Para pria yang mengabaikan tornado

Alberta, Kanada, tornado, Wessels Hak atas foto Cecilia Wessels/Facebook
Image caption Theunis Wessels tampak tetap tenang memotong rumput sementara tornado terlihat di belakangnya.

Asumsi yang umum adalah jika tornado datang, maka tempat yang paling tenang adalah di pusatnya: di mata badai itu. Begitulah sampai sekarang.

Tapi sebuah foto yang diambil baru-baru ini di sebuah kota kecil di Kanada, Three Hills, di Provinsi Alberta, menyarankan bahwa tidak ada tempat lebih tenang dibanding yang ada di dalam benak Theunis Wessels.

Awalnya ketika istri Wessels, Cecilia, diberitahu oleh putrinya yang berusia sembilan tahun bahwa Wessels sedang memotong rumput sementara tornado terlihat di kejauhan.

Waktu suaminya menolak untuk masuk ke dalam rumah karena yakin kalau tornado sedang menjauh dari mereka, dia mengambil foto tornado itu untuk diperlihatkan ke orang tuanya. Foto yang kemudian tersebar luas lewat media sosial itu mencerminkan 'datuk-nya ketidakperdulian'.

Dalam foto itu, Wessels yang tetap tenang dengan celana pendek musim panas dan kaca mata hitam, terlihat sama sekali tidak terusik dengan malapetaka dari gulungan awan tersebut.

"Saya mengambil foto untuk memperlihatkan kepada ibu dan ayahnya di Afrika Selatan, 'Lihat ada tornado' namun semua orang bertanya, 'Kenapa suamimu memotong rumput?" kata Cecilia ke situs berita Times Colonist.

Ketika belakangan ditanya tentang tornado di dekatnya, jawaban ringan Wessels adalah, "Saya mengawasinya," terdengar sama asyiknya dengan gaya memotong rumputnya walau tornado ada di dekatnya. Dan tanggapan itu mendapat penghormatan.

Hak atas foto Cecilia Wessels/Facebook
Image caption Ketenangan Wessels memicu kehebohan dan juga pujian.

"Alberta, Kanada," tulis seorang pemujanya di Twitter, "ketika pria menghadapi sesuatu dan melakukan yang perlu dilakukan."

Sementara seorang penulis di Majalah Esquire, Peter Wade, mencatat semacam renungan, "Saya bisa berempati dengan Theunis, kadang dunia marah di luar sana dan satu-satunya yang bisa Anda pertahankan adalah bagian kecil Anda sendiri."

Bagi banyak orang, seperti Wade, foto itu tampaknya menangkap tempramen dari era kita dan saya ingat bahwa sekali waktu pernah melihatnya, dalam suasana bahaya yang lain: yaitu watak tenang yang kecil yang mudah terlupakan di latar belakang sebuah potret yang penuh semangat dari tokoh antiperbudakan Amerika Serikat, John Brown.

Dibuat tahun 1939 -pada tahun yang sama ketika karakter Dorothy Gale tersapu tornado dalam film The Wizard of Oz- karya potret dari seniman Kansas, John Steuart Curry, itu menampilkan Brown yang tampaknya sedang memperingatkan kemanusiaan tentang bencana meluas, yang dilambangkan dengan tornado di belakangnya.

Tornado itu mencerminkan akan maraknya Perang Saudara di Amerika Serikat yang menghancurkan (yang pecah 78 tahun sebelum Curry menciptakan lukisannya), dan tidak akan terlupakan orang.

Hak atas foto Arthur Hoppock Hearn Fund, 1950
Image caption John Brown (1939) karya John Steuart Curry memperlihatkan seseorang di latar belakang di dekat kereta kuda yang tetap tenang walau ada tornado.

Meskipun fisik Brown yang berapi-api yang mendominasi lukisan, gaya berjalan lambat yang tidak terganggu dari seorang pria yang digambar berada di tengah kanvas -di antara Brown dan tornado yang mendekat- yang akan melekat di mata begitu terlihat.

Coba Anda lihat kembali foto John Brown: apakah Anda bisa melihat pria di dekat kereta kuda yang sepertinya tidak perduli itu?

Berada di antara modalitas kemarahan -antara retorik dan imajinatif, historis dan simbolis- pemilik kereta kuda yang kesepian itu memutus sebuah ketidakpastian dengan bekerja secara riang: dengan simpati yang terkunci di dalam dirinya.

Apakah kedua badai yang mengurungnya -moralitas Brown dan perang- membahayakan keberadaannya atau keduanya semata-mata hanya merupakan gangguan di kejauhan dari seseorang 'yang mengawasi' tapi tidak akan terlempar dari jalannya?

Silahkan membaca artikel aslinya dalam Bahasa Inggris, The man who ignored a tornado, dan artikel-artikel kebudayaan lainnya tentang seni budaya di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait