Martin Luther: Bapak dari lagu-lagu protes?

Barack Obama, Angela Merkel, Jerman Hak atas foto Getty Images
Image caption Mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dan Kanselir Jerman, Angela Merkel, menghadiri peringatan Reformasi ke-500 di Gerbang Brandenburg, Jerman.

Pada tanggal 25 Mei lalu, dengan membelakangi Gerbang Brandenburg di Jerman, Barack Obama menyampaikan pidato bersejarah sebagai penghormatan kepada Martin Luther dan Reformasi Protestan.

Pidato mantan presiden Amerika Serikat tersebut menandai waktu penting di tahun yang diisi dengan berbagai kegiatan perayaan dengan puluhan buku baru dan pameran digelar untuk memperingati revolusi ke-500 Martin Luther.

Playmobil -sebuah perusahaan mainan- merilis patung kecil Luther. Semuanya ini tidak mengejutkan: dengan melawan banyak ajaran utama Gereja Katolik dan menerbitkan terjemahan lengkap Injil ke dalam bahasa Jerman, Martin Luther mendorong Eropa ke dunia modern.

Tapi jika Eropa masih dibentuk oleh warisan politik dan agama Luther, kontribusinya di bidang musik kurang terkenal.

Nyatanya, musik penting bagi ideologi Luther, dan mendorong para penyanyi radikal sampai waktu yang lama setelah kematiannya. Sementara itu, gaya musiknya yang populer, dengan mudah bisa dibandingkan dengan sebagian gerakan protes terkenal di abad modern.

Sebelum tahun 1517, Gereja Katolik mengendalikan sebagian besar musik keagamaan di Eropa. Partisipasi masyarakat biasa amat tipis. Di gereja, sebagian besar orang hanya mendengar lagu-lagu polos yang kaku, dinyanyikan dalam bahasa Latin oleh kelompok paduan suara.

Hak atas foto Steffi Loos/Getty Images
Image caption Warga mengikuti misa di Gereja Stadtkirche, Wittenberg, Jerman, tempat Martin Luther memberikan siraman rohani.

Drama tentang kasih, drama gaduh yang menggambarkan cerita-cerita Injili, memperkenalkan gagasan agama kepada masyarakat dalam masing-masing bahasa mereka. Namun menjelang Abad ke-16, drama-drama ini seringkali berubah menjadi dagelan komedi. Dan bagaimanapun, musik dalam bahasa ibu masing-masing jarang sekali digunakan di lingkungan gereja.

Musik bagi semua lapisan

Luther menghancurkan sekat-sekat kaku tersebut, dan mengubah kehidupan musik Kristen. Baginya, musik keagamaan tidak hanya untuk kalangan pendeta dan paduan suara. Sebaliknya, musik keagamaan adalah 'di samping teologi' dan satu 'anugerah dari Tuhan'.

Oleh sebab itu, musik keagamaan harus dapat diakses oleh semua orang. Lagipula, tulisnya, "Dengan membumbui dan menghiasi nadanya dengan cara-cara menakjubkan, (para penyanyi dapat) menuntun orang-orang lain ke tarian surga." Siapa pun yang tidak setuju 'berhak untuk tidak mendengar apa-apa kecuali ringkikan keledai dan orokan babi!'

Hak atas foto Sean Gallup/Getty Images
Image caption Patung Martin Luther dari Abad ke-19 dipamerkan dalam pameran 'Luther dan Jerman' di Kastil Wartburg, Jerman, pada 5 Mei lalu.

Luther berjuang sungguh-sungguh untuk mengembangkan gagasan-gagasan itu, sama kokohnya dengan pemikirannya tentang Paus atau bahaya dari kesenangan. Nyanyian dalam bahasa Latin kemudian dikesampingkan dan diganti dengan nyanyian komunal dalam bahasa Jerman sehari-hari. Gaya ini kemudian segera menjadi bagian penting bagi identitas para pengikutnya.

"Penggunaan himne-himne bahasa Jerman oleh Luther adalah suatu tanda perubahan yang penting," jelas Andreas Loewe, dekan di St Paul's Cathedral, Melbourne, dan sekaligus seorang ahli tentang Luther.

"Hal itu sama jelasnya dengan pendeta yang menikah, atau bisa menerima secangkir anggur dalam Perjamuan Suci sebagai orang biasa."

Tidak berarti Luther hanya mempromosikan musik hanya untul alasan-alasan abstrak kepercayaan. Ia paham benar betapa dahsyat kekuatan musik dalam menyebarkan pesannya.

Seperti lagu-lagu protes modern, lagu-lagu pujiannya menarik dan mengena. Ia menambahkan lirik-lirik keagamaan ke dalam lagu-lagu rakyat yang mudah dikenali, seperti lagu We Shall Overcome yang lahir dari lagu Gospel selatan yang tua.

Langkah itu utamanya berguna pada era kurang pengetahuan. Bahkan orang-orang yang bisa membaca pun -sekitar 85% dari penduduk Jerman pada tahun 1500-dapat belajar nyanyian dan menyebarkannya ke orang lain dengan cepat.

Musik sebagai pesan

Luther sendiri mendorong perubahan-perubahan tersebut. Ia mendorong anak-anak belajar musik di sekolah, dan bekerja bersama dengan para perombak untuk menyusun buku nyanyian pujian Protestan. Luther juga menulis lirik yang 'meniru cara orang berbicara', jelas Lowe.

Luther sendiri menyatakan bahwa baik musik maupun liriknya seharusnya 'tumbuh dari bahasa ibu yang sebenarnya'.

Ein Feste Burg (Sebuah Benteng yang Kokoh) merupakan contoh lumrah dari kesederhanaan yang menggugah:

Tuhan kita adalah suatu benteng yang kokoh. Perisai dan senjata yang handal.

Lagu-lagu seperti ini membuat kaku hati Luther dan teman-temannya. Mereka kemungkinan besar menyanyikan lagu Ein Feste Burg di Majelis Kekaisaran di Worms, ketika Luther diinterogasi oleh Charles V, Kaisar Takhta Suci Roma. Ini mempunyai kesamaan menyolok dengan gerakan protes yang lebih modern.

Hak atas foto Sean Gallup/Getty Images
Image caption Jerman memperingati Reformasi ke-500 tahun yang digagas oleh Martin Luther.

Dan para pemrotes anti-Perang Vietnam menggelar pawai bersama iringan To Give Peace A Chance dengan menghadapi perlawanan yang diwarnai kekerasan, sementara orang-orang yang berkampanye menentang Apartheid menyanyikan Soweto Blues setelah pembantaian berlatar belakang ras di Afrika Selatan.

Tetapi jika musik Luther bersifat menenangkan para pendukungnya, himnenya juga menarik orang-orang baru. Musik baru menggema dari kota ke kota sebelum otoritas Katolik memberikan tamparan keras. Selayaknya aspek-aspek lain Reformasi, percetakan pers adalah kunci.

"Nyanyian pujian Luther dijual langsung 'segar dari cetakan' sebagai pamflet, dan diajarkan ke kota-kota besar oleh para penyanyi yang berkelana," jelas Loewe.

Kadang-kadang nyanyian pujian Luther bekerja lebih cepat dibanding Luther sendiri. Di Magdeburg, nyanyian massal lagu-lagu Luther sudah mengubah kota berbulan-bulan sebelum ia tiba di kota itu.

Kalangan yang hidup pada zamannya menghargai penyebaran musik ini. Ketika menulis 50 tahun setelah Luther meninggal dunia, teolog Cornelius Becker mengatakan bahwa, "Lagu-lagu (Luther) dibawa ke orang-orang nun jauh di jiwa dan benak pemeluk Kristen yang taat. Tidaklah mudah untuk membendung kemajuannya."

Sejatinya, lagu-lagu pujian Luther tak lama kemudian menyebar ke luar dari kantong pendukungnya di negara bagian Saxony.

Lagu-lagu tersebut dinyanyikan di daerah-daerah yang penduduknya beragama Katolik, dan diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Semuanya menyebar bersama dengan musik protes zaman modern.

Seperti halnya lagu kebesaran sosialis The Internationale menjadi terkenal dari Madrid ke Moskow -bahkan di antara orang-orang yang tidak memahami rincian dogma Marxis - nyanyian pujian Luther menggema di seluruh Eropa sebagai pertanda tajam akan solidaritas untuk sekutu-sekutu yang tak dikenal.

Disuarakan

Musik Martin Luther tetap populer selepas kematiannya. Pasukan Protestan menyanyikan lagu-lagu pujian Luther ketika mereka terjun di medan pertempuran selama Tiga Puluh Tahun Perang pada Abad ke-17.

Di kemudian hari para komponis Protestan juga menyentuh himne-himnenya. Johann Sebastian Bach memperpanjang Ein Feste Burg menjadi kantata sepanjang 30 menit yang meriah, sementara Felix Mendelssohn menambahkannya dengan jitu ke simponi yang diberi judul Reformation.

Hak atas foto PAul T McCain/Wikimedia Commons
Image caption Sementara Katolik lebih mengedepankan representasi keilahian dalam bentuk lukisan dan patung, Protestan merangkul musik.

Tren ini terus berlangsung hingga zaman modern: lagu-lagu pujian Luther masih mewarnai buku-buku lagu pujian Katolik dan Protestan. Bagi penulis Romantik Heinrich Heine, lagu Ein Feste Burg tak lebih dari sekedar "Marseillaise (lagu kebangsaan Prancis) Reformasi" yang "kekuatan membangkitkannya telah bertahan hingga sekarang."

Sementara itu, seperti lagu asli Marseillaise, musik Luther terbukti menyebar dengan mudah tanpa mengenal batas. Sama seperti halnya ketika kalangan monarki Prancis dan sosialis Rusia mengadaptasi lagu kebangsaan revolusioner ke dalam agenda-agenda mereka sendiri, nyanyian pujian seperti Ein Feste Burg telah berubah dengan cepat dari asal usulnya yang berbau keagamaan.

Richard Wagner mengutip lagu itu dalam suatu karya untuk merayakan kemenangan kerajaan Prussia melawan Prancis pada 1871.

Belakangan Nazi menjustifikasi teror dengan menyalahgunakan referensi Luther yang diambil dari Injil yaitu "musuh jahat lama".

Tetapi musik Luther tidak pernah kehilangan otot radikalnya. Selama revolusi 1848, kaum liberal menyanyikan versi baru dari Ein Feste Burg untuk mempromosikan 'kebebasan' dan 'kebenaran'.

Pada tahun 1880-an, kaum demokrat sosial di Jerman menulis ulang lagu pujian yang sama untuk menambahkan unsur-unsur hak asasi manusia.

Satu abad kemudian, para penentang pabrik limbah nuklir baru menggunakan lagu Ein Feste Burg untuk menyerang 'polisi bersenjata' Namun pakar masalah Luther, Andreas Loewe, mencatat suatu ironi di sini.

"Sama seperti ketika reformis mengaplikasikan nada-nada yang membangkitkan dan mengarang kata-kata baru untuk nada-nada tersebut, banyak gerakan protes menggunakan melodi Luther untuk mempromosikan gagasan-gagasan yang bukan dari Luther."

Hal yang terasa sesuai. Melalui nyanyian pujiannya, Luther adalah seorang kakek dari revolusi musik yang berbagi dan beradaptasi, disatukan dalam perubahan yang menghentak di dunia melalui melodi-melodi yang membangkitkan emosi dan kata-kata sederhana.

Tetapi jika Martin Luther membantu dalam memacu musik protes modern, ia masih tetap dapat melakukan perenungan singkat.

"Saya tidak pernah melewatkan hari tanpa mendengarkan chorale Luther-an atau rendisi organ musik hebat Kristen," jelas Martin E Marty, seorang pakar agama.

Hal yang juga dialami Andreas Loewe. "Saya senang menyanyi," tuturnya.

"Apakah sebagai bagian dari doa di St Paul's Cathedral, atau bersama teman-teman, atau sebagai bagian dari paduan suara Melbourne Symphony Orchestra Chorus yang melibatkan saya tampil beberapa kali setiap tahun -saya sependapat dengan keyakinan Luther bahwa musik adalah sebuah paling 'anugerah Tuhan yang indah dan tak ternilai harganya."***

Jika Anda ingin membaca artikel ini dalam bahasa Inggris Martin Luther: Father of protest songs?, Anda dapat membacanya di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait