Ingmar Bergman, sutradara terbaik yang pernah ada

Ingmar Bergman Hak atas foto Criterion

Woody Allen pernah memuji Ingmar Bergman sebagai "mungkin seniman film terbesar, berdasar segala pertimbangan- sejak kamera gambar bergerak ditemukan" -namun ia juga yang paling disalahpahami.

Sepuluh tahun sejak kematian Bergman, hikmah yang diterima dari karyanya terus mengaburkan warisannya dan membuat penonton baru enggan menggali pencapaiannya.

"Tema utama Bergman bukanlah soal kematian, tapi kemungkinan penebusan akan cinta".

Obituari yang dibuat satu dekade lalu bisa jadi klise: Film Bergman 'mengerikan' dan 'tanpa ampun', 'sebuah jiwa yang layaknya malam yang panjang dan gelap'.

Namun, tema utama karya Bergman -benang yang menghubungkan semua filimnya dari semua genre- bukanlah kematian tapi kemungkinan penebusan dari cinta.

Visinya yang paling suram tidak berhubungan dengan kematian, tapi isolasi dan penolakan. Khususnya, cinta tak berbalas.

Terkadang, penggambaran tentangnya benar-benar menyesatkan. Keingintahuan Bergman yang tanpa henti ditandai sebagai 'serebral', menunjukkan keangkuhan abstrak, padahal sebenarnya karyanya sangat mendalam.

Bergman dikategorikan 'keras', terlepas dari main-mainnya, contohnya Smiles of Summer Night (1955) dan sensualitas dari banyak karyanya, termasuk Persona (1966) dan Cries & Whisper (1972).

Hak atas foto Criterion
Image caption Salah satu dari adegan paling terkenal dalam sejarah hilm adalah ketika ksatria yang diperankan oleh Max von Sydow bermain catur dengan Kematian di The Seventh Seal (Sumber foto: Criterion)

Demikian halnya, kefasihan Bergman telah disalahartikan sebagai cara berpikir tidak masuk akal, padahal kenyataannya dia tidak mempercayai bahasa dan karyanya terus-menerus memperingatkan terhadap apa yang dia sebut "kendali ketat intelek".

Mereka yang menganggap Bergman sebagai 'elit' mengabaikan bahwa filmnya mewaspadai otoritas (klerikal atau politis) dan karakternya menemukan kebijaksanaan di luar pengetahuan, dalam kenyamanan persekutuan manusia.

Dalam lebih dari 60 film sepanjang enam dekade karirnya, Bergman memetakan kerugian besar dari apa yang ia sebut "kemiskinan emosional".

Karyanya dalam semua ragamnya tersusun dari sinisme, klinis, perhitungan, ceroboh, dan tidak berperasaan; dia mencela kurangnya kasih sayang dan ironi 'kosong tapi pandai' kita. Apa yang membuat Bergman radikal di era kita adalah kejujurannya yang tidak biasa, yang membuatkan terbuka terhadap ejekan dan parodi.

Hak atas foto Criterion
Image caption Bergman dikenal sebagai dramawan yang serius, tapi ketika ia berhasil membuat komedi yang menawan di Smiles of a Summer Night, komedi-komedinya yang lain terlupakan. (Sumber foto: Criterion)

Untuk semua kesungguhannya, Bergman tidak memiliki pretensi tentang seninya; karyanya skeptis terhadap kekuatannya sendiri, seperti yang terlihat dalam film The Magician tahun 1958, dan bahkan lebih dari keunggulan artisnya, digambarkan sebagai makhluk parasit yang memberi kekacauan pada subjeknya.

Namun, seni dapat memberi penghiburan: Bergman menemukan "kesucian manusia" dalam music Bach, yang menawarkan karakternya "cahaya yang berkedip-kedip".

Adegan dari jiwa

Cinta tak berbalas dimulai sejak dini bagi Bergman. "Saya adalah anak yang tidak diinginkan dalam pernikahan yang mengerikan," ujar tokoh protagonis dalam Wild Strawberries (1957), menggemakan perasaan sang sutradara.

Dari skenario pertamanya, Torment (1941), hingga yang terakhir, Saraband (2003), Bergman menggambarkan pemberontakan remaja dan seringkali usaha rekonsiliasi yang sia-sia.

Dalam otobiografinya, The Magic Lantern, dia bertanya pada ibunya : "Apakah kita diberi topeng dan bukan wajah?"

Ibunya terus menjaga jarak dengan Ingmar muda. ("Saya dulu mencoba menemukan cara untuk merebut hatinya") dan dia dilarang untuk berbicara dengan orang tuanya dengan cara yang intim. Di Persona (judul ini berasal dari bahasa latin untuk 'topeng'), anak yang terisolasi berusaha menjangkau bayangan ibunya yang memudar.

"Bagi Bergman, gereja bukanlah tempat belas kasih melainkan tahayul yang tidak jelas"

Hubungan Bergman dengan ayahnya yang disiplin, seorang pastor Lutheran, bermusuhan secara terang-terangan. Dalam film horor surealisnya, Hour of the Wolf (1968), seorang seniman yang cemas dan tidak pernah tidur menceritakan hukuman fisik dan psikologis yang ia terima ketika masih kecil.

Orang-orang dewasa dalam film Bergman acap kali digambarkan tidak hadir secara emosional, terhalang oleh gengsi dan ketakutan atas penghinaan -sifat yang mereka teruskan pada putra mereka.

Dalam Winter Light (1963), digambarkan siksaan terbesar Kristus adalah rasa sakit karena ditinggalkan oleh ayahnya: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan saya?"

Hak atas foto Criterion
Image caption Orang-orang yang mengira film Bergman penuh dengan malapetakan dan kesuraman semestinya menonton Fanny and Alexander, yang menggambarkan perayaan Natal yang sangat riang. (Sumber foto: Criterion)

Ayah yang spiritual tapi tak pernah hadir, kalau pun dia ada, tidak bisa ditebak: wajahnya tersembunyi dan pengabdian anaknya tidak berbalas.

Tomas, seorang pastor peragu di Winter Light, sama sekali tidak merasakan sosok ayah yang lembut dalam "jawaban yang ramah dan berkah yang menyakinkan" tapi "dewa laba-laba, monster" -sosok Tuhan yang muncul dalam bayangan Karin yang menderita schizophrenics dalam Through a Glass Darkly (1961).

Karin yang mengatakan bahwa kita "seperti anak-anak yang diusir ke padang belantaran di malam hari".

Through a Glass Darkly, seperti Face to Face (1976), adalah rujukan untuk Korintus 13, surat dalam Injil yang berisi pujian untuk dicintai. Namun bagi Bergman, model kekristenan gereja bukan merupakan belas kasih, tapi tahayul yang tidak jelas, pengakuan dan ketakwaan yang menyiksa untuk Tuhan yang penuh dendam.

Juga bukan pendeta penjaga kawanan mereka, yang bagi mereka tampak menghakimi dan kurang bersimpati. Dalam Cries & Whispers, pastor mengunjungi ranjang Agnes menjelang ajalnya, namun menawarkan sedikit penghiburan kepada saudarinya, malah mencela "tanah yang gelap dan kotor ini, di bawah langit yang kosong dan kelam".

Hak atas foto Criterion
Image caption Bahkan ketika Bergman menjadi lebih serius dan reflektif, seperti di Wild Strawberries, ia memasukan sifat-sifat empati dan pengertian dalam karakternya. (Sumber foto: Criterion)

Dalam konteks ini, perlu dipertimbangkan kembali karya Bergman yang paling ikonik, The Seventh Seal (1957), yang mengambil judulnya dari Kitab Wahyu 8: 1, sebuah kiasan tentang keheningan Allah.

Tokoh utama film ini adalah seorang ksatria yang kecewa setelah kepulangannya dari berjuang dalam Perang Salib selama satu dekade hanya untuk mendapati personifikasi dari Kematian yang menemaninya dalam perjalanan terakhirnya.

Berjuang dalam Perang Salib selama satu dekade, hanya untuk menemukan personifikasi Kematian yang menemaninya dalam perjalanan terakhirnya.

Adegan paling terkenal dalam film ini disebut sebagai contoh beban dari sebuah kemurtadan, tapi si ksatria paling terganggu oleh keterasingannya sendiri: "Hatiku kosong. Kekosongan ini adalah cermin yang menoleh ke arahku sendiri. Ketidakpedulianku terhadap sesama manusia mengisolasiku dari mereka."

Ketika si ksatria berbicara tentang "temannya yang tidak menyenangkan", itu bukanlah merujuk pada Kematian, tapi pada "diriku sendiri"; Dia hanya lega ketika mencintai sang liyan.

Si ksatria memburu ilmu, namun Grim Grim Reaper, atau Kematian, tidak dapat membantunya ("Saya tidak tahu apa-apa"). Sebaliknya, ia menemukan penebusannya melalui "satu perbuatan yang berarti", sebuah tindakan tanpa pamrih yang memberinya tujuan hidup.

Mencari jawaban

Humanisme Kristen Bergman bukan hanya terinspirasi oleh teologi, yang bisa jadi ambivalen, tapi dengan empati dan nilai-nilai seperti belas kasihan, kerendahan hati dan kemuliaan melalui perbuatan baik.

Seorang kritikus pernah menulis bahwa "Bergman tertarik tidak hanya untuk menyelamatkan nyawa, tapi juga untuk memperlihatkannya", tapi seseorang bisa mengguratkan gagasan keselamatan dalam penggambarannya tentang Kristen dalam hal cinta dan kebajikan - kesetiaan, kesucian dan pengabdian.

Sebaliknya, Bergman memperlakukan ketiadaaan Tuhan sebaga gejala hati yang tertutup dan bukan pikiran yang tertutup.

Dalam Through a Glass Darkly, ayah Karin yang mempunyai kecenderungan untuk bunuh diri mendapatkan pencerahan yang membebaskan: "Saya tidak tahu apakah cinta merupakan bukti dari eksistensi Tuhan, atau cinta adalah Tuhan itu sendiri… Tiba-tiba kekosongan berubah menjadi kelimpahan dan keputusasaan menjadi kehidupan. Ini seperti penangguhan hukuman mati".

Hak atas foto Criterion
Image caption Winter Light adalah tentang seorang pendeta yang kejam terhadap pacarnya dan mengabaikan umatnya karena dia tidak dapat berkomitmen pada cinta (Sumber foto: Criterion)

Bergman mengasosiasikan kurangnya cinta dengan hilangnya makna. Bila kita tanpa cinta, dunia tampak seperti kusam dan cacat; bila cinta kita tidak terbalas, itu bermutasi menjadi dengki dan penghinaan.

Bagi Bergman, cinta adalah bentuk dari perhatian yang melindungi, balsem yang menenangkan dan menyokong. Cinta melibatkan sebagian dari pengabaian diri: hak istimewa terbesar adalah "diizinkan untuk hidup bagi orang lain", seperti diungkapkan Tomas -tokoh dalam Winter Light, yang lama menderita.

Inti dari humanisme Bergman adalah komitmen terhadap kejujuran intelektual dan emosional. Bahkan ketika subjeknya adalah Perang Salib yang merupakan kejadian di abad pertengahan, keprihatinan Bergman tetap kekinian bagi para penontonnya.

Tercermin dalam kecemasan yang dialami si Ksatria dalam The Seven Seal, bisa jadi itu menjadi cara Bergman memahami argumen Sartre dalam esainya Existentialism is a Humanism.

Kecemasan pasca perang dunia dan perang dingin menyelimuti film-film Bergman: seperti karakter dalam Hour of The Wolf tanyakan, "Kaca telah hancur, tapi apa cerminan dari serpihannya?"

Hak atas foto Criterion
Image caption Bergman dihormati oleh sutradara lain karena niatnya yang serius, seperti yang dilakukan Asghar Farhadi dengan menampilkan poster Shame in The Salesman (Sumber foto: Criterion)

Bergman memiliki ketertarikan yang besar pada cermin, terpaku pada wajah perempuan ("tidak ada yang bisa menggambarkannya begitu dekat, seperti yang dilakukan Bergman," ujar sutradara genre film new wave, François Truffaut).

Bergman mengeksplorasi bagaimana citra diri kita dibiaskan melalui persepsi orang lain, yang mendistorsi rasa atas diri kita. "Jika ada yang mencintai saya seperti diri saya, saya mungkin pada akhirnya berani melihat diri saya sendiri," ujar Eva di Autumn Sonata (1978).

Mungkin hal yang memberi pengaruh paling signifikan dalam pemikiran Bergman adalah karya Freud -untuk penggalian trauma masa kecilnya, analisisnya terhadap neurosis, dan teorinya tentang ketidaksadaran.

"Ini bukan mimpiku, tapi mimpi orang lain, dimana saya harus berpartisipasi di dalamnya," sesal salah satu karakter dalam fim anti-perang Bergman, Shame (1968). Filmnya yang paling personal, Fanny and Alexander (1982), berbicara tentang batas antara fantasi dan kenyataan.

Hak atas foto Criterion
Image caption Sering dihormati karena tulisannya, Bergman juga seorang penata visual berprestasi, sering melakukan close-up ketat dengan latar belakang yang intens (Sumber foto: Criterion)

Meskipun berkecimpung pada filsafat kontemporer, Bergman skeptis terhadap "kebebasan cinta" -konsep praktek seks berdasar pada pilihan, tidak terbatas pada pernikahan atau hubungan jangka panjang, bahkan meskipun filmnya termasuk dari film-film pertama yang menampilkan adegan nudis (Woody Allen mengingat kegembiraannya melihat adegan tersebut dalam Summer with Monika, 1953).

Bagi Bergman seks tanpa cinta tidak ada artinya: dalam The Silence (1963), nafsu dan kesepian saling terkait erat.

Bergman bahkan kurang percaya pada pernikahan -dia bercerai empat kali. Di antara 170 produksi teatrikalnya, Bergman sering menjadi sutradara karya Strindberg, dengannya ia berbagi ketidaknyamanannya: Strindberg menggagap bahwa 'pernikahan' di Swedia berarti dua hal, 'berkah' dan 'racun'.

Dalam Scene from a Marriage (1973), Bergman mengemukakan bahwa insititusi tersebut menahan dan mencekik cinta. Liv Ullmann, pemeran film-film Bergman yang paling cemerlang, menghubungkan akhir dari hubungan romantik mereka dengan kebutuhannya akan "sang ibu" -kasih sayang tanpa syarat yang tidak ia dapatkan sebagai anak kecil.

Bagi Bergman, dosa utama dari humanisme adalah "keegoisan, dingin, ketidakepedulian" (Cries and Whispers), masing-masing mengakibatkan defisit cinta.

Tapi, tidak ada yang lebih sesuai dari keyakinannya: cinta menuntut ketekunan, pengampunan dan pengorbanan ego. Film Bergman yang paling suram, seperti The Passion of Anna (1969), membuat katalog tentang konsekuensi dari kurangnya komitmen untuk mencintai.

Bergman pernah bilang bahwa kematian adalah "sebuah pengaturan yang sangat, sangat bijak" -itu menawarkan sebuah buku untuk kehidupan kita, yang dapat kita tanamkan dengan makna melalui cinta.

Ada penderitaan di dunia, dan kita harus berusaha untuk memahaminya, bahkan dalam ketidaksadarannya, tapi yang terpenting kita harus berusaha menguranginya dengan belas kasihan dan kemurahan hati.

Bergman ingin kita untuk mengingat entri buku harian Agnes: "Saya telah menerima hadiah terbaik yang bisa dimiliki seseorang dalam kehidupan ini. Hadiah ini memiliki banyak nama: empati, pertemanan, hubungan antar manusia, kasih sayang. Saya percaya ini adalah apa yang disebut anugrah".

Ada dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul The greatest film-maker who ever lived di BBC Culture.

Berita terkait