Apakah seniman bisa dipisahkan dari karya seninya?

seni Hak atas foto Mendieta
Image caption Ana Mendieta meninggal jatuh dari lantai 34 apartemennya di New York di tahun 1985.

Seberapa tepat pernyataan ini: karya seni harus dinilai berdasarkan karya itu sendiri, terlepas dari cara hidup senimannya, bahkan jika mereka sampai menghancurkan atau menyakiti orang lain?

Mungkin kita haris menimbang-nimbang jawabannya, karena sebagai mahluk berbudaya kita memandang karya seni sebagai sebuah kebenaran jika terkait dengan sejumlah seniman namun tidak demikian halnya untuk seniman-seniman lainnya.

Pameran di Tate Britain di London, yang berjudul Queer British Art-yang bisa diartikan sebagai Seni Aneh Inggris- antara lain menampilkan karya penulis dan seniman kolase Kenneth Halliwell. Dan pameran itu hanyalah satu dari serangkaian pameran dan pemutaran film baru-baru ini yang mungkin mendorong Anda untuk kembali mengajukan pertanyaan tadi.

Tahun 1967, di dalam sebuah kamar kecil di London utara yang jadi tempat tinggal bersama pasangannya, Halliwell membunuh pasangan prianya Joe Orton sebelum bunuh diri. Dia menderita depresi, merasa terasing, dan taku kehilangan Orton -yang saat itu memang sudah bosan dengannya. Halliwell meninggalkan surat bunuh diri dengan mengatakan semuanya akan terjelaskan di buku harian Orton, 'terutama yang bagian akhir'.

Halliwell umumnya mendapat simpati dari para penulis dan pembuat film yang mendokumentasikan kehidupannya bersama Orton. Masuknya kolase Halliwell di salah satu museum terkenal Inggris, Tate Britain, tampaknya sama sekali tidak mengundang kontroversi. Malah perilaku Orton yang dianggap hanya memikirkan diri sendiri, kejam, mau tidur dengan siapa saja dan keberhasilan yang pesat yang mendorong Halliwell melakukan perbuatan yang putus asa.

Kita mendapat penjelasan tentang kompleksitas psikologis yang tidak selalu tersedia jika sebuah kejahatan besar terjadi, namun pada saat yang sama saya tertanya-tanya apakah ada sesuatu yang tidak dinyatakan di sini tentang 'kesalahan' Orton, yang membuat dia dibunuh.

Jelas sekali amat tergoda untuk bertanya apakah ceritanya akan sama jika Orton adalah seorang perempuan? Menarik untuk merenungkan bagaimana kira-kira lembaga-lembaga pada masa kini akan melihat dinamikanya jika hubungan tersebut adalah heteroseksual. Apakah mereka tetap bersemangat untuk menempatkan Haliwell sebagai seorang seniman sementara di sisinya ada korban seorang perempuan?

Kerangka perbedaan

Salah seorang seniman yang karyanya jauh lebih penting daripada Halliwell adalah pematung minimalis Carl Andre. Dia masih hidup dan sering berpameran.

Andre menikah dengan seniman Ana Mendieta sampai dia meninggal tahun 1985, dan banyak pihak yang mempertanyakan situasi kematiannya. Mendieta jatuh dari apartemen pencakar langit milik pasangan itu di New York, dan pada tahun 1988 Andre dinyatakan tidak bersalah.

Meskipun divonis bebas, pameran Andre dipenuhi unjuk rasa para pegiat feminis dan sesama seniman. Salah satu pengunjuk rasa menuangkan cat merah di luar galeri tempat karyanya dipamerkan. Cat merah itu merupakan sebuah penghormatan atas pertunjukan Mendieta yang kuat ketika dia menuangkan darah pada tubuhnya dan di sekitarnya, namun juga untuk mengingatkan kematiannya yang brutal.

Bulan lalu, pameran terbatas untuk karya seni Andre di Geffen Contemporary, Los Angeles -salah satu bagian dari Museum of Contemporary Art (Moca)- diramaikan dengan permadani kain di pintu masuk dengan barisan lilin yang ditaruh di sekitar gambar jenazah manusia. Selain itu, dibagikan pula kartu pos bergambar Mendieta dengan tulisan: "Carl Andre di Geffen Moca. Dónde está Ana Mendieta (Di mana Ana Mendieta?)".

Unjuk rasa dalam bentuk pertunjukan itu melampaui pertanyaan apakah Andre bersalah atau tidak, namun dengan membahas lembaga seni yang nilai-nilainya dipertanyakan. Unjuk rasa memperlihatkan pula berkumpulnya kegelisahan dan kepekaan tentang bagaimana karya Mendieta yang sudah lama dilupakan sejak kematiannya, yang amat kontras dengan karya Andre yang terus dipuja tanpa kedipan mata sama sekali.

Unjuk rasa juga membuat jelas bagaimana karya seni dan kehidupan senimannya tidak bisa dipisahkan dengan mudah. Bagaimana kita mempertemukan keduanya memang akan menjadi rumit, terutama jika terkait dengan seniman yang sudah lama menjadi investasi dari budaya mapan sehingga tidak bisa dikorbankan begitu saja sebagai komoditas yang berharga. Sementara Mendieta sudah sejak lama bisa dibuang oleh kebudayaan yang tidak menanam modal untuk karya seni perempuan.

Ada konteksnya

Sebuah badan yang siap untuk mempertanyakan pengaruh kehidupan seorang seniman terhadap cara kita menyikapi karyanya adalah Ditchling Museum of Art + Craft. Museum kecil di East Sussex, Inggris selatan ini, berisi karya pematung, perancang jenis huruf, dan pembuat cetakan abad ke 20, Eric Gill dan rekan-rekannya. Kehidupan Gill sebagai pelaku pelecehan seksual atas dua putri remajanya pertama kali tercatat di biografinya yang ditulis oleh Fiona MacCarthy pada tahun 1989, selain hubungan sedarah dengan saudara perempuannya.

Meskpun informasi itu sudah diketahui secara terbuka sejak hampir 30 tahun, tidak satupun yang mempertanyakan pameran karya seniman itu, dengan melihatnya sebagai hal yang tidak penting atau tidak relevan. Tampaknya para kurator seni berusaha menghindari dari biografi seniman ketiga dianggap terlalu problematik, karena setiap pencatuman biografi membutuhkan lebih dari sekedar penyebutan sambil lalu saja, kecuali seniman bersangkuta sudah terlalu lama meninggal sehingga kita tidak terganggu lagi.

Coba bayangkan berapa kali Caravaggio, yang dikenal sebagai pembuhun dan diduga homoseksual, disebut-sebut dalam upaya untuk mempertahankan prinsip pemisahan seniman dari karyanya.

Ketika Ditchling Museum dibuka kembali ahun 2013 setelah dilakukannya renovasi besar-besaran, tidak satupun dari pelecehan yang dilakukan Gill disebut-sebut, meskipun orang yang mengetahuinya tidak bisa tidak akan diingatkan lewat, misalnya, lukisan intim dan sensual anak perempuannya Petra yang sedang mandi. Memang apa yang Anda lihat bisa berubah tergantung pada yang Anda ketahui.

Hak atas foto Wikipedia
Image caption Caravaggio dikenal sebagai pembunuh dan homoseksual.

Tidak satupun dari karya itu yang menuntut penyensoran. Tetapi konteksnya yang mungkin menjadi penting.

Gill banyak membuat monumen dan patung sepanjang hidupnya, termasuk patung Prospero and Ariel di bagian luar kantor pusat BBC, Broadcasting House. Dia juga dikenal sebagai penganut Katolik yang taat, memahat ikon agama dan altar sejumlah gereja maupun katedral di Inggris, termasuk Stations of the Cross di Katedral Westminster, London.

Ketika buku MacCarthy beredar, sempat muncul upaya untuk membuang karyanya dari katedral. Anda bisa membayangkan kebingungan yang terjadi di antara para jemaat ketika melihat karya suci yang 'tidak patut' itu, yang seharusnya justru memberikan bimbingan moral dan ketenangan. Tetapi sepertinya sekarang sebagian besar orang sudah bisa menerimanya.

Ditchling museum kini sudah menempuh pemikiran radikal, yang menjadi inti dari pameran yang sedang berlangsung Eric Gill: The Body, yang mempertanyakan bagaimana pengetahuan tentang perilaku kasar Gill mempengaruhi pandangan kita atas karyanya, yang sebagian memang gamblang secara seksual. Saat mempersiapkan pameran, museum meminta masukan dari sejumlah LSM korban pelecehan seksual.

Dan tentu saja, bukan hanya soal karya seni. Saat kita memuja seorang seniman, sering juga kita mengangkat mitos tentang kehidupan mereka. Kita melakukan seperti itu dengan Caravaggio karena kita terpesona dengan citra 'anak nakalnya'. Kekasaran dan seksualitas membuatnya hidup dan mennadi modern, sama hidupnya dengan lukisannya.

Kita juga melakukan dengan Oscar Wilde, yang kita sekarang kita puja justru berdasarkan hal-hal yang sebelumnya dikutuk masyarakat . ***

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Can you separate the artist from the art? dan artikel lain tentang seni dan budaya di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait