Lima bintang untuk film terbaru Haneke, Happy End

Happy End Hak atas foto Sony pictures
Image caption Haneke membentuk gambaran memuakkan sebuah keluarga yang begitu kaya sehingga tidak mengetahui seberapa buruknya mereka.

Diperlukan waktu dan konsentrasi penuh untuk memahami yang sebenarnya terjadi dalam Happy End karya Michael Haneke.

Ada sejumlah adegan ketika seseorang menyaksikan peristiwa yang menggangu dari kejauhan namun kita tidak diperlihatkan siapa yang menyaksikannya: yaitu adegan-adegan ketika seseorang menulis pesan di komputer jinjing namun kita tidak diperlihatkan siapa yang mengetik itu.

Namun perlahan-lahan, keping-keping Hanneke membentuk gambaran sebuah keluarga yang memuakkan yang sangat kaya raya sehingga berhak untuk tidak tahu betapa buruknya hal itu.

Sebuah komedi yang suram -sebenarnya lebih banyak suram dibanding komedinya- yang menjadi semacam pembaruan dari novel satiris anti-Thatcher karya Jonathan Coe, What a Carve Up!. Bahkan ada kemiripan dengan The Royal Tenenbaums dan debut pertama di Cannes tahun ini, The Meyerowitz Stories.

Namun jika Happy End secara khusus mengingatkan pada sesuatu, maka ingatan itu adalah pada film sebelumnya dari penulis merangkap sutradara asal Austria ini, dengan video pengawas, rasa bersalah, kekejaman, kematian. Singkatnya film ini melewati Haneke.

Dan Anda sudah diperingatkan.

Jika ceritanya tidak langsung jelas, maka kecerdasannya langsung. Adegan pembukaannya adalah seorang perempuan di kamar mandi yang siap-siap tidur tampak direkam dengan menggunakan telepon genggam oleh seseorang yang mematai-matainya. Siapapun yang memata-matai itu juga mengirim pesan tentang prediksi yang akurat dari yang akan dilakukan perempuan itu: 'Meludah', 'Membasuh', 'Handuk tangan', 'Rambut'.

Lewat adegan yang meresahkan ini, Haneke yang berusia 75 tahun membuktikan bahwa dia masih dapat menghasilkan ketegangan dengan lebih cekatan dibanding kebanyakan sutradara film horor yang lebih muda setengah dsari umurnya dan dia juga masih bisa memberi komentar tentang teknologi digital yang tidak manusiawi dibanding para pembuat film dokumenter,

Adegan berikut -juga diambil pengguna telepon misterius- namun kali ini melibatkan seekor hamster (seperti tikus) yang malang dan lebih mencekam lagi. Ketika sepertinya seluruh film akan menjadi serangkaian video Facebook Live, Haneke malah beralih ke video rekaman kamera pengawas dari sebuah gedung yang mirip kawah, yang fondasinya sedang dibangun.

Jika Anda tidak menonton dengan seksama, maka Anda kemungkinan tidak akan menyadari salah satu sisinya dengan para pekerja yang sedang bekerja di bawahnya.

Akhirnya, kita mengetahui perusahaan yang bertanggung jawab atas bangunan tersebut dimiliki keluarga Laurent, yang berbudaya dan sopan, yang merupakan salah satu pemilik gedung megah di Calais, kota pelabuhan Prancis. Kepala keluarga adalah Georges (Jean-Louis Trintignant, yang juga membintangi film Haneke sebelumnya, Amour). Dia adalah pria berusia 84 tahun yang mulai kehilangan kemampuan namun tetap sinis.

Dua anaknya, Anne (Isabelle Huppert) dan Thomas (Mathieu Kassovitz), pada mulanya terlihat sebagai orang tua yang penuh perhatian dan berkepribadian dengan karier terhormat. Agak lama baru kita bisa melihat dalamnya kebenciaan mereka atas pembantu warga Maroko, yang merupakan pendatang di sana, dan juga kepada siapapun yang bukan mereka.

Generasi berikutnya tidak begitu bagus dalam menutup-nutupi berbagai masalah. Putra dewasa Anne, yaitu Pierre (Franz Rogowski) memiliki cukup hati nurani untuk menjadi gila akibat ibunya, yang memperlihatkan kegilannya secara spektakuler lewat karaoke dan breakdancing saat mabuk.

Sedangkan Eve (Fantine Harduin), putri Thomas yang berusia 12 tahun dari perkaiwinan pertamanya bisa dilihat sebagai Wednesday Addams dalam film Addams Family. Dalam karya lainnya, The White Ribbon, Haneke membayangkan sebuah desa anak-anak yang sudah sangat rusak sehingga mereka ingin menjadi Nazi jika dewasa. Saya khawatir membayangkan seperti apa kelak Eve jika sudah dewasa.

Ketika rahasia keluarga terungkap dan motifnya diketahui, ada beberapa momen yang mengejutkan tentang kekerasan brutal yang tiba-tiba, seperti kebanyakan film horor Hollywood, dan film ini kemudian melewati kekejaman terburuknya, sebuah indikasi bahwa keluarga Laurent sendiri tidak menganggap penting kekerasan yang terjadi.

Yang lebih mengerikan adalah mereka tetap tenang dengan adegan berlangsungnya dialog yang beradab yang tidak mengandung kekerasan, namun memperlihatkan pandangan keluarga bahwa uang dan pengacara bisa mengalahkan siapapun yang berani menghalangi mereka.

Jadi Happy End bukanlah film mudah ditonton, juga tidak membawa kegembiraan karena kita memang sedang membicarakan suhu dalam film Eropa yang membuat orang merasa tidak nyaman.

Namun ketika mencapai bagian akhir yang tidak menyenangkan, keping-keping rumit Haneke menjadi utuh dan memuaskan. Sesuatu yang bukan hanya merupakan gambaran teliti tentang sebuah keluarga, tapi tentang dunia. ***

Anda bisa membaca artikel dalam asli dalam Bahasa Inggris Five stars for new film Happy End dan tulisan-tulisan seni budaya lainnya di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait