Fallingwater, rumah paling indah di dunia

Hak atas foto Wikipedia
Image caption The Illinois, gedung bertingkat 528 lantai yang seharusnya memiliki lift 'tenaga atom'.

Di Chicago pada tanggal 16 Oktober 1956, Frank Lloyd Wright yang saat itu adalah arsitek paling terkenal di Amerika Serikat, menggelar konferensi pers untuk The Illinois, pencakar langit setinggi satu mil atau 1,6 km -empat kali lebih tinggi daripada Empire State Building. Wright -yang lahir pada bulan Juni 150 tahun lalu- saat itu berumur 89 tahun -dan Museum Solomon R Guggenheim sedang dibangun di Fifth Avenue, Manhattan- tetap merupakan sosok yang radikal dan provokatif.

Proyek Guggenheim -terlepas dari kontroversi bentuk bangunannya- membuat dia dipuja media New York, sehingga dia muncul di acara kuis populer TV, What's My Line? pada bulan Juni 1956. Bulan September, Wright dua kali muncul di acara Interview-nya Mike Wallace. Anda masih bisa menontonnya di YouTube.

Tampak menarik, Wright dengan matanya yang keriput, tampil amat cerdas. Memang menakjubkan bahwa Anda masih bisa melihat dan mendengar bahwa seorang pria yang lahir 150 tahun lalu masih tetap relevan di abad ke-21 untuk berbagai masalah politik, etika, dan tentu saja arsitektur.

Wright memang jagoan dalam menyampaikan satu kalimat yang tajam. Kepada seorang klien yang mengeluh atap bocor di rumah barunya yang membuat air menetes ke meja makan tempat duduk, dia malah mengatakan agar 'memindahkan kursi'.

Ketika asistennya yang kurus, William Wesley Peters, di dalam salah satu rumah terbarunya dengan langit-langit rendah, dia mengatakan, "Duduk, Wes, Anda merusak arsitektur buatan saya".

Lantas saat sekali waktu berada di ruang sidang dan ditanya pekerjaannya, dia menjawab, "Arsitek terhebat dunia." Istrinya mencoba mengingatkannya namun dia mengatakan, "Saya tidak punya pilihan, Olgivanna. Saya di bawah sumpah."

Hak atas foto EPA
Image caption Museum Guggenheim dengan rancangan yang kontroversial membuat Wright disayangi media New York.

Meskipun proyek-proyeknya yang berani di Chicago dan New York serta perhatian media atasnya berkat proyek-proyek itu, Wright tidak menyukai perkotaan. Nama tuhannya, katanya kepada Mike Wallace, diawali dengan 'n' untuk nature atau alam. Dirancang sebagai tempat tinggal untuk 100.000 orang,The Illinois adalah cara Wright untuk mencegah penyebaran kota sehingga alam menjadi aman dari cengkeramannya

The Illinois tidak pernah dibangun dan Wright, yang karirnya terbentang selama tiga perempat abad, hanya sempat menyelesaikan satu gedung tinggi, Price Tower dengan 19 lantai yang dibuka bulan Februari 1956 di Bartlesville, Oklahoma.

Ketenaran Wright -walaupun imajinasinya terbang tinggi- tetap berpijak pada kenyataan dan terlihat dalam ratusan rancangan rumah di Amerika Serikat yang menggoda, berseni, dan kadang cacat namun selalu didambakan. Salah satu rumah itulah, Fallingwater, yang mengangkat karirnya pada pertengahan tahun 1930-an, ketika bersamaan dengan dampak dari Depresi Besar pada pembangunan rumah, karya-karya Wright mulai dilihat ketinggalan zaman oleh para pengkritik dan generasi arsitek yang lebih muda. Pada saat itu semangat Modernisme Eropa yang bersih seperti karya Bauhaus, Le Corbusier, dan Mies van der Rohe- menjejakkan kaki di AS.

Sebagai maha karya yang diakui dunia, Fallingwater adalah arsitektur yang begitu dekat dengan tanah dan alam. Dibangun di atas air terjun dan bebatuan, rumah ini menjulang ke atas dengan ruang duduk yang menjorok, yang dipercantik dengan pemandangan Pegunungan Appalachian.

Sejak diserahkan ke Western Pennsylvania Conservancy di tahun 1963 dan dibuka kembali sebagai museum tahun berikutnya, sekitar lima juta pengunjung datang ke rumah terpencil di Bear Run, Pennsylvania ini, 65 mil arah tenggara Pittsburgh ini, untuk mengagumi bangunan yang memicu kembali karir Wright.

Image caption Frank Lloyd Wright tetap menjadi seseorang yang individualis, menolak menjadi anggota American Institute of Architects.

Di lokasi

Tempat peristirahatan di pegunungan yang unik dan indah ini dipesan oleh Edgar J Kaufmann -pemilik toko serba ada di Pittsburgh yang kaya raya- dan istrinya yang juga merupakan sepupunya, Liliane Kaufmann, yang banyak membawa budaya luhur Paris ke kawasan Amerika tengah. Kaufmann menginginkan sebuah rumah dengan pemandangan air terjun di Bear Run, tetapi Wright menegaskan, "Saya ingin Anda hidup dengan air terjun, bukan hanya melihatnya."

Jadi setelah beberapa bulan berpikir tentang seperti apa bentuk rumah itu dan Kaufmann yang terus-menerus menanyakannya, Wright akhirnya menghasilkan sejumlah gambar menakjubkan dalam waktu singkat. Rancangannya berupa rumah tiga tingkat pada air terjun, merekayasa beton, besi, kaca dan batu setempat. Sepertinya rumah ini muncul di antara pohon, batu, sungai, dan air terjun.

Namun penopang yang digunakan memicu perdebatan antara sang arsitek dan kliennya. Kaufmann untul lebih memperkuatnya dan Wright mengancam akan mengundurkan diri. Memang penopang besar di bagian depan sungai mulai melengkung ketika dilepas dari patokan betonnya. Muncul juga kelembaban dari aliran air sehingga ada jamur sementara atapnya bocor.

Meskipun demikian, bahkan Liliane -yang awalnya sangat skeptis, akhirnya menghargai keindahanFallingwaterdan suasana sekitarnya. Pemandangan 'pohon tanpa daun dengan dahan yang berlilitan' terlihat dari jendela tanpa kerangka -seperti dutulisnya lewat sebuah surat untuk Wright- adalah 'lebih dari hanya sekedar pengganti tirai'. Fallingwater memang sangat berbeda dengan rumah mewah Neo-Norman karya Kaufmann di Pittsburgh. Wright yang merancang sampai ke detil kecil rumah, membuat sebagian besar perabotan melekat pada dinding rumah. Hal ini, dia yakini, untuk memastikan maha karyanya 'bebas dari campur tangan klien'.

Kaufmann memang sudah lama tidak ada lagi, tetapi bagian dalam rumah masih seperti rancangan Wright.

Selesai dibangun pada tahun 1938, Fallingwater menjadi sampul majalah Time pada bulan Januari, muncul di atas pundak Frank Lloyd Wright. Time menyatakannya sebagai 'pekerjaan paling indah' sang arsitek.

Biayanya jauh melampaui anggaran awal menjadi US$155.000 atau Rp1,9 miliar, yang setara dengan US$2,7 juta atau Rp35 miliar uang sekarang. Wright dibayar US$8.000 atau Rp106 juta. Biaya pemugaran pada awal abad ini -karena dikhawatirkan akan ambruk- sebesar US$11,5 juta atau Rp153 miliar. Sajak di sebuah kafe di Route 381 Pennsylvania, di dekatnya mengatakan, "Frank Lloyd Wright built a house over falling water/which he really shouldn't have oughta" atau "Frank Lloyd Wright membangun sebuah rumah di atas air terjun/yang seharusnya tidak dia lakukan".

Namun pengamat yang yang paling usilpun tidak mempermasalahkan jutaan dolar yang dipakai untuk memugarnya. Fallingwater mungkin saja cacat, tetapi keindahannya abadi. Sekarang, tumah tersebut tidak ternilai harganya.

Tahun 1952, Liliane bunuh diri di Fallingwater. Edgar meninggal tiga tahun kemudian. Anak laki-laki mereka, Edgar Jr, yang kerja magang dengan Wright di awal tahun 1930-an, mewarisinya dan tinggal disana dengan partnernya, arsitek dan perancang kelahiran Spanyol, Paul Mayen. Mereka membuat pusat pengunjung, kafe dan toko pada tahun 1981. Edgar Jr, lalu menyumbangkan Fallingwater bersama dengan kawasan hijau Laurel Highlands seluas 7 m2 dan dana sebesar US$500.000 atau Rp6,6 miliar ke Western Pennsylvania Conservancy.

Bagi Wright, Fallingwater telah membangkitkan kembali karirnya, sehingga memungkinkan dia untuk merancang dan membangun karya yang berbeda dengan Modernisme yang dipengaruhi Eropa selama 20 tahun kemudian. Dia tetap menjadi seseorang yang individualis, menolak menjadi anggota American Institute of Architects. Ketika salah seorang rekannya menyebutnya 'seorang amatiran tua', Wright -yang bekerja sampai meninggal dunia pada usia 91 tahun- menjawab, "Saya yang tertua."***

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The world's most beautiful house di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait