Novel Jane Austen yang tak pernah Anda baca

Jane Hak atas foto Getty Images

Hampir semua penggemar berat Jane Austen dikabarkan tidak pernah membaca novel terakhirnya, yang memang belum selesai. Dan sejak kematian Austen, 200 tahun lalu, banyak penulis yang berinisiatif menyelesaikan novel tersebut.

Jane Austen memutuskan berhenti menulis novel pada 18 Maret 1817. Saat itu dia sedang mengerjakan sebuah cerita komedi yang berlokasi di sebuah resort tepi laut. Novel tersebut, Sanditon, sudah ditulis setengah jalan, sampai bab-12, ketika sakit mulai mendera Austen. Empat bulan kemudian, perempuan itu wafat.

Dalam sebuah surat yang ditulisnya lima hari setelah berhenti menulis Sanditon, Austen mengungkapkan betapa buruk kondisi fisiknya. "Penyakit adalah salah satu hal yang paling merepotkan dalam hidup saya," katanya, yang saat itu berusia 41 tahun.

Tulisan sepanjang 23.500 kata itu dikerjakan Austen dalam waktu tujuh pekan. Novel itu berfokus pada Mr Parker, seorang tuan tanah yang berniat mengubah desa Sanditon menjadi pusat wisata, seperti Brighton. Untuk melakukan itu, dia membutuhkan bantuan tetangganya, seorang perempuan kaya tapi pura-pura baik, Lady Denham. Charlotte Heywood, seorang gadis yang belum menikah, ikut hadir di tengah-tengah novel.

Kalimat terakhir novel itu dengan tajam memperlihatkan tamparan Austen atas ego laki-laki. Bagian itu menceritakan bagaimana nasib dua mendiang suami Lady Denham, yang lukisannya dipajang menghadap satu sama lain di ruang duduk rumahnya. "Kasihan sekali Tuan Hollis!, dia sudah dimanfaatkan sepanjang hidupnya. Dan sekarang dia harus terpajang di rumahnya sendiri, berhadap-hadapan dengan Tuan H. D," tulis Austen. Dan sejak itu, novel tersebut terhenti.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Rumah Jane Austen yang kini menjadi tempat wisata.

Berhenti bukan berarti mati. Novel Sanditon masih mendulang penasaran banyak pihak. Meskipun Austen tidak membuat catatan untuk Sanditon, sejumlah penulis berusaha melanjutkan kisah itu. Setidaknya tujuh novelis sudah melanjutkannya bahkan hingga dicetak. Yang pertama dan yang paling meyakinkan adalah versi yang ditulis keponakan Austen, Anne Austen Lefroy. Austen mungkin pernah berdiskusi tentang plot novel ini dengan Lefroy.

Kebanyakan novelis yang lanjut menyelesaikan Sanditon, melupakan sisi komikal dari tulisan Austen dan malah beralih membuatnya realis. Mereka juga menambah tokoh-tokoh baru untuk membangkitkan berbagai kisah asmara, unsur yang sangat digemari penggemar Austen. Pada 1932, Alice Cobbett, bahkan menambahkan unsur kapal karam dan perampokan di Sanditon.

Kisah Sanditon pun seakan berujung seperti karangan-karangan fiksi yang dibuat oleh para penggemar. Hasilnya kadang sedikit gila. Mereka menulis hanya dengan bermodalkan kecintaan pada Austen dan sisi romantisnya, yang menutupi keterbatasan kemampuan sastra mereka sendiri.

"Beberapa penulis berupaya untuk membuat ulang prosa-prosa khas Austen, tetapi ketika kita baca, rasanya hambar. Namun, sebagai pembaca kita sebaiknya juga jangan melulu mencari ke-Austen-an di novel-novel tersebut. Karena mungkin ini bisa jadi genre baru; imitasi dan adaptasi," kata Kathleen James-Cavan, seorang pakar novel-novel Austen.

James-Cavan baru-baru ini mempresentasikan sebuah penelitian di Konferensi Sanditon yang diselenggarakan Universitas Cambridge. Judulnya: "Selamat Datang di Sanditon". Presentasi itu berupa video blog (vlog) tentang kehidupan karakter fiksi dari novel Sanditon, salah satunya Charlotte. Vlog itu bahkan diiringi aplikasi telepon pintar yang membuat pengguna bisa menelusuri seluk beluk kehidupan di Sanditon. Meskipun program vlog itu hanya berjalan selama tiga bulan, tetapi peminatnya banyak.

"Menarik sekali melihat bagaimana antara seni dan kehidupan nyata berbaur. Yang unik menurut saya adalah bagaimana kehidupan 200 tahun lalu diangkat dengan gaya anak zaman sekarang," kata James Cavan. Lalu jika Austen masih hidup, apa kira-kira pendapatnya tentang itu? "Saya rasa dia akan mengapresiasinya, dan tentunya akan meminta royalti."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Muda-mudi Inggris berpakaian seperti karakter dalam novel Jane Austen, Pride and Prejudice.

Tapi tetap saja, sebuah novel yang dimulai oleh seorang penulis dan diselesaikan penulis lain, tidak hanya menyulut perdebatan soal etika, tetapi juga kritik dari berbagai pihak. Apalagi jika penulis awalnya telah meninggal dunia, tentu saja ini bisa berujung masalah. "Austen adalah penulis yang suka mengoreksi dan menulis ulang novelnya. Pride and Prejudice saja perlu bertahun-tahun hingga akhirnya diterbitkan. Nah, Sanditon sendiri jelas baru draft pertama belaka," kata Jan Todd seorang penulis.

"Dan mungkin saja Austen tidak berniat mempublikasikan ya - setidaknya dalam jangka pendek. Apalagi dia disebut-sebut punya dua novel yang sudah rampung, tetapi tidak ingin dia terbitkan."

Bagi James-Cavan tulisan awal Jane Austen amatlah penting. Salinannya dipajang di Royal Pavilion Brighton sampai Januari 2018 mendatang. Pameran ini untuk mengingatkan kembali bahwa Sanditon di cerita Austen adalah sebuah resort wisata pantai. Pameran itu juga sekaligus merayakan pembuat paviliun itu, Raja George IV, yang disebut-sebut sebagai salah satu penggemar berat Austen. Setiap istananya punya koleksi lengkap novel Austen (penulis tersebut bahkan mendesikasikan novel Emma untuk sang Raja pada 1815).

Salinan itu dibuat dengan sangat hati-hati dan rapi oleh saudari Austen, Cassandra. Tulisan tangan Austen seakan dibawa hidup kembali. Meskipun begitu, kopian itu kehilangan unsur vital naskah aslinya: yaitu tidak adanya halaman-halaman kosong yang ditinggalkan Austen di tulisannya. "Di satu sisi, dia mungkin juga memang berniat meminta orang lain menyelesaikan novelnya itu. Mengingat banyak sekali kertas terbuang yang ditinggalkannya. Kertas yang kala itu mahal," tutur James-Cavan.

Baru pada tahun 1925 Sanditon versi Austen akhirnya dibaca oleh umum. Semula, keluarga Austen merasa bab-bab novel tidak selesai itu yang digabung dengan puisi komedi yang ditulis Austen tiga hari sebelum dia wafat, akan memalukan, dan merusak reputasi sang penulis. Rasa malu itu juga dikhawatirkan ikut dirasakan penggemar berat Austen.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kota wisata Brighton yang disebut sebagai inspirasi Austen saat menulis Sanditon.

Dan ketika diterbitkan, reaksi pembaca pun beragam. Banyak yang menyebut Sanditon tidak setara dengan karya-karya terdahulu Austen. Novel tidak selesai itu, lebih mirip prosa-prosa komedi atau puisi yang ditulis Austen kala masih remaja. Todd mengungkapkan, "Jika Anda suka karya-karya Austen yang menggunakan metode realisme psikologi, Sanditon tidak punya gaya dan metode itu. Komedi di buku itu terasa dibesar-besarkan. Meskipun begitu, saya tetap suka Sanditon karena lucu dan kelihaian Austen menggambarkan pedesaan tepi pantai Inggris, usai masa Perang Napoleon."

Sejak saat itu Sandito terus dicetak ulang. Sebuah kisah dengan humornya yang tidak berbatas waktu, dan lelucon Austen tentang dirinya yang semakin sekarat. "Sanditon juga menyindir industri kesehatan dan betapa berlebihannya kita berdiet, unsur yang bahkan di masa ini terasa lebih relevan.

Namun, di peringatan 200 tahun kematian Austen ini, ketidaksempurnaan Sanditon yang belum rampung, adalah kontribusi terbesar Austen kepada kita, untuk dapat memahami penulis ini. Seperti kata James-Cavan, "Keluarga Austen selalu berupaya menciptakan citra yang baik tentang Austen. Jelas ada keinginan untuk menampilkan Austen sebagai penulis Kristen yang baik. Dia memang seperti yang diharapkan keluarganya itu, tapi Austen juga adalah perempuan humoris, cerdas dan terkadang nakal."

Apa yang dikatakan James-Cavan, setidaknya tergambar dari surat yang ditulis Austen kepada keponakannya, Fanny Knight, sekitar seminggu sebelum mencueki Sanditon: "Kesan perempuan sempurna yang kau lihat dari aku, membuatku muak dan merasa gila."


Anda bisa menyimak versi Bahasa Inggris dari artikel ini berjudul The Jane Austen novel you don't know di BBC Culture.

Berita terkait