Potret mengejutkan tentang kondisi sosial Amerika yang kelam

Walker Evans Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Potret seorang perempuan Amerika Serikat yang diabadikan Walker Evans.

Foto-foto hitam-putih karya Walker Evans merekam realitas kejam kehidupan masyarakat Amerika Serikat pada dekade 1930-an. Menurut kritikus seni Alastrair Sooke, foto-foto itu masih relevan hingga saat ini.

Bagi seniman yang berkarya di pengujung abad ke-20, dunia yang menyongsong modernitas terlihat cerah dan menggugah inspirasi.

Seniman Filippo Tommaso Marinetti, yang manifestasi masa depannya dipublikasikan pada 1909, menunjukkan kekagumannya pada pabrik, kapal, jembatan, stasiun kereta api, lokomotif, dan mobil balap.

"Deru mobil yang terdengar seperti melaju di atas peluru-peluru meriam lebih indah dibandingkan patung Victory of Samothrace yang dibuat dua abad sebelum masehi," tulis Marinetti.

Seiring kedewasaan Walker Evans dalam berkarya, daya tarik menggairahkan dari foto-fotonya perlahan hilang.

Ketika kajian restropektif atas lebih dari 400 karyanya diungkap di Pompidou Center, Paris, Evans tetap tidak seperti Marinetti, bukan seorang pemandu masyarakat menuju kemodernan.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Sejak akhir 1929, Evans mulai mendokumentasikan lanskap dan bangunan-bangunan di New York.

Ini tentu mengejutkan karena pertunjukan di Pampidou Center itu menyebut karir fotografi Evans dimulai secara biasa-biasa saja.

Berutang pada pendekatan khas fotografer avant-garde asal Rusia, Alexander Rodchenko, banyak potret awal yang dihasilkan Evans di akhir 1920-an berisi arsitekur megah New York.

Sejumlah potret yang dibuatnya pada 1936, terutama yang menunjukkan petani miskin dalam balutan pakaian berbahan katun di Hale County, menjadi representasi krisis keuangan Amerika Serikat saat itu.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Swafoto Evans di stan foto otomatis, 1930.

Karena foto-foto itulah, Evans kerap disebut sebagai fotografer dokumenter yang merekam realitas kehidupan masyarakat Amerika Serikat setelah kejatuhan pasar saham tahun 1929.

Sama halnya dengan fotografer lain pada era itu, Evans merasa terpaksa memotret Jembatan Brooklyn dan Broadway, jalan termasyhur di kota itu.

Pada 1930-an, Evans menemukan gaya seninya sendiri.

Ia mulai membuat foto hitam-putih, pilihan potret yang membuatnya dikenal hingga saat ini.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Evans akan selalu dikenang atas fotonya yang berisi potret petani penggarap ini.

Evans angkat bicara terkait aliran fotografi yang dilekatkan kepadanya itu.

"Dokumenter? Itu merupakan istilah yang rumit dan keliru," ujarnya pada 1971.

'Asli Amerika'

Para kurator pada pameran di Pompidou melihat potret-potret petani penggarap di Amerika Serikat bagian selatan sebagai obsesi panjang Evans terhadap yang disebutnya orang-orang asli negara itu (American vernacular).

"Kata vernacular berasal dari bahasa latin, verna. Istilah itu berarti budak yang lahir di kediaman majikan," ujar Julie Jones, asisten kurator pada pameran foto-foto Evans.

"Jadi vernacular menggambarkan hal-hal yang berguna, domestik, terkenal, dan rendahan," ujarnya.

Istilah tersebut kerap digunakan oleh para ahli bahasa untuk menunjuk logat asli suatu daerah. Sejarawan arsitektur juga menyebarkan istilah itu untuk menyebut tempat tinggal yang disesuaikan dengan tradisi bangunan lokal.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Evans kerap memotret papan reklame dan petunjuk lokasi seperti License Photo Studio di New York, 1934.

Titik balik Evans sebagai fotografer terjadi tahun 1931, ketika ia menemani peneliti sejarah rancang bangun berkeliling Boston. Saat itu ia turut memotret berbagai bangunan asli dari era Victoria.

Foto-foto yang dihasilkan Evans itu menjadi fokus pameran Evans di Museum Seni Modern New York pada 1933.

Daftar subjek 'asli setempat' yang dipotret Evans cukup panjang. Dia memotret gubuk-gubuk sederhana yang menjajakan buah di pinggir jalan, garasi untuk menjual sparepart mobil, papan nama gereja sederhana hingga peralatan rumah tangga.

Evans menyusun sejumlah karya terakhirnya yang dipotret secara close-up dalam portofolio hebat. Portofolio itu muncul di majalah Fortune pada 1955.

Seperti seniman pop lain, Evan yang ayahnya bekerja di sektor periklanan kerap terkagum-kagum dengan budaya populer. Dia sering memotret papan pariwara besar, papan petunjuk yang dilukis tangan, dan poster film.

Evans juga mengoleksi memorabilia seperti kartu pos, tiket bus, dan petunjuk jalan yang dicat.

"Dia berusaha menunjukkan apa yang dilihat masyarakat Amerika, lingkungan sehari-hari mereka," kata Jones.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Evans selalu tertarik memotret orang-orang biasa. Gaya fotografi itu disebut sekelompok orang sebagai fotografi dokumenter.

Hasilnya, kata Jones, ketika memotret orang, Evans tidak tertarik pada politikus atau bintang film, melainkan orang-orang sederhana yang membentuk fondasi Amerika sesungguhnya, seperti para petani penggarap di Alabama.

Cara pandang itu terbukti ketika awal 1933, Evans pergi ke Havana untuk membuat portofolio: orang-orang Kuba yang bekerja sebagai kuli panggul di dermaga dan mereka yang sengsara.

'Kemegahan hal-hal sederhana'

Sungguh menarik mengikuti pencarian Evans menemukan spirit dari tanah airnya. Tentu ada hal-hal elegan namun brutal dalam sejumlah karya fotonya--kualitas yang belakangan dideskripsikan sebagai kemegahan dalam kesederhanaan.

Pendekatan Evans itu mungkin diwarnai semangat patriotisme yang dirasakannya.

Selain perjuangan melawan kesengsaraan, petani penggarap tampan yang dipotret Evans dianugerahi martabat dan harga diri.

Pada masa yang hampir sama, ketegangan yang muncul di masyarakat AS, terutama pada dekade 1930-an, turut memastikan karya fotografi Evans selalu mengandung kritik sekaligus perayaan atas kehidupan.

"Evans tidak menampilkan sisi monumental modernitas sama sekali," kata Jones.

"Faktanya, dia tidak hanya terobsesi pada masyarakat kelas bawah tapi juga sesuatu yang usang dan kemerosotan."

"Potretnya tentang Amerika pada dekade 1930-an sangat kelam, seperti fotografer lain pada masa itu seperti Dorothea Lange, dia meneguhkan ketertarikannya pada kemiskinan," ujar Jones.

Evans pun pernah berbicara tentang karya fotografinya yang di luar pakem tersebut. "Ketika itu saya sangat anti-Amerika," tuturnya.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Foto Evans ini dinilai sebagai metafora keadaan sosial Amerika Serikat pada dekade 1930.

Insting Evans mendokumentasikan sisi kelam modernitas terlihat begitu nyata pada pameran di Pompidou. Pada karyanya tahun 1930, Evans memotret kuli angkut yang menaikkan logo besar bertuliskan Damaged (hancur lebur) ke bak sebuah truk.

Sebagian orang tentu memahami foto itu sebagai metafora kondisi masyarakat AS pada umumnya pada saat itu.

Sementara itu, foto Evans tentang orang-orang Amerika keturunan Afrika terlantar berpakaian usang yang mengantre makanan pascabanjir di Arkansas pada 1937 terlihat menunjukkan realitas sosial tersebut.

Pada 1936 Evans memotret gudang perkebunan yang rubuh di Lousiana. Setahun setelahnya, dia mendokumentasikan Joe's Auto Graveyard, sebuah kawasan penampungan rangka mobil tak terpakai. Evans mengerjakan tema tentang kuburan mobil tahun 1960. Rumah-rumah kayu reyot merupakan subjek foto favoritnya yang lain.

Lebih dari itu, sepanjang karirnya, Evans berulang kali mendokumentasikan sampah, seperti karyanya yang berjudul Street Litter (1946) dan Trash Can (1968).

"Dia terobsesi pada sampah dan kagum pada produksi sampah yang berlebihan," kata Jones.

Evans terdorong memotret sampah-sampah itu karena berharap dapat membedakan dirinya dari rekan-rekan fotografernya seperti Alfred Stieglitz dan Edward Weston yang mempromosikan fotografi sebagai seni.

"Evans membenci foto-foto indah yang dipamerkan di museum. Dia selalu mencegah munculnya efek spektakuler cahaya atau bayangan dan mempertahankan pendekatan demokratis atas fotografi yang dia yakini harus mengacu pada realitas," kata Jones.

Menarik untuk menyimpulkan bahwa saat ini karya Evans lebih bergaung luas di masyarakat lebih dari masa-masa sebelumnya. Pandangan ini muncul karena krisis finansial tahun 2008 sekali lagi membuat ketidakseteraan dalam masyarakat AS.

Konteks ini berkontribusi pada kesuksesan pameran bertajuk America After the Fall: Painting in the 1930s di Royal Academy of Arts yang berlokasi di London.

Hak atas foto The Metropolitan Museum of Art
Image caption Joe's Auto Graveyard mencerminkan subjek foto favorit Evans: tempat barang rongsokan.

Pameran itu memajang sejumlah karya kontemporer Evans, termasuk yang berjudul Grant Wood's American Gothic (1930). Sebagian besar pengunjung sangat tertarik melihat perbandingan masa lalu dan kondisi kekinian Amerika.

"Saya pikir setiap orang akan melihat keterkaitan itu," ujar Jones tentang restropektif Evans tersebut.

"Ada isu yang sama di Amerika saat ini. Kita berusaha mengetahui latar belakang yang membuat kita berada di situasi seperti sekarang."

"Ketika anda melihat karya Evans tentang orang-orang biasa, kemiskinan, dan sampah di jalanan, tentu pikiran anda akan tertuju pada situasi Amerika saat ini. Ada gaung yang sama," ujar Jones.

Alastair Sooke adalah kolumnis dan kritikus seni yang bekerja di The Daily Telegraph.

Anda dapat membaca artikel berjudul asli Striking images of America's dark side ini dalam bahasa Inggris di BBC Culture.

Berita terkait