Foto-foto menarik dari tempat bermain para miliuner

Chillout Ice Lounge, bar dengan suhu di bawah nol derajat di Oasis Mall, 6 Januari 2016 (Credit: Nick Hannes) Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Turis Saudi menikmati susu cokelat panas di Chillout Ice Lounge, lounge pertama dengan suhu di bawah nol di Timur Tengah, 6 Januari 2016.

Penghargaan foto versi Magnum tahun ini baru diumumkan. Pemenang dari seri dokumenter, Nick Hannes, memperlihatkan bagaimana kehidupan orang-orang super kaya di Dubai.

"Dubai menarik sekaligus kontroversial. Ada penggemar dan pengecamnya. Saya tidak ingin memutuskan apa yang harus dipikirkan oleh penikmat karya saya; mereka harus mengisi cerita itu berdasarkan visi dan pengetahuan mereka."

Fotografer Nick Hannes baru saja memenangkan Magnum Award untuk proyek serinya, Bread and Circuses, yang "memperlihatkan Dubai sebagai tempat bermain bagi globalisasi dan kapitalisme" - tapi dia tak memberikan penilaian. Foto-fotonya justru ambigu dan seringnya cerdas dalam memperlihatkan sekilas kehidupan yang mungkin terasa asing bagi banyak orang.

"Perubahan Dubai yang begitu cepat, dari kota nelayan yang berdebu pada 1960an menjadi metropolis yang ultramodern mengagumkan buat para pendukungnya maupun pengecamnya," Hannes menulis dalam deskripsi proyek ini; banyak dari foto-fotonya dalam seri ini membuat kita melihat ulang, karena ada sudut pandang berbeda yang muncul di permukaan.

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Pemuda UAE bermain biliar di mal City Walk, di kompleks pusat hiburan dan permainan Hub Zero, 5 Januari 2017.

"Sebanyak 90% populasi Dubai adalah pekerja asing," kata Hannes pada BBC Culture. "Dengan kelompok yang sangat heterogen ini, saya memutuskan untuk berfokus pada kelas menengah atas - kelompok yang lebih kaya di masyarakat. Saya pergi ke tempat-tempat di mana anggota kelompok ini bersenang-senang: klub malam, pantai, taman bermain, hotel, mal."

Dengan pulau buatan dan bangunan yang mencontoh bangunan terkenal dunia, Dubai bisa menjadi semacam taman bermain bagi orang-orang kaya; tapi Hannes melihat lebih jauh daripada mobil balap dan logo mode.

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Global Village, taman belanja dan hiburan, dengan 32 paviliun mewakili 75 negara, 7 Januari 2017

"Sumber inspirasi penting dari seri Dubai adalah The Capsular Civilisation, buku dari filsuf Belgia, Lieven De Cauter. Buku itu juga memberi kerangka teori," katanya.

Dia menjelaskan bahwa De Cauter "membayangkan dua masyarakat yang ekstrem: yang pertama adalah kepulauan yang terisolir atau 'kapsul', tempat tinggal yang menyenangkan; dan dunia kedua adalah sisanya: lautan kekacauan dan kemiskinan."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Prototipe vila liburan bawah laut Floating Seahorse dengan seorang pelayan di Heart of Europe, kepulauan buatan manuasia di Teluk Persia, 16 Januari 2017.

Dia melihat kemiripan dengan proyeknya ini. "Proses urbanisasi di Dubai mirip dengan fenomena 'kapsularisasi' seperti yang digambarkan oleh De Cauter. Dalam skala lokal, ada pemisahan antara orang asing dan pekerja migran. Di tingkat global, Uni Emirat Arab bisa dianggap sebagai satu 'kapsul' besar, tempat aman di Timur Tengah yang tak stabil."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Jalan di tengah gurun di Dubai, 20 September 2016.

Namun lagi-lagi Hannes mengatakan bahwa foto-fotonya tidak memperlihatkan sudut pandang tertentu. "Saya tak punya monopoli akan kebenaran, dan oleh karena itu niat saya bukan untuk memberi jawaban. Saya lebih memilih untuk mengajukan pertanyaan soal ketahanan lingkungan, ketidaksetaraan, ekonomi masyarakat, autentisitas, kerakusan. Saya harap ini memunculkan refleksi pribadi."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Yoga di bulan purnama di Fairmont The Palm Hotel, di salah satu pulau buatan manusia, yang berbentuk palem, 17 September 2016.

Banyak dari foto-fotonya yang terlihat seperti lukisan yang aneh, subjeknya terbenam dalam pikirannya sendiri. "Sebagian besar tempat-tempat ini terlihat sureal dan seperti mimipi, seperti terjadi di dunia paralel di mana semua orang bahagia. Namun jika Anda melihat lebih dekat, ada banyak ambiguitas dalam karya saya."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Oasis Mall, 6 Januari 2016.

Hannes mengunjungi Dubai pada 2016 dan 2017.

"Semakin saya terbiasa dengan lingkungan baru ini, saya merasa bahwa kehidupan sehari-hari cukup bisa ditebak dan konvensional. Ada banyak hal yang bisa dilakukan, dari bermain ski sampai safari di gurun pasir; tapi saya kehilangan spontanitas dan kejutan di bagian modern kota. Untuk berjalan-jalan, saya lebih menikmati Deira, pusat bersejarah di Dubai, di mana warga Asia dan Afrika kebanyakan tinggal."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Kembang api Idul Adha di atas pulau buatan Bluewaters, 14 September 2016.

Hannes terinspirasi untuk memotret Dubai setelah proyek sebelumnya.

"Saat mengerjakan buku terakhir saya, Mediterranean: The Continuity of Man, saya mulai tertarik dengan pertumbuhan urban buatan dan dampaknya pada masyarakat," katanya.

Hannes tertarik dengan ketegangan antara turisme dan perlindungan lingkungan. "Untuk proyek saya berikutnya, saya ingin masuk lebih dalam ke topik ini - keingintahuan membawa saya ke Dubai, sebuah contoh yang terkenal akan urbanisasi yang berlebihan dan didorong oleh pasar."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption La Manga del Mar Menor, Spanyol.

Banyak dari foto-fotonya di Mediterranea memperlihatkan kontras yang tajam, menawarkan warna Technicolor dari topik yang berat.

"Humor adalah cara yang kuat untuk mendapat perhatian orang," kata Hannes. "Humor yang bagus mengejutkan dan membuat orang melihat lebih dekat dan lebih lama. Saya menggunakan humor dan ironi dalam foto-foto saya, tapi di saat bersamaan saya juga berusaha lebih jauh. Foto-foto saya bukan hanya humor visual, tapi juga mempertanyakan cara kita menghadapi dunia tempat kita tinggal."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Pernikahan di pom bensin, Rio, Yunani [Mediterranean #16]

Hannes mengambil foto ini pada 2012, sebagai bagian dari seri Mediterranea.

"Pemilik pom bensin menikah pada hari itu dan memutuskan untuk mengadakan pesta di tempat kerjanya daripada menyewa ruangan pesta atau restoran," katanya.

"Foto ini menunjukkan krisis ekonomi di Yunani dengan cara lain daripada stereotipe yang sering kita lihat (pengemis, distribusi makanan, kerusuha di Athena...). Saya kebetulan berada di sana, dan menghabiskan semalaman dengan mereka. Salah satu pesta pernikahan terbaik dan paling menyentuh yang pernah saya datangi."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Brest, Belarus, 2008 [Red Journey #58]

Seperti adegan dalam film Wes Anderson, foto ini diambil dalam perjalanan selama setahun menjelajahi negara pecahan USSR pada 2008. "Patung itu adalah bagian dari kompleks peringatan "benteng pahlawan"," kata Hannes.

"Anak-anak muda (yang lahir lama setelah keruntuhan Uni Soviet) berlatih berbaris ganti petugas di api abadi dengan tradisi serta mengenakan seragam Uni Soviet."

Hannes memiliki ketajaman untuk foto-foto yang tertata komposisinya, tampak aneh dan sekaligus jenaka bagi penikmatnya.

"Saat belajar, saya terinspirasi oleh Henri Cartier-Bresson dan generasi tua fotografer dokumenter hitam putih. Warisannya (momen yang tepat, komposisi yang seimbang) masih berperan dalam foto-foto saya. Saya juga merasa kedekatan dengan sutradara Jacques Tati, untuk soal komposisi dan humor."

Hak atas foto Nick Hannes
Image caption Perayaan Saint Anthony, Ingooigem, 17 Januari 2010 [Traditions #10].

Dalam karya Hannes, humor menjadi jalan masuk untuk sesuatu yang lebih dalam dan bermakna, seperti foto yang diambil pada 2010 sebagai bagian dari penugasan akan buku soal tradisi di Belgia.

"Saint Anthony adalah patron pelindung peternak babi," katanya menjelaskan bahwa sebelum dilelang, babi juga diperlihatkan dalam misa. "Saat orang pertama tertawa, mereka kemudian menyadari bahwa apa yang mereka lihat sebetulnya tidak lucu, dan itu bisa membuat mereka bingung. Kebingungan itu bagus. Daripada menjawab, saya ingin memunculkan pertanyaan."

Artikel ini bisa Anda baca dalam bahasa Inggris di Striking photos of the ultimate playground for millionaires di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait