Apakah Donald Trump berguna untuk seni di Amerika Serikat?

trump Hak atas foto Lucian Wintrich
Image caption Rangkaian foto Lucian Wintrich's #TwinksforTrump muncul di New York pada pameran seni alternatif kelompok kanan #DaddyWillSaveUs: Make Art Great Again.

Presiden Amerika Serikat sempat memesan, tetapi kemudian menolak lukisan Trump Tower karya Andy Warhol. Sekarang dia kemungkinan "membangkitkan kreatifitas," tulis Alastair Sooke.

Ditengah-tengah kegaduhan yang tidak pernah berhenti terkait Donald Trump, satu hal dari mantan bintang TV realita ini nyaris tidak terlaporkan: sikapnya terhadap dan tujuannya dalam hubungannya dengan dunia seni dan kebudayaan.

Baru-baru ini, saya mengunjungi Amerika Serikat untuk membuat dokumenter tentang hal ini. Trump on Culture: Brave New World? Akan disiarkan di BBC World News bulan ini.

Trump sering kali digambarkan sebagai seseorang kasar tidak berbudaya, yang sama sekali tidak memahami seni. Tetapi ternyata bukunya dari tahun 1987 yang laku, The Art of the Deal, yang sebenarnya ditulis wartawan Tony Schwartz menceritakan sejumlah lelucon yang mengisyaratkan bahwa kemungkinan akan tidak tepat jika mengatakan Trump sama sekali tidak tertarik kebudayaan.

Sebagai contoh, bab ketiga berisi pengungkapan bahwa sebagai "anak agresif" kelas dua, Trump meninju guru musiknya sehingga matanya biru "karena tidak mengetahui apapun terkait musik".

Kita kemudian mengetahui bahwa Trump "tertarik dengan kegemilangan film" dan sempat berpikir untuk masuk sekolah film di California. Kemungkinan dia memenuhi ambisi Hollywood-nya dengan muncul di sejumlah film, mulai dari Home Alone 2 sampai Zoolander.

Dan tentu saja, Trump terobsesi dengan arsitektur. Dia tetap bangga dengan pencakar langit 58 lantai Trump Tower di Fifth Avenue, New York. Teras mewah, marmer merah muda dengan air mancur megah mewakili keindahan tahun 1980-an.

Hak atas foto Matthew Raviotta and Burke Battelle for Badlands U
Image caption Seniman Paul Chan merancang papan protes berdasar Westboro Baptist Church.

Tetapi cerita pembangunan Trump Tower akan membuat siapa pun yang mempertanyakan pengaruhnya sebagai presiden terhadap seni menjadi malu. Gedung toko serba ada mewah Bonwit Teller harus dibongkar agar Trump Tower dapat dibangun sehingga muncul kontroversi.

Setelah bersedia menyerahkan dua karya seni bersejarah Art Deco yang menghiasi bagian luar gedung itu ke Metropolitan Museum of Art, Trump mengeluhkan biaya penyelamatannya dan ingkar janji. "Jadi," katanya seperti ditulis di The Art of the Deal, "Saya memerintahkan orang saya untuk membongkarnya."

Terkait Trump Tower, ada juga cerita aneh interaksi taipan ini dengan Andy Warhol, seperti dicatat seniman American Pop ini di catatan hariannya.

Karena didorong Trump, yang mengunjungi the Factory pada tahun 1981, Warhol membuat serangkaian potret Trump Tower dalam warna hitam, perak dan abu-abu, yang dia harapkan akan digantung di lobi gedung itu.

Sayangnya, bagi Warhol, Trump tidak menyukai delapan lukisan tersebut. "Trump sangat marah karena warna lukisan tersebut tidak senada," tulis Warhol.

Sebagian lukisan silkscreen Warhol bahkan ditaburi bubuk berlian, yang Anda pikir akan disukai Trump. Tetapi dia menolaknya karena tidak cocok dengan warna merah mudan dan jingga lobi gedung. Lukisan tersebut tetap tidak terjual dan Warhol sangat terganggu karenanya.

'Pikiran Playboy'

Harus diakui terdapat sejumlah pendukung kuat Trump dalam hal seni, seperti bintang film Clint Eastwood. Tetapi secara umum reaksi masyarakat kreatif adalah suatu kemarahan.

Pidato anti-Trump Meryl Streep di acara Golden Globe Awards permulaan tahun ini kemungkinan adalah contoh terbaik kecenderungan ini. Trump yang dituduh terlalu peka, lewat cuitannya mengatakan Streep sebagai seorang "aktris yang dianggap terlalu besar".

Jadi tidaklah mengherankan saat membuat Trump on Culture, kami menemukan seniman antri mengutuk presiden dan kebijakannya, termasuk novelis Paul Auster dan istrinya penulis Siri Hustvedt.

Kedua menggambarkan Trump sebagai "presiden kebudayaan pop", tergila-gila televisi, terutama bagaimana tingkat kepopuleran pemunculannya di TV dan bagaimana kritikus memandangnya.

"Saya melihat Trump sebagai seorang laki-kali yang besar dengan filosofi Playboy dalam melihat kehidupan," kata Auster.

"Yang saya maksudkan dengan Playboy adalah majalahnya: yang besar pengaruhnya di tahun 60-an dan 70-an. Semua pernyataanya yang tidak patut terkait wanita, yang benar-benar memuakkan, mewakili kesombongan tidak acuh pria Playboy."

Ketika saya menanyakan Hustvedt yang ikut serta Women's March di Washington, mengapa begitu banyak seniman dan penulis yang sangat tidak menyukai Trump, dia menjawab: "Anda maksud, selain bahwa kenyataannya dia adalah seseorang yang kasar?"

Orang lain yang juga sepaham dengan Auster adalah seniman yang tinggal di New York, Brian Whiteley, yang menjadi terkenal tahun lalu karena memamerkan batu nisan Trump di Central Park dengan nama, tahun kelahiran dan tulisan "Buat Amerika menjadi Pembenci Kembali".

Nisan tersebut diliput luas dan membuat seniman tersebut didatangi US Secret Service. Whiteley mengatakan sampai sekarang dia masuk daftar orang yang diawasi.

Mendapat dukungan

Tetapi tidak semua seniman Amerika anti-Trump. Saya menemui Lucin Wintrich, wartawan kontroversial Gedung Putih untuk blog politik konservatif The Gateway Pundit.

Tahun lalu Wintrich menjadi terkenal ketika memamerkan Twinks for Trump, rangkaian foto pro-Trump berisi, sebagian besar, remaja laki-laki gay telanjang dada memakai topi Make America Great Again.

"Sebelum proyek ini,"tulis Wintrich kepada saya," orang akan mengatakan para pendukung Trump, 'Oh mereka tidak tahu apa-apa, pria tua kulit putih, yang bekerja di industri batu bara di Midwest'. Saya, secara pribadi, berpikir bahwa sangatlah lucu memamerkan foto tersebut, misalnya saja menempatkan topi klasik pengemudi truk di konteks yang baru."

Selama saya di AS, semakin jelas bahwa, selama lebih 100 hari menjabat, Trump masih dapat menimbulkan kefanatikan di kedua pihak. "Di Amerika Serikat, kami mengalami Perang Saudara," Hustvedt mengatakan kepada saya. "Dan saya pikir kami dihantui perbedaan ini."

Terlepas dari panasnya retorika, seperti apa sebenarnya kebijakan Trump terkait kebudayaan di Amerika? Bagi para pendukung seni kemungkinan ini adalah dasar paling jelas mengapa mereka khawatir.

Dalam rancangan anggaran permulaan tahun ini, Trump mengajukan pemotongan pendanaan federal untuk National Endowment for the Arts, meskipun anggaran NEA hanyalah US$148 juta atau Rp1,9 triliun, sama dengan 0,004% dari belanja federal.

Sementara pendanaan NEA sudah pernah terancam di masa lalu, tidak satu presidenpun, sejak pembentukannya pada tahun 1965, pernah mengusulkan pemotongan badan ini, sama sekali. Ironisnya, gedung megah di Washington yang sebelumnya adalah bangunan NEA sekarang menjadi hotel Trump.

Meskipun demikian terjadi perubahan yang mengejutkan. Setelah perdebatan dengan Congress, NEA diberikan pendanaan tambahan US$2 juta atau Rp26 miliar meskipun ancaman pembubaran tetap ada.

Dalam beberapa hal, peristiwa yang masih berlangsung ini mewakili tindakan Trump yang membingungkan.

Pada mulanya, Trump ingin menghapus NEA. Kemudian dia sepertinya meningkatkan pendanaan, meskipun tidak begitu besar. Mungkin masih terlalu dini untuk mengetahui pengaruhnya secara umum pada seni dan kebudayaan di zaman Trump.

Meskipun demikian, saya tetap tidak yakin presiden AS ke- 45 merupakan ancaman suram bagi nilai-nilai yang dihormati seni, termasuk kebebasan menyatakan pendapat.

Anda kemudian bisa mempertanyakan, karena dia merupakan tokoh yang dibenci banyak orang kelompok kiri di kalangan seni, Trump sepertinya membangkitkan kreativitas, dengan memberikan sesuatu untuk dibenci dan diprotes.

Masyarakat mana pun seharusnya menghargai ekspresi seni, dan hal paling banyak terjadi di negara yang bangga sebagai Land of the Free.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Is Trump good for the arts in the US? di BBC Culture.

Berita terkait