Apakah Blade Runner 2049 lebih bagus dari film pertamanya?

blade Hak atas foto Warner Brothers

Dengan karier yang dipenuhi berbagai peran ikonik, penampilan Harrison Ford di Blade Runner 2049 adalah salah satu akting terbaiknya, kata kritikus Caryn James.

Film fiksi ilmiah Blade Runner yang pertama mengambil latar belakang tahun 2019, dua tahun dari sekarang. Dan bisa kita lihat, meskipun film itu dibuat 35 tahun lalu, Blade Runner seakan tepat memprediksi masa depan: saat ini.

Teknologi Android dipakai di mana-mana, diiringi berbagai film tentangnya, seperti mahakarya Steven Spielberg yang kerap terlupakan AI: Artificial Intelligence hingga serial Westworld. Telepon video juga sudah menjadi hal yang biasa. Hujan yang terus menerus di sepanjang film, seakan menjadi pertanda perubahan iklim yang sekarang amat berasa dengan terus bermunculannya badai.

Relevansi nyaris akurat Blade Runner, membuat sineas Denis Villeneuve yang mengomandoi sekuelnya, Blade Runner 2049, berhati-hati merangkai cerita dan memvisualkan imajinasinya. Dia pun memilih mengangkat tema klasik tentang kemanusiaan.

Film action ini mengambil latar belakang sebuah dunia distopia fiksi ilmiah. Menariknya, Villeneuve memilih tidak berfokus pada kisah tentang teknologi yang menyebabkan kehancuran, tetapi lebih tergoda untuk mengupas apa yang terjadi di balik semua itu. Isu kelaparan dan kebocoran data pun diangkat. Dari sana dia mulai memunculkan permasalahan utama yang ingin dijawab film ini. Apakah ingatan yang membuat kita manusia? Jika bukan, lalu apa?

Film sekuel ini masih melanjutkan premis kisah detektif di dunia distopia tersebut. Ryan Gosling didapuk menjadi Detektif K. Manusia-manusia android berjuluk 'replikan', yang ilegal di film pertama, diganti dengan model baru yang lebih trendi dan legal. Seperti karakter Richard Deckard yang diperankan Harrison Ford di film pertama, K juga berperan sebagai Blade Runner, petugas yang melacak dan membasmi replikan yang sudah kedaluarsa.

Dengan durasi dua jam 43 menit, Blade Runner 2049, bertutur dalam tiga babak. Pertama menjelaskan bagaimana logika dunia ini. K yang mencari replikan kedalursa bertemu Morton (Dave Bautista), seorang peternak cacing. Pada tahun 2049, cacing adalah makanan pokok. Bagian ini mencapai puncak dengan sebuah adegan action yang menghentak.

Hak atas foto Warner Brothers

Adegan ini tentu penting untuk menarik perhatian penonton. Namun, pemahaman kita tentang dunia Blade Runner 2049 dan K, sebenarnya lebih terasa ketika kita melihat keseharian K di rumahnya. Di apartemen K, menunggu sang kekasih, Joi (Ana de Armas). Karakter Joi ini seperti perpaduan antara Siri, Alexa dan karakter Samantha yang diperankan Scarlett Johansson di film Her. Di sini kita tahu bahwa K kesepian.

Plot cerita baru bergerak cepat pada paruh kedua film. K menemukan sesuatu yang ditimbun di bawah pohon dekat peternakan cacing. Penemuan ini membuat K, atas perintah bosnya-yang diperankan Robin Wright-untuk mencari makna di balik objek itu.

Kembali ke masa depan

Sepanjang perjalanan, K mulai mempertanyakan identitas dan masa lalunya sendiri. Gosling sangat piawai di sini, mahir dalam berakting minimalis. Kita bisa paham apa yang dipikirkan karakter yang diperankannya hanya lewat tatapan mata. Akting seperti ini cocok dengan dunia distopia miskin emosi yang digambarkan film.

Sementara itu, Villeneuve juga pintar menggabungkan adegan action dan tema film, sembari menebar informasi penting. Mereka yang tidak pernah menonton film pertama, akan masih bisa memahami. Meskipun begitu, setiap adegan tetap dibumbui berbagai elemen dari film pertama. Misalnya mobil terbang K yang tampak seperti versi terbaru dari mobil Deckard, tetapi kini dilengkapi drone.

Meskipun begitu, sekuel ini tidak bisa berlari dari fakta bahwa yang membuatnya masih terasa dekat dengan Blade Runner pertama karya Ridley Scott adalah tampilannya: malam penuh cahaya biru, diiringi jatuhnya bulir hujan, Los Angeles yang benderang bewarna neon seperti Tokyo, dan lain sebagainya.

Sekuel film ini hadir dengan warna baru di sejumlah adegan yaitu kuning keemasan. Kebanyakan adegan disyuting di Hungaria. Meskipun film ini tidak banyak menggunakan efek CGI, tetapi penonton akan merasa banyak spesial efek yang digunakan. Memang tidak masalah dengan itu, tetapi yang jelas desain film ini masih tidak sekaya dan semeyakinkan film pertama.

Sangat sedikit hal negatif yang bisa disebut dari Blade Runner 2049. Salah satunya adalah akting Jared Leto yang datar dan klise sebagai seorang jenius buta kaya raya, yang punya solusi terhadap masalah krisis makanan yang diceritakan di film. Selain itu, musik gubahan Benjamin Wallfisch dan Hans Zimmer kadang terasa mengganggu bahkan di saat-saat penting.

Meskipun begitu, ada banyak adegan yang kuat dan menggugah. Salah satunya adegan ketika perjalanan K membuatnya singgah di sebuah gudang kuno yang merupakan pabrik komputer. Di sana anak-anak yatim dipekerjakan, mengingatkan kita pada karya-karya Dickens. Adegan ini membuat saya bergidik membayangkan apakah selama ini beginilah cara telpon kita dibuat?

K pun menemui seorang perempuan halus-kata yang terisolasi di sebuah tenda plastik besar karena perempuan ini punya masalah kekebalan tubuh. Pekerjaannya adalah membuat memori yang akan ditanam pada replikan. Dan emosi yang dihadirkan perempuan ini saat berinteraksi dengan K amatlah enak dilihat dan dirasakan.

Hak atas foto Warner Brothers
Image caption Di film pertama, Deckard akhirnya memilih melarikan diri dengan kekasih replikannya, Rachel.

Dan akhirnya pencarian K membawanya bertemu dengan Richard Deckard, Blade Runner pertama. Pertemuan Gosling dan Ford ini benar-benar membuat 45 menit terakhir Blade Runner 2049, memukau.

Film pertama Blade Runner berakhir dengan Deckard yang kabur bersama kekasihnya yang merupakan seorang replikan, Rachel. Setidaknya itulah ending yang dipilih Scott, dari berbagai pilihan ending yang disyutingnya. Spekulasi fans menyebutkan bahwa salah satu ending mengungkap bahwa Deckard sebenarnya juga adalah replikan.

Di film ini Ford tidak hadir hanya untuk alasan nostalgia. Dia menghentak, memberi energi yang menarik pada karakternya, yang curiga pada K, selalu menutup rapat rahasia masa lalu, dan selalu berupaya bertahan hidup. Dalam karier Ford yang dipenuhi peran ikonik mulai dari Han Solo hingga Indiana Jones, aktingnya di Blade Runner 2049 adalah salah satu penampilan terbaik Ford.

Ford juga memompa energi pada penampilan Gosling. Semula mereka beradu mulut dan saling tinju, Deckard dan K akhirnya dihadapkan pada sebuah temuan besar. Semua itu diperankan oleh keduanya dengan karisma yang luar biasa; memang bukan kelas Piala Oscar, tapi mereka tahu bagaimana caranya membuat orang terpaku menatap layar, mengikuti cerita. Salah satu adegan kejutan besar film ini juga melibatkan Ford, adegan yang kembali mengangkat pesan nostalgia dari film pertama, yaitu tentang makna kemanusiaan. Ini film yang sangat penting!

Sangat mungkin kita meninggalkan bioskop dengan keyakinan bahwa kita tahu apakah Deckard adalah seorang replikan atau tidak, tapi kemudian kembali meragukannya.

★★★★☆

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini yang berjudul Does Blade Runner 2049 tops the original? di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait