Babi raksasa yang membuat Anda berpikir dua kali untuk makan daging

okja Hak atas foto Netflix
Image caption Okja dipelihara di pegunungan berhutan lebat Korea oleh seorang anak perempuan baik hati, Mija (Seo Hyun An).

Okja mungkin tidak akan menjadi film terbaik tahun ini, tetapi selama 15 menit Anda akan menyaksikan 'hiburan paling kisruh' sepanjang tahun ini.

Film ini berisi adegan kejar-kejaran yang mencapai klimaks ketika seekor babi mutan seukuran minibus melintasi sebuah pusat perbelanjaan.

Jika Anda bisa membayangkan komik Judge Dredd diadaptasi ke layar lebar oleh Buster Keaton, maka Anda bisa membayangkan seberapa aneh, inovatif, dan menyenangkannya film ini. Dan jika film fiksi ilmiah yang satiris dari Bong Joon-ho ini tidak mampu menghibur, ya, apa lagi yang bisa?

Babi mutan yang dikisahkan dalam film ini adalah milik perusahaan agrokimia di New York dengan masa lalu yang penuh tanda tanya. Lewat pendahuluan yang cepat, pimpinan perusahaan, Lucy Mirando (Tilda Swinton dengan rambut palsu putih) mengatakan di depan sejumlah wartawan bahwa seeekor binatang 'ajaib' ditemukan di sebuah peternakan di Cile.

Dengan telinga yang lebih mirip kuda nil dibanding babi pada umumnya, mahluk ajaib ini adalah penyedia daging unggul. Makannya tidak banyak, limbahnya sedikit, berukuran raksasa, dan enak rasanya.

Babi tersebut memiliki 26 ekor anak yang disebar ke sejumlah peternakan di dunia untuk mengetahui lingkungan paling cocok bagi pengembangbiakannya. Salah satu anak babi raksasa ini, Okja, dikirim ke pegunungan berhutan lebat di Korea. Okja dipelihara seorang anak perempuan yang baik hati, Mija (Seo Hyun An) dan kakeknya (Byun Heebong).

Dengan menggunakan CGI -atau gambar produk komputer- yang canggih dan akting yang sempurna dari Seo Hyun, menjadi sangat mudah untuk mempercayai bahwa Okja adalah babi sungguhan yang berkeliaran dengan gembira di hutan selama bertahun-tahun, ditemani Mija yang mencintainya.

Namun, setelah 10 tahun, tiba saatnya bagi Okja untuk dikirim kembali ke kantor pusat Mirando di New York. Film itu kemudian berubah dari The Jungle Book menjadi King Kong.

Mija marah karena sahabatnya yang lembut dan amat pintar itu direnggut darinya. Bertekad untuk mencurinya kembali, Mija bergegas meninggalkan peternakan menuju ke Seoul, dan mendapat bantuan serta juga hambatan dari Front Pembebasan Hewan yang dipimpin Jay (Paul Dano), seorang pria bersosok necis dan tenang.

Adegan di dalam hutan amat menawan dan dagelan di perkotaan amat lucu sehingga terasa sayang bahwa Bong dan penulis naskah asal Inggris, Jon Ronson, tidak memotong sejumlah sumpah-serapah dan adegan kekerasan. Jika saja mereka memotongnya, maka film mereka yang cerdik dan lucu ini akan menjadi film petualangan untuk keluarga yang mengalahkan The BFG (Big Friendly Giant) dan Pete's Dragon.

Bahkan film ini bisa menjadi ET The Extra Terrestrial abat ke-21, namun dengan naskah dwibahasa dan pesan kuat untuk mendukung vegetarian atau pemakan sayuran.

Sama seperti film klasik tersebut, Okja berhasil menyeimbangkan konsep karikatur dan aksi liar dengan tokoh-tokoh yang dapat kita cintai. Bahkan tokoh antagonis Swinton yang mirip Cruella De Vil dalam 101 Dalmatians dibuat menjadi humanis. Di balik kekuatannya sebagai pimpinan puncak perusahaan, dia adalah seorang anak perempuan bermasalah yang masih berlatih menulis tanda tangan di buku catatannya dan memakai kawat gigi.

Namun Jong kehilangan irama film di paruh kedua. Begitu cerita pindah dari Seoul ke New York, secara perlahan-lahan terjadi peningkatan dalam hal yang tidak masuk akal sampai, akhirnya, setiap kegilaan menutupi tuduhan atas produksi daging industri.

Kekonyolan yang menutupi makna itu terwujud dalam diri Jake Gyllenhaal. Berperan sebagai dokter hewan dengan kumis tebal dan bersuara tinggi, dia sepertinya tidak menyadari yang dilakukannya, termasuk berkeliling mengepak-ngepak seperti boneka yang dikendalikan oleh dalang yang tidak becus.

Okja mungkin sebuah film tentang babi raksasa, tapi Gyllenhaal adalah daging babi terbesar.

Tapi jangan biarkan hal itu mengganggu Anda. Okja dalam versi yang lebih singkat dan rapi mungkin akan lebih baik tapi yang dibuat Bong tetap saja merupakan kegembiraan.

Dan film ini memang memicu pertanyaan kepada setiap orang yang ingin makan burger setelah menontonnya. Jika gagasan tentang seekor binatang dari CGI dibuat menjadi sosis amat mengganggu, mengapa kita masih tetap ingin makan daging?

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di This giant pig will make you think twice about eating meat di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait