Saat ketika kehidupan bisa bangkit kembali

suriah, buka puasa Ramadan, douma Hak atas foto Getty Images
Image caption Penduduk kota Douma di Suriah sedang menggelar acara buka puasa di ruang terbuka.

Sejarah seni dan sastra penuh dengan reruntuhan.

Seniman dan penyair -dari Nicolas Poussin sampai William Wordsworth, dari Salvator Rosa sampai Sylvia Plath (yang menulis puisi Percakapan di Antara Reruntuhan yang memunculkan 'cahaya suram' dari 'pilar yang retak')- terseret oleh ke pilar-pilar yang hancur dimakan waktu dan relief-relief yang rusak, yang pada suatu masa lalu merupakan budaya penting namun kemudian menguap.

"Batu-batu di sini berbicara," penyair dan penulis esai Jerman abad ke-19, Heinrich Heine, menulis pada tahun 1828, "Dan saya mengerti bahasa dungu mereka... saya menghancurkan diri saya sendiri, berkeliaran di antara reruntuhan.

Hak atas foto EPA
Image caption Anak-anak kota Douma, Suriah, yang berbuka puasa bersama Ramadan tahun ini.

Hancurnya secara perlahan-lahan struktur kuno yang dilihat Heine di sekelilingnya saat melakukan perjalanan melintasi Italia -'sebuah pilar yang rusak pada zaman Romawi, menara Lombard yang runtuh, atau lengkungan gotik yang usang karena cuaca- baginya tampak terlihat sebagai sebagai proyeksi luar dari keberadaan batinnya: "Mereka tampaknya sangat merasakan apa yang saya pikirkan".

Dan bagi saya sendiri, romansa tentang reruntuhan dan kegembiraan yang sebenarnya menakutkan tertinggal tak nyaman di benak saya karena berita-berita dari kota Douma, Suriah yang dilanda perang.

Foto-foto yang mengharukan tersebut merekam bagaimana hasil dari kehancuran bangunan-bangunan dan kehidupan orang-orang bukanlah suatu estetika yang indah untuk direnungkan secara puitis, namun merupakan fakta yang mengerikan tentang eksistensi sehari-hari.

Hak atas foto EPA
Image caption Beberapa orang menganggap bahwa foto-foto ini menunjukkan kehidupan, bukan kematian.

Dengan tekad tidak terhalang dalam merayakan buka puasa Ramadan, penduduk Douma duduk di meja perjamuan di tempat terbuka yang luas untuk sebuah pesta yang gembira di tengah fasad atau kerusakan bangunan yang hancur, yang baru saja dihantam serangan udara berulang kali.

Tiba-tiba, karena foto-foto yang luar biasa ini, pemandangan liris yang amat banyak di dinding museum-museum, dari karya pelukis Claude Lorrain to JMW Turner, menjadi suram, dan tidak relevan. Dengan melihat kembali melalui lensa suasana di Douma ini, maka kebiasaan romantis dalam menyamakan kehancuran eksternal dengan tekanan internal di dalam jiwa seseorang tampaknya menjadi semacam kenaifan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Acara buka puasa ini tetap digelar walaupun harga makanan di Suriah meroket karena konflik.

Untuk perbandingan paralel yang lebih peka dengan foto-foto yang mengharukan dari Douma ini, maka orang harus melihat ke seorang seniman yang imajinasinya dibentuk oleh trauma dan reruntugan kehancuran budaya.

Lahir dua bulan sebelum Nazi menyerah kepada Sekutu pada bulan Mei 1945, seniman Jerman, Anselm Kiefer, sudah lama terobsesi oleh kekuatan yang menghancurkan peradaban dan juga tekad untuk membangunnya kembali.

Pada tahun 2007, untuk karya instalasinya yang ambisius sebagai bagian dari prakarsa seni Monumen Paris -dengan satu karya besar yang mengisi Grand Palais setiap tahunnya- Kiefer meminta para pengunjung ke gubuk-gubuk reyot yang dibangunnya di tengah puing-puing beton yang rusak dan keping besi yang kusut. Karya Kiefer itu diberi judul Falling Stars atau Bintang-Bintang Jatuh.

Namun sepasang menara rapuh yang bergoyang-goyang tampak muncul dari gubuk-gubuk Kiefer.

Untuk menggambarkan suasana karyanya yang berani itu, sang seniman memberikan suara atas sebuah perasaan yang bisa dengan mudah mengisahkan keteguhan penduduk Douma sebagai semangat untuk memotivasi karyanya sendiri.

"Saya merasa reruntuhan adalah momen ketika segala sesuatu menunjukkan dirinya sendiri. Sebuah kehancuran bukanlah sebuah malapetaka. Ini adalah saat ketika segalanya bisa dimulai lagi."***

Silahkan baca tulisan asli dalam Bahasa Inggris: The moment when things can start again dan tulisan-tulisan seni budaya lainnya di BBC Culture.

Berita terkait