sayang dan kesombongan, Hoffman memainkan peran orang tua yang eksentrik yang patut dikasihani meskipun menjengkelkan. Dan Sandler yang berusaha mengambil hati semua orang nyaris menjadi tragis, paling tidak karena gaya rambutnya yang mengerikan dan pakaian seadanya.

Sandler senang menggoda penonton dengan menyuguhkan penampilan yang berkomitmen dan terkendali dalam sebuah drama komedi setiap tujuh atau delapan tahun, sebelum kembali menjadi tokoh yang tidak masuk akal seperti biasanya. The Meyerowitz Stories masuk dalam bagian daftar pendek filmnya yang sudah lebih dulu diisi oleh Punch Drunk Love dan Funny People.

Ini bukanlah karya Baumbach yang paling berani atau tajam karena ada dialog yang terlalu kaku dan pertengkaran yang sepertinya terlalu diatur tapi seperti biasa filmnya selalu menghibur dan menyita perhatian.

Baumbach juga selalu terasa berusaha jujur menyangkut kecemasan dan ketakutannya. Sangat menenangkan dengan mengetahui bahwa pada masa-masa sulit saat ini, dia selalu ada untuk memandu kita secara manusiawi dalam mengarungi kecemasan hidup sebagai orang yang berumur 50-an, 60-an, dan selebihnya.***

Tulisan ini bisa Anda baca dalam versi bahasa Inggris The funny side of mid-life crisis di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait