Mengapa film komedi tidaklah universal?

parking movie Hak atas foto AFP

Hasil voting BBC Culture terkait 100 film komedi terbaik sepanjang masa, membuktikan bahwa humor dipandang berbeda di berbagai penjuru dunia, tulis Christian Blauvelt.

Orang-orang Prancis sangat doyan film karya Jerry Lewis dan Woody Allen. Sementara orang Inggris lebih suka film dengan humor tajam. Orang Australia lebih suka hal-hal berbau mesum. Dan mereka yang berasal dari India tergila-gila dengan lelucon ringan.

Itu adalah sejumlah klise yang bahkan sangat diyakini oleh para pembuat film.

Namun, hasil survei BBC memperlihatkan hal lain.

Film Annie Hall (karya Woody Allen) bertengger di posisi tiga, tanpa ada satu pun dari tujuh kritikus film asal Prancis yang memilih film ini di daftar 10 besar mereka.

Ternyata kritikus Inggris-lah yang memasukkan Annie Hall ke daftar mereka: sepertiga dari kritikus film asal Inggris memasukkan film karya Woodie Allen itu di survei.

Kalau kita berfokus pada enam kritikus asal Australia dan Selandia Baru, secara umum mereka ternyata memilih The General, komedi bisu klasik yang 'sangat polos', di daftar 100 film komedi terbaik sepanjang masa versi mereka.

Dan satu-satunya film komedi India yang hampir masuk ke daftar 100 besar, Jaane Bhi Do Yaaro, adalah sebuah film satir kelam tentang korupsi yang dilakukan pemerintah, yang sebagian plot-nya merupakan terjemahan bebas dari film Michelangelo Antonioni, Blow-Up, yang sama sekali 'tidak ringan'.

Jadi, sekarang coba lupakan segala stereotipe yang sudah Anda kenal, karena jelas lelucon tidak bisa hanya diwakilkan lewat teks terjemahan.

Mungkin kita semua tertawa melihat sebuah film yang sama. Tapi apa yang membuat kita tertawa, benar-benar tergantung dari mana kita berasal, apa bahasa ibu kita, dan konteks sejarah yang paling dekat dengan kita.

Image caption Komedi Airplane! berjantung pada dialognya. Meskipun dianggap lucu secara 'internasional', film ini lebih banyak dipilih kritikus dari benua Amerika.

Contohnya saja film Jaane Bhi Do Yaaro, hanya dipilih oleh kritikus dari Asia Selatan. Sementara, A Chinese Odyssey Part Two: Cinderella, yang menjadi film ke-11 paling lucu di mata kritikus Asia Timur, tidak masuk ke daftar 100 besar kami karena hanya dipilih oleh para kritikus dari wilayah tersebut.

Dan lebih jauh lagi, kritikus film yang berasal dari negara yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi, pilihan film mereka juga cenderung film-film yang tidak berbahasa Inggris.

Airplane! Adalah salah satu dari sedikit film yang tampaknya relevan di berbagai negara. Airplane! berada di posisi tiga film komedi yang paling disukai kritikus dari Amerika Serikat dan Kanada, dan berada di posisi tujuh untuk daftar secara keseluruhan.

Hal serupa terjadi untuk film Inggris Whitnail and I. Kritikus film Eropa; Irlandia, Rusia, Rumania dan Estonia, sekitar 6,6 kali lebih sering memilih film ini.

Tawa yang memecah belah

Film komedi bisu terbukti sangat populer di kalangan kritikus film Asia, mengindikasikan bahwa film yang murni visual, bisa dipahami oleh orang lintas budaya dan bangsa, karena tidak ada batasan bahasa.

Film bisu Buster Keaton tentang perburuan di kereta api, The General, berada di posisi dua film komedi yang paling disukai kritikus di Asia Timur dan Asia Selatan, meskipun berada di posisi 10 di daftar secara keseluruhan.

Jelas, The General adalah salah satu film eksyen terbaik yang pernah dibuat, yang tidak bisa ditampik memiliki banyak kesamaan dengan berbagai film eksyen Hong Kong abad 20 - selama 30 tahun terakhir, Jackie Chan kerap disebut sebagai Buster Keaton masa kini.

Komedi Charlie Chaplin, Modern Times, menduduki posisi pertama di Asia Selatan, meskipun berada di nomor 12 secara umum. Namun, film dari India, apapun bahasanya, kerap sekali berfokus pada hal-hal sentimentil dan perjuangan, dua tema yang sangat terkait dengan film Chaplin ini. Ide Modern Times bahkan berasal dari percakapan Chaplin dan Gandhi di awal tahun 1930an. Kala itu Gandhi berkata pada Chaplin bahwa industri yang akan dikuasai mesin adalah salah satu ancaman terbesar era modern.

Kritikus dari Asia Selatan dan Asia Timur, empat kali lebih sering memilih Modern Times, dibandingkan kritikus dari wilayah lain. Dan film ini bahkan tidak mendapat satupun suara dari kritikus Inggris, meskipun Chaplin berasal dari Inggris.

Nah, sekarang kita melihat film yang berada di posisi nomor satu. Film Some Like It Hot, yang dibuat imigran Yahudi asal Polandia, Billy Wilder, yang menobrak tabu Hollywood, menjadi pemuncak daftar.

Ini karena film yang dibintangi Marylin Monroe itu mendapat dukungan luar biasa dari kritikus film asal Eropa. Sebanyak 60% kritikus film Eropa, memilih film ini.

Some Like It Hot juga dipilih oleh pengamat film dari Asia Timur dan Amerika Latin. Sebanyak 33% kritikus dari benua Amerika memilih film ini, meski hanya 26% dari seluruh kritikus itu yang berasal dari Amerika Serikat dan Kanada. Hal yang penting adalah sebanyak 86 dari total 253 kritikus yang terlibat dalam voting ini memilih film nomor satu yang bukan Some Like It Hot. Dr Strangelove kerap menjadi film teratas dalam daftar mereka.

Image caption Film bisu kerap dipilih kritikus di Asia Timur dan Asia Selatan. Mungkin karena tidak ada batas bahasa yang ditimbulkannya.

Menariknya, kritikus film dari Eropa Timur, lebih banyak yang memilih Dr Strangelove dibandingkan kritikus dari Eropa Barat. Tampaknya Amerika Serikat dan negara-negara yang dulu berada di bawah kuasa Uni Soviet lebih menghargai Dr Strangelove karena satir yang disampaikan oleh film ini lebih dirasakan oleh orang-orang di negara tersebut.

Dan mungkin, Some Like It Hot lebih disanjung oleh kritikus asal Eropa dibandingkan Amerika, karena meskipun adalah film Hollywood, film ini cenderung lebih mengedepankan cara pandang orang Eropa terhadap seks.

Lagi pula, Wilder memang memulai kariernya di Jerman pada tahun 1920an sebelum terpaksa kabur ke Amerika karena Nazi. Dia jelas sekali berusaha mendobrak budaya konservatif yang lama tertanam di Hollywood saat itu.

Jadi, intinya adalah kita semua suka tertawa, tapi tidak selalu menertawai hal yang sama.

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini berjudul Why comedy is not universal di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait