Star Wars seharusnya berhenti pada satu film saja

starwars Hak atas foto Lucas film
Image caption Tidak banyak orang yang meninggalkan jejak yang begitu dalam pada hiburan media populer dunia seperti George Lucas.

Empat puluh tahun setelah beredarnya film yang sekarang kita sebut Star Wars - Episode IV: A New Hope, perayaan 40 tahunnya cenderung mengangkat warisan yang gemilang: tiga lanjutan dan empat film pendahulunya, dua film TV dan satu film animasi, 298 novel serta 278 episode kartun dan tentu saja the Star Wars Holiday Special.

Juga ada mainan video dan tokoh boneka, kaos, tas makan siang serta semua artileri torpedo proton yang ditembakkan oleh opera ruang angkasa George Lucas ke inti reaktor budaya popular.

Bisa dipahami. Tidak banyak orang yang meninggalkan jejak yang begitu dalam pada hiburan media populer dunia seperti Lucas -ya mungkin Stan Lee juga- jadi masuk akal jika muncul pengakuan atas pengaruh besar Lucas.

Namun ada sisi lemahnya, yang menyangkut pencapaian utama A New Hope adalah memasukkan semua film dan turunannya sehingga menjadi batu fonasi sebuah katedral. Tapi itu bisa menjadi cara memandang yang salah. Sama menyenangkan dengan film lanjutan dan mendahuluinya, tapi mereka bisa mengaburkan pandangan kita atas yang asli.

Pada tingkat tertentu, mereka merusaknya. Waralaba Star Wars mungkin yang paling berhasil dalam sepanjang sejarah bioskop namun mungkin akan lebih baik jika dimulai dan berakhir dengan satu film pada tahun 1977.

Namun salah satu bagian tercerdas dari A New Hope adalah film itu menjadi bagian dari satu rangkaian. Ketika dirilis judulnya bukanlah Episode IV -karena baru ditambahkan pada peredaran ulang tahun 1981- tetapi judul memberi kesan bahwa ceritanya sudah berlangsung. Mencerminkan satu serial fiksi ilmiah pada Sabtu pagi, Lucas memasukkan opening craw" atau pendahuluan yang memikat tentang yang terjadi sebelumnya: "Pesawat angkasa luar pemberontak, menyerang dari pangkalan tersembunyi, meraih kemenangan pertama melawanKekaisaran Galaktika yang kejam."

Dari sana film mempertahankan ilusi bahwa 'jika kita menonton seminggu sebelumnya, kemungkikan kita melihat peswat angkasa luar pemberontak menyerang dari pangkalan tersembunyi'.

Ada rujukan tentang 'agama kuno; dan 'Senat Kerajaan'. Tentu saja ada pernyataan bahwa terjadinya 'pada masa lampau di sebuah galaksi yang sangat, sangat jauh'. Gambaran ini meningkatkan perasaan bahwa petualangan yang kita tonton, meskipun menakjubkan, adalah hanya salah satu dari banyak hal yang terjadi di galaksi yang amat jauh itu.

Degan alasan itu, A New Hope dapat menjadi lebih menarik saat ini jika setiap episode dibiarkan sebagai imajinasi kita, saat bermain di lapangan atau ngobrol di pub, sebagai karya yang diterbitkan sendiri oleh para penggemar fiksi. Namun episode selanjutnya menjawab pertanyaang-pertanyaan, membongkat misteri, mengisi kekosongan, dan menyempitkan ranah dongeng menjadi perdebatan dalam sebuah keluarga bermasalah.

Film sebelumnya merusak tokoh penjahat A New Hopedengan memperlihatkannya sebagai seorang anak nakal yang pemarah, sementara sekuel terbaru The Force Awakens, menghancurkan kelebihannya dengan memperlihatkan kepada kita betapa tidak bergunanya sekuel itu karena bukan saja kejahatan terus ada tetapi juga kedua pahlawan (Han Solo dan Princess Leia) mempunyai anak laki-laki yang tumbuh menjadi seorang pembunuh massal yang maniak.

Keaslian sejati

Saya bisa mengatakan berdasarkan pengalaman bahwa perdebatan ini tidak bisa diterima sejumlah penggemar Star Wars, karena tujuan utama mereka adalah A New Hope bukanlah film terbaik bagi mereka. The Empire Strikes Back, menurut mereka, yang menjadi puncak dari warlaba ini, dengan posisi 94% pada lembaga peringkat film, Rotten Tomatoes, jadi lebih tinggi daripada A New Hope dan 8,8 di IMDB (sementara A New Hope mendapat 8,7).

Secara teknis kemungkinan lebih baik, tetapi kenyataannya Empire melakukan yang diharapkan dari film Star Wars, sedangkan A New Hope memberikan sesuatu yang tidak diperkirakan siapapun.

Hak atas foto Lucasfilm
Image caption Dua film terbaru Star Wars -The Force Awakens dan Rogue One- mengambil inspirasi dari A New Hope.

Selain itu, Empire jelas merupakan episode perantara tanpa kesimpulannya sendiri. Kecerdasan A New Hope adalah film ini berpura-pura sebagai salah satu bagian dari serial, tetapi karya ini adalah satu-satunya film Star Wars yang memiliki alur cerita lengkap. Dia menjadi satu-satunya film dengan perjalanan pahlawan dari tidak ada apa-apanya hingga mencapai kemenangan alam semesta. Lanjutannya akan menjadi sia-sia, sama seperti sambungan Cinderella atau Casablanca.

Para pendukung Empire akan mengatakan jangan perdulikan hal itu. Kan ada tokoh klasik dalam film lanjutan pada tahun 1980? Bagaimana dengan Lando Calrissian, Yoda, dan Boba Fett? Jawaban saya, memangnya kenapa? Jika saya ingin melihat penyelundup Millenium Falcon ingin bergabung dengan pemberontak Rebels, maka saya tidak butuh Lando. Sudah ada Han Solo. Jika saya ingin menyaksikan seorang pertapa beruban jadi suhu Jedi, maka Obi-Wan Kenobi sudah melakukan pekerjaan tersebut dengan sempurna sebelum Yoda muncul.

Sedang Boba Fett -penjahat berjubah dan berhelem- jelas kemiripannya dengan Darth Vader bukanlah suatu hal kebetulan. Vader digambarkan sebagai pemburu penjahat, namun ketika ditulis kembali dia adalah pemimpin penjahat Imperial, peran pemburu penjahat diberikan ke Boba Fett.

Mengulang resep

Mengejutkan seberapa cepatnya Lucas melakukan plagiat atas dirinya sendiri atau betapa cepatnya dia memainkan variasi atas tema yang diperkenalkannya lewat A New Hope. Dari delapan film laga Star Wars, tiga diantaranya diakhiri dengan kelompok pemberontak yang meledakkan Death Star, dan empat lainnya memiliki seorang pemuda dari planet tidak terkenal ke pusat konflik.

The Force Awakens adalah satu film yang paling banyak mencuri dari A New Hope, dengan alur cerita yang sama yang diramaikan dengan tokoh-tokoh yang sama banyaknya namun hampir tidak ada penjahatnya. Rogue Onedianggap yang paling membawa pembaruan, tetapi terdapat tokoh yang enggan jadi pahlawan (Jyn Erso), serta guru penghuni gua (Saw Gerrera), dan robot lain yang pesimistis (K-2SO), dan pilot pemberani lainnya (Cassian Andor). Film ini bahkan memiliki pahlawan yang mengendap-endap di markas musuh dengan menyamar menggunakan pakaian Kerajaan, sama seperti Luke Skywalker dan Han Solo 40 tahun lalu.

Hak atas foto Lucasfilm
Image caption Serial Star Wars berlanjut di televisi lewat The Clone Wars dan sekarang Star Wars Rebels, yang akan memasuki musim terakhirnya.

Apakah kita seharusnya berharap lebih banyak dari film populer fiksi ilmiah? Penggemar Star Wars, termasuk diri saya, sangat berterimakasih jika sutradara melakukan perubahan. Misalnya tameng baja hitam dan bukan putih! Robot droid bulat dan bukan silindiris!. Tetapi A New Hope mengubah segalanya.

Perlu diingat, Lucas tidak akan membuat film yang mengubah paradigma jika dia berhasil mendapatkan hak atas Flash Gordon. Dia dan Steven Spielberg juga tidak akan membuat Raiders of the Lost Ark jika Spielberg diminta untuk menyutradarai film James Bond.

Karena dia harus mengembangkan tokoh dan situasi yang baru -jadi bukan hanya sekedar mengubah yang sudah ada- maka dia menempuh revolusi film utama. Bayangkan tokoh dan situasi seperti apa yang dia bayangkan jika Star Wars tidak menguasai hidupnya? Dan apakah terbayang yang mungkin diciptakan oleh para penerusnya -seeprti JJ Abrams, Gareth Edwards, Rian Johnson, dan yang lainnya- jika mereka tidak terlalu sibuk untuk menirunya?

Masih belum yakin? Ingat saja hal ini: jika tidak ada pendahalu dan lanjutannya, maka kita tidak akan membicarakan Star Wars - Episode IV: A New Hope. Kita bisa menganugerahkannnya dengan judul yang monumental yang layak, yaitu yang ada tahun 1977: Star Wars.

Kita dapat memberikan film itu judul yang sepadan dari tahun 1977: Star Wars.***

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Why Star Wars should have stopped at just one film di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait