Lagu-lagu erotis yang maknanya ke sana ke mari

Jane Birkin dan Serge Gainsbourg Hak atas foto Reg Lancaster/Getty Images

Sudah banyak musisi yang mencoba menginterpretasi lagu-lagu legenda Prancis, Serge Gainsbourg. Tapi yang paling sukses melakukannya adalah kekasih dan sumber inspirasinya, Jane Birkin.

Ketika Serge Gainsbourg meninggal pada 1991, presiden Prancis saat itu, François Mitterrand, mengungkapkan dukanya dengan menyebutnya "Baudelaire kita, Apollinaire kita," seorang pria yang telah "membawa lagu ke tingkat karya seni."

Sepanjang lima dekade kariernya, Gainsbourg menjalani semua genre, dari chanson, mambo dan yé yé sampai rock, reggae dan elektronika. Dia kerap memasukkan lirik yang maknanya dalam, cerdas, dan kadang-kadang vulgar.

Gainsbourg kerap menggunakan permainan kata yang bisa memberi lirik tersebut dua atau bahkan tiga makna berbeda, komposisinya benar-benar orisinil dan melampaui masanya.

Meski kalangan penggemar fanatiknya terus berkembang besar sejak 1990an, namun apresiasi terhadap Gainsbourg di kalangan publik berbahasa Inggris belum luas, mungkin karena belum ada yang bisa menerjemahkan lagu-lagunya dengan cara yang mengagumkan, seperti yang dilakukan oleh Mort Shuman dan Scott Walker untuk Jacques Brel.

Sebuah proyek dari mantan kolaborator Nick Cave, Mick Harvey, jelas lahir dari kekaguman dan rasa hormat, namun dia hanya menyajikan terjemahan langsung dari aransemen musik Gainsbourg sehingga yang muncul hanya sekadar imitasi mentah dan justru semakin menunjukkan betapa uniknya lagu asli Gainsbourg.

Bahkan di negaranya sendiri, di mana lagu-lagunya banyak dibawakan ulang oleh artis-artis Prancis, belum ada yang berhasil menginterpretasikan ulang lagu-lagu Gainsbourg dengan kekhasan mereka sendiri.

Hak atas foto XAVIER LEOTY/Getty Images
Image caption Kekasih Gainsbourg, Jane Birkin ingin membawa karyanya pada pendengar baru.

Satu-satunya orang yang nyaris berhasil adalah Jane Birkin, kekasih serta dewi inspirasi Gainsbourg, yang hubungan uniknya dengan sang maestro memberi kepercayaan diri untuk menginterpretasi lagu-lagu itu secara orisinil. Pertama dengan versi pengaruh Arab pada album Arabesque yang muncul pada 2002 dan kini dalam album Le Symphonique yang terinspirasi oleh pengaruh klasik Gainsbourg.

Dalam album baru ini, Birkin membawakan ulang lagu-lagu Gainsbourg dengan iringan orkestra simfoni.

Seperti dijelaskan Birkin kepada BBC Culture, "Serge sering memanfaatkan musik klasik seperti Chopin atau Brahms untuk orang-orang yang dia sayangi. Dia ingin memberikan yang terbaik pada kami meski dia bisa menulis musik sendiri."

Dengan gayanya yang merendah, Birkin mengatakan bahwa dia khawatir cara ini terdengar pretensius dan bahwa suaranya tak cukup kuat sehingga orkestra harus sedikit memelankan musik mereka, tapi nyatanya hasilnya cukup mengesankan, menghidupkan lagi bukan hanya musik Gainsbourg sendiri tapi juga lagu-lagu yang dituliskan untuk Birkin dan aktris Isabelle Adjani.

Hak atas foto MATTHIEU ALEXANDRE/AFP/Getty Images
Image caption Saat kematian Gainsbourg, Presiden Prancis saat itu François Mitterrand mengenang kehilangan sang penyanyi sebagai hilangnya "Baudelaire kita, Apollinaire kita".

Keinginan Birkin untuk mencari cara baru dalam menginterpretasikan musik Gainsbourg muncul dari rasa terima kasihnya.

"Saya tahu saya berutang kepadanya. Jika saya bisa membawa musiknya ke seluruh dunia dan membuat orang mengerti betapa luar biasanya dia sebagai penulis, maka saya bisa balas memberi sebagian kecil dari yang dia berikan," katanya.

Meski begitu, Birkin sadar bahwa keinginannya untuk membawa karya Gainsbourg ke pendengar yang baru terhambat oleh pemahaman.

"Jika Anda tidak tinggal di Prancis, saya tidak terlalu yakin orang bisa memahami keindahan puisinya. Variations sur Marilou adalah puisi paling erotis yang pernah ada. Tapi saya tak yakin orang akan mengerti."

Gainsbourg pun tahu bahwa versi Inggris lagu-lagunya bisa membuatnya lebih dikenal dan ketiadaan versi bahasa Inggris ini membuatnya frustrasi. "Dia tidak mengerti kenapa orang tidak menggunakan musiknya dan membuat versi covernya sementara hal yang sama dilakukan untuk (pemusik Prancis Charles) Aznavour."

Hak atas foto Keystone/Hulton Archive/Getty Images
Image caption Gainsbourg dan Birkin merekam album Je t'aime… moi non plus yang terkenal pada 1969.

Birkin telah mendengar versi Mick Harvey, dan secara halus mengesampingkannya. "Karena lagu-lagu (di versi Mick Harvey) itu tergolong yang paling sederhana. Lagu-lagu itu sudah memiliki unsur ke-Inggrisan, jadi orang bisa memahaminya."

Meski begitu Birkin mengakui bahwa, "Sangat sulit untuk tidak setia pada sumber asal yang sangat unik."

Dia juga sadar akan sulitnya menerjemahkan lagu-lagu dengan berbagai makna berbeda. "Saya mencobanya sendiri dengan Fuir le Bonheur, salah satu lagu yang paling sederhana. Tidak mudah."

Birkin telah mencoba mendekati Stephen Sondheim. "Saya pikir 'dia akan mengerti kerumitan bahasanya'," tapi sayangnya Sondheim tak pernah membalas. "Mungkin dia tidak pernah mendapat suratnya," pikir Birkin. "Saya tidak tahu bagaimana mengirimkannya ke dia. Saya mengirimkan surat itu ke tempat saya melihat musikalnya di New York."

Hak atas foto DANIEL LEAL-OLIVAS/AFP/Getty Images
Image caption Salah satu pilihan tepat untuk menginterpretasikan Gainsbourg adalah Jarvis Cocker, penggemar seniman Prancis itu.

Atas saran dari saudara laki-lakinya, Andrew, kini dia berencana mendekati sebuah universitas Inggris untuk melakukan penerjemahan ganda: "Satu dengan rima dan satunya lagi lewat makna."

Pulp fictions

Prospek ini cukup menarik, dan jika berhasil, maka pilihan yang paling jelas untuk menampilkan lagu-lagu itu adalah Jarvis Cocker, pengagum berat Gainsbourg yang mengakui dan menghargai sulitnya penerjemahan.

Kemampuannya untuk membawa sesuatu yang segar namun hidup dalam versi Inggris I Just Came to Tell You That I'm Going dalam album penghormatan Monsieur Gainsbourg muncul karena dia berkeras untuk menerjemahkan album itu sendiri, setelah dia dikirimi versi lagu tersebut yang menurutnya "bukan bahasa Inggris sama sekali."

"Di situ tertulis 'Jika saya akhirnya berada di sini, maka itu untuk mengatakan kepadamu bahwa saya harus pergi,' atau sesuatu seperti itu, katanya pada BBC Culture.

"Dan bahkan dengan bahasa Prancis saya yang buruk, saya tahu bahwa lebih baik untuk mengatakan, 'Saya datang untuk mengatakan bahwa saya akan pergi'."

Dengan merendah, Cocker mengatakan bahwa apa yang dia lakukan adalah "hal yang egois" karena dia adalah seorang penggemar berat yang ingin terlibat dalam proyek ini, "tapi saya tidak bisa merasa puas menyanyikan versi terjemahan yang diberikan. Jika Anda ingin menyanyikan sebuah lagu, maka Anda harus memberi sedikit diri Anda dalam lagu itu."

Dia mencobanya lagi dalam konser penghormatan untuk Melody Nelson di Barbican beberapa tahun lalu namun menurutnya dia tak puas dengan hasilnya, meski caranya menyanyikan lirik lagu yang sendu cocok dengan musiknya.

Hak atas foto Keystone/Getty Images
Image caption Birkin mengakui bahwa "Sangat sulit untuk tidak setia pada sumber asal yang sangat unik".

Saat ditanya apakah Cocker ingin menampilkan lebih banyak lagi lagu-lagu Gainsbourg, dia berpikir sejenak sebelum menjawab, "Saya harus memahaminya lebih dalam. Saya tidak tahu. Setelah kini Anda mengatakannya, saya berpikir, 'Ya, mungkin itu ide yang bagus.'"

Dia ingin mendengar niatan Birkin karena Cocker tengah mencoba mengajak penerbit Faber untuk menerjemahkan lirik Gainsbourg. "Mungkin saya harus bicara dengannya," dia berpikir. "Ini sangat tergantung pada upaya untuk mendapat orang yang tepat untuk melakukannya, tapi saya rasa ini akan bagus."

Kolaborasi Birkin/Cocker jelas sesuatu yang menarik bagi Bob Stanley, penulis lagu Saint Etienne dan pakar musik pop, namun saat mempertimbangkan bagaimana seseorang bisa menyanyikan ulang lagu-lagu Gainsbourg, dia juga menegaskan sifat alami integral dari aransemen musik, terutama yang dibuat oleh Jean-Claude Vannier.

"Jika Anda menghilangkan itu, lagu-lagunya tidak akan terasa kuat."

Meski dia belum pernah mendengar album-album Birkin, namun dia yakin pendekatan yang dilakukan Birkin adalah cara yang tepat.

Agar sebuah versi alternatif lagu bisa berhasil dan tidak terdengar sebagai versi murahannya, "Anda butuh seseorang dengan sosok dan kharisma yang sama besarnya untuk melakukan aransemen mereka sendiri".

Dia juga merasa memperkuat elemen Prancis dalam musik itu bisa menjadi kesalahan besar. "Jika Anda menghilangkan elemen Prancis dari sebuah lagu cover, maka mungkin berhasil. Melody Nelson kan berasal dari Sunderland."

Jika Cocker bisa didorong untuk menyanyikan lagu Gainsbourg, maka butuh penata aransemen musik kontemporer yang juga bisa 'menerjemahkan' komposisi lagunya.

Semoga saja mereka bisa, karena kata Birkin, "Serge akan sangat tersanjung jika lagunya dinyanyikan dalam bahasa Inggris."


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The erotic songs lost in translation di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait