Foto-foto mobil menakjubkan yang memukau perjalanan abad ke 20

foto mobil Hak atas foto Andrew Bush

"Kamera modern dan mobil keduanya merupakan produk dari Revolusi Industri Kedua," kata Philippe Seclier, salah satu kurator di balik pameran Autophoto, yang diresmikan tahun ini di Fondation Cartier di Paris.

"Dan keduanya memberi kita persepsi baru tentang ruang dan waktu."

Dengan menampilkan sekitar 500 karya, Autophoto meneliti sejarah hubungan fotografi dengan mobil-mobil, dari tahun 1900 hingga sekarang.

Ini merupakan topik yang sangat luas, yang dibahas secara tematik oleh Seclier dan rekan-rekannya, juga secara kronologis, bergerak dari perintis fotografi abad ke 20, seperti Man Ray dan Brassai, hingga praktisi kontemporer termasuk fotografer Jepang, Hiroshi Sugitomo.

Hak atas foto Ministère de la Culture, Jacques-Henri Lartigue
Image caption Jacques Henri-Lartigue adalah salah satu dari banyak artis yang menjadi terobsesi dengan estetika mobil di awal abad ke 20.

Pameran itu tidak hanya menceritakan kisah pergeseran sikap masyarakat terhadap kendaraan bermotor, tetapi juga memberikan gambaran perkembangan penting di dalam fotografi abad itu sendiri.

Pertunjukan dimulai pada tahun 1900 karena, meskipun kendaraan bermotor pertama di dunia ditemukan pada tahun 1880an oleh insinyur Jerman, Karl Benz, mobil itu baru tersedia secara luas pada awal abad ke 20.

Pada 1902, mobil aerodinamis yang berkecepatan tinggi, seperti Baker Electric Torpedo sudah siap berkompetisi dalam balapan -dan fotografer amatir dari Prancis, Jacques Henri Lartigue merupakan salah satu seniman yang terobsesi dengan penampilannya yang ramping dan panjang.

Autophoto berisi salah satu foto Lartigue yang paling terkenal, yang diambilnya selama Grand Prix Automobile Club de France di sirkuit Dieppe, dengan cara mengayunkan kameranya sejajar dengan jalan sambil mengikuti gerakan mobil.

Secara teknis, ini merupakan satu kesalahan, meskipun pengemudi dan teknisi kendaraan tetap fokus, jalan dan penontonnya buram, dan roda belakangnya terdistorsi.

Namun, 'kesalahan' ini hanya meningkatkan kesan cemerlang yang diperlihatkan dengan citra perjalanan dengan kecepatan tinggi.

Pada tahun 1912, ketika Lartigue memotret pemandangan ini, tenaga kuda pasti tampak sangat luar biasa pada abad ke 19. Memang, kejuaraan Grand Prix yang difotonya dimenangkan oleh Peugeot yang melaju dengan kecepatan lebih dari 160 km/jam.

Jalan raya yang hilang

Tentu saja kecepatan hanyalah satu dari sekian banyak hal yang menipu perkumpulan kendaraan bermotor. Hal lainnya adalah drama di jalan yang terbuka.

Mengemudi di sepanjang jalan raya yang kosong masih membangkitkan perasaan bebas dan melepaskan diri dari tekanan dan kekhawatiran sehari-hari.

Evolusi dari gagasan ini dapat ditelusuri setidaknya sejauh generasi Beat di tahun 1950an, dan dicontohkan dengan judul novel di masa itu, karya penulis Amerika Serikat Jack Kerouac, On the Road (1957).

Tahun berikutnya terbit The Americans, sebuah buku fotografi -yang bisa dibilang paling berpengaruh di abad ke 20- oleh fotografer Amerika, Robert Frank.

Hak atas foto Ray K Metzker
Image caption Pameran ini memperlihatkan pergeseran pengembangan dalam fotografi seperti halnya dengan mobil itu sendiri.

Untuk membuat karya epik ini, yang mendokumentasikan setiap eselon dari masyarakat Amerika, Frank memperoleh Guggenheim Fellowship pada tahun 1955 untuk mendanai serangkaian perjalanan darat melintasi Amerika Serikat selama dua tahun.

Selama perjalanannya, dia mengambil 28,000 gambar, sebelum dipilih tinggal hanya 83 untuk seri terakhir The Americans.

Salah satunya merekam jalur perakitan di pabrik Ford Motor Company yang dikenal sebagai River Rouge Plant di Detroit.

Foto-foto karya Frank tentang pabrik Ford mengungkapkan kenyataan yang tidak menyenangkan tentang membangun kendaraan yang menawarkan jutaan kemungkinan bergerak dan kabur.

Meskipun foto yang terkenal ini tidak dimasukkan ke dalam Autophoto, bidikan yang lain, yang juga diambil oleh Frank di dalam pabrik yang sama, dimasukkan ke dalam Autophoto.

Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak ada yang mengada-ada atau terlalu ideal tentang foto-foto karya Frank di pabrik Ford. Sebaliknya, mereka mengungkapkan kenyataan yang keras dan berat dari membangun kendaraan yang menawarkan jutaan kemungkinan untuk bergerak dan menghindar.

"Ini merupakan pengalaman yang sangat kuat untuk masuk ke dalam pabrik Ford," kenang Frank. "Saat itu musim panas, dan di pabrik terasa sangat panas, juga suara-suaranya sangat berisik. Benar-benar seperti neraka kecil."

Seperti halnya mendokumentasikan proses produksi mobil, Autophoto memeriksa dampak mobil di atas daratan: pameran ini penuh dengan foto-foto yang tampak seperti jalan raya yang tidak berakhir dan jalanan yang macet.

Misalnya, sebuah foto dari tahun 2004, karya seorang Kanada Edward Burtynsky, menampilkan sebuah persimpangan jalan raya yang rumit dan menakjubkan di Shanghai, seperti sebuah lukisan era Romantik yang menggambarkan keagungan alam yang luhur.

Hak atas foto Lee Friedlander
Image caption Lee Friedlander menggunakan bagian-bagian kendaraan, seperti kaca depan mobil atau bingkai jendela depan, sebagai alat-alat untuk menyusun komposisinya.

Karya brilian lain yang juga terlibat tema ini adalah serial 34 foto udara hitam putih lapangan parkir kosong di Los Angeles, karya seniman Amerika Serikat, Ed Ruscha.

Thirtyfour Parking Lots merupakan salah satu dari buku-buku 17 seniman yang dipublikasikan Ruscha selama tahun 60an dan 70an ("Saya ingin menjadi Henry Ford dalam pembuatan buku," sekali waktu dia berkata).

Gambar-gambar yang selesai menunjukkan gayanya yang tidak memihak dan tidak terlihat. Karena banyak yang kosong, foto-foto itu memiliki atmosfir yang melankolis.

Mereka juga memainkan permainan estetika yang canggih: garis-garis dan kisi-kisi bergaris putih yang membatasi ruang-ruang individu, memiliki kualitas yang abstrak. Akibatnya, mereka terlibat dalam apa yang dinamakan abstraksi geometri garis tegas, yang kemudian populer di kalangan orang yang sejaman dengan Ruscha, seperti Frank Stella dan Ellsworth Kelly.

'Kekecewaan Bertahap'

Seperti Ruscha, banyak fotografer abad ke 20 yang hebat, mulai dari Man Ray hingga Martin Parr, merasa terinspirasi untuk membuat foto-foto mobil yang inventif dan budaya dari mobil-mobil.

Sesepuh dari jenis ini, bisa dibilang, adalah William Eggleston, fotografer yang ramah dari Memphus, Tennessee, yang dikenal sebagai master 'pengambilan gambar yang puitis'.

Percobaan Eggleston dengan warna memaksa orang-orang untuk mengenali bahwa fotografi berwarna bisa menjadi bentuk seni seperti halnya hitam putih.

Hak atas foto Eggleston Artistic Trust, Memphis
Image caption Sesepuh dari budaya gambar-gambar mobil adalah fotografer asal Memphis, Tennessee, William Eggleston.

Pada pertengahan tahun 1960an, Eggleston dan temannya, direktur museum Walter Hopps, mulai melakukan perjalanan darat mengelilingi West Coast.

Sementara Hopps mengemudi, Eggleston duduk di kursi penumpang, kameranya siap. Seiring berjalannya waktu, foto-foto yang tampak kasual yang diambilnya membentuk sebuah seri yang dikenal sebagai Los Alamos.

Enam foto dari serial itu termasuk dalam Autophoto. Contoh yang digambarkan di sini, yang kemungkinan diambil pada tahun 1974, menampilkan indera keenam Eggleston untuk melihat komposisi secara mendadak, komposisi tanpa persiapan, dari dunia di sekitarnya: mobil yang diparkir hampir merupakan bayangan dari foto sebuah Ford Torino di papan reklame di atas, sementara Eggleston pasti menikmati konsentrasi begitu banyak perbedaan warna hijau.

Hal ini berkisar dari hijau kebiruan dari Ford Torino di iklan sampai hijau gelap di dinding, yang melengkapi warna hijau mint dari poster New Generation dan warna hijau dari mobil yang parkir di jalan.

Hak atas foto Eggleston Artistic, Memphis
Image caption Foto-foto karya Eggleston ditandai oleh hal-hal yang kasual dan acuh tak acuh.

Foto-foto karya Eggleston sering ditandai dengan semacam hal-hal yang kasual -bisa dibilang sebuah penjelmaan kontemporer dari konsep sprezzatura dari masa Renaisans Italia yang cenderung tak berpretensi, apa adanya.

Banyak di antara karya-karya foto mobil-mobilnya tampil secara informal dan terpisah-pisah, memusatkan perhatian pada, katakanlah lampu depan atau kaca spion.

Hal ini juga menarik perhatian para fotografer abad ke 20 lainnya: Lee Friedlander, warga Amerika misalnya, mengambil gambar di dalam sebuah mobil yang menggunakan bagian dari kendaraan, seperti kaca penahan angin atau bingkai jendela depan, sebagai alat untuk menyusun komposisinya.

Dalam istilah yang lebih luas lagi, cerita tentang hubungan fotografi dengan kendaraan bermotor merupakan satu dari tahapan kekecewaan.

Selama abad terakhir, mobil mewakili sesuatu yang mewah dan menarik -sebagaimana diperlihatkan oleh foto-foto tersebut, ditampilkan dalam Autophoto, yang menyandingkan mobil-mobil dengan bintang film seperti Marilyn Monroe atau Steve McQueen.

Mobil merupakan simbol status, seperti pada foto karya Malick Sidibe tentang laki-laki dan perempuan Malian yang berpakaian bagus, berpose di atas kap mobil. Memang bagi banyak orang, mobil tetap sebagai simbol status sampai saat ini.

Hak atas foto Malick Sidibé
Image caption Dalam foto Malick Sidibe tentang laki-laki dan perempuan Mali yang berpakaian necis sedang berpose di atas kap mobil, mobil adalah simbol status.

Namun, sejak abad ke 20, reputasi mobil mulai mengalami penurunan, sebagai akibat yang muncul atas kesadaran terhadap pengaruh mobil pada lingkungan. Di samping itu, apakah ada orang di dunia ini yang senang terjebak macet?

Evaluasi ulang mobil ini tercermin dalam serial fotografer Jepang, Hiroshi Sugimoto, On the Beach.

Di tahun 1990, Sugimoto mengunjungi Selandia Baru. Satu hari ketika berjalan di pantai yang indah dan sepi, dia menemukan ratusan benda misterius, berserakan di atas pasir.

Setelah memeriksa lebih dekat, dia menemukan bahwa benda-benda tersebut adalah bagian-bagian mobil kuno, mungkin berasal dari tahun 60an, terkikis oleh ombak hingga menjadi bentuk yang aneh dan hampir meleleh.

Terkejut karena melihat bentuknya yang menakjubkan, dan tampak menyedihkan, Sugimoto mulai memotret, menciptakan sejenis memento mori bagi industri mobil.

Hak atas foto Justine Kurland
Image caption Foto karya Justine Kurland di tahun 2012 merefleksikan penurunan kejayaan mobil di era kontemporer.

"Pemandangan benda-benda yang menjadi besi tua merupakan hal yang mengerikan sekaligus indah," kata Sugimoto kemudian.

"Tidak butuh waktu lama bagi peradaban untuk mengalami degradasi. Hanya beberapa dekade saja sudah cukup untuk mobil, salah satu simbol peradaban modern kita, membusuk menjadi bukan apa-apa."


Ada dapat membaca versi asli artikel ini dalam bahasa Inggris yang berjudul The stunning car photos that capture the 20th Century di BBC Culture.

Berita terkait