Menangkap keheningan lewat lensa kamera

Alec Soth Hak atas foto Alec Soth

Fotografer Alec Soth berbagi cerita bagaimana "keheningan yang canggung" membantu dia menangkap potret yang luar biasa.

"Saya adalah anak yang pemalu. Siapa pun yang mengenal saya sejak kecil pasti tidak percaya ini pekerjaan saya sekarang," tawa fotografer Alec Soth.

Dia mengatakan dia mulai memotret setelah lulus kuliah, "itu berfungsi hampir sebagai terapi, yang bisa dibilang memalukan, tapi ini adalah cara untuk belajar menghadapi manusia lain dan menghadapi ketakutan ini."

Ketidaksukaan itu terbayar. Selama lima tahun, Soth sering melakukan perjalanan darat di sepanjang sungai Mississippi - yang melintasi kota asalnya di Minnesota - dan memotret serangkaian lanskap dan potret yang sering dibandingan dengan karya Robert Frank, The Americans yang dirilis tahun 1958.

Setelah seri Sleeping by the Mississippi muncul dalam buku yang dicetak sendiri, Soth dimasukkan ke dalam Whitney Biennial tahun 2004 dan ditawari tugas yang menyebabkannya bergabung dengan Magnum Photos.

Gambar Mississippi-nya dipenuhi oleh para pemimpi. Salah satunya, yang berjudul Charles, secara bersamaan sangat sederhana dan misterius: Mengapa pesawat? Mengapa dia berdiri di atas atap? Sebuah momen yang unik yang diabadikan lantaran rasa malu yang dimiliki Soth. Penggemar dari "membiarkan keheningan yang canggung terjadi". ia memperluas keheningan melalui pilihan kameranya.

Hak atas foto Alec Soth
Image caption Diambil dari buku foto Sleeping by the Mississippi, foto in menunjukkan seorang pria bernama Charles di atap rumahnya di Vasa, Minnesota.

Soth mengatakan salah satu alasan mengapa dia suka bekerja dengan kamera format besar dan tripod adalah dia dapat mengamati subjeknya saat dia memasang kamera. Ini memberi mereka "waktu untuk menyesuaikan diri - tapi ada juga yang ada dalam kecanggungan. Saya memperhatikan bahwa ketika kita memotret, kita semacam berlomba untuk menyelesaikannya, karena ini bisa menjadi hal yang tidak menyenangkan: tetapi kalau kita berada dalam kecanggungan dalam jangka waktu yang lama, saat itulah sihir bisa muncul."

Soth membatasinya untuk sebuah proyek baru-baru ini. "Empat tahun yang lalu di Jepang, saya melakukan percobaan ini dan saya membuat potret ini dalam eksposur lima menit. Saya hanya duduk dengan orang itu, kepala saya tidak berada di belakang kamera, saya hanya duduk - dan itu alasan utamanya hanya untuk hanya menatap orang. Untuk benar-benar berada di tempat yang tidak nyaman itu. Itu adalah pengalaman yang indah."

Mata yang tak berkedip

Soth merasa istimewa memiliki izin untuk melakukan ini. "Pada dasarnya, itulah yang potret mungkinkan untuk anda lakukan," katanya.

"Ini memungkinkan pemirsa untuk memiliki pengalaman itu, berdiri dekat dengan seseorang dan melihatnya dengan cermat, dan hanya untuk menatap - ini adalah kesenangan."

Hak atas foto Alec Soth
Image caption Foto ini diambil di Palm Sunday memperlihatkan Patrick di Baton Rouge, Louisiana.

Antara tahun 2006 dan 2010, Soth memperoleh akses ke kelompok yang sulit dijangkau. Proyeknya Broken Manual mengeksplorasi orang-orang yang memilih bersembunyi dari dunia nyata: pertapa, pria liar, biarawan dan survivalist (orang yang mempersiapkan diri untuk akhir zaman).

Foto-fotonya acap kali menakutkan: salah satunya gantungan baju kosong menjuntai dari tiang yang menempel di dua sisi sebuah gua, yang lain menunjukkan beberapa coretan tajam yang tercetak di dinding: 'Saya mencintai ayah saya Tony. Saya berharap dia mencintai saya.'

"Ini benar-benar tentang kebutuhan untuk terhubung dengan kedok yang ingin melarikan diri," kata Soth. Terkadang, bahkan dalam gambar yang ada manusianya, fotonya seperti potret yang diambil tanpa manusia. "Pekerjaan itu benar-benar tentang kegagalan untuk menyendiri. Orang-orang yang saya foto mengizinkan saya memotret mereka karena mereka tidak ingin sendirian," kata Soth kepada majalah Interview. "Tidak ada yang benar-benar ingin menyendiri. Manuia membutuhkan manusia."

Koleksi tahun 2006, Niagara, menunjukkan pengantin baru di tempat tujuan berbulan madu air terjun Niagara - Soth mencatat bahwa itu juga merupakan tempat orang melakukan bunuh diri. Gambar pasangan tersenyum dan air terjun berwarna mawar dicampur dengan sebuah surat yang bertuliskan: "Jika ada apartemen yang bagus dan saya memiliki pekerjaan layak…. Maukan Anda pulang?"

Hak atas foto Alec Soth
Image caption Soth memotret Melissa di Flamingo Inn sebagai bagian dari foto seri Niagara-nya.

Soth menggambarkan proses pencarian subyeknya sebagai 'kebetulan yang direncanakan'. "Sebuah analogi besar bagi saya untuk fotografi adalah memancing. Anda mulai mempelajari umpan, posisi-posisi di danau, perbedaan waktu dalam sehari - pengetahuan tentang pasang surut ini. "

Pergi dalam sekejab mata

Soth mengambil beberapa foto untuk Sleeping by the Mississippi di sebuah rumah pelacuran di Iowa. Salah satunya, sepasang wanita duduk berdampingan, kaki mereka saling tumpang tindih. Mereka adalah pelacur, mereka juga ibu dan anak. Untuk proyeknya, Soth meminta subyeknya untuk menuliskan mimpi hidup mereka. Sang putri bermimpi menjadi perawat, kata Soth kepada The Telegraph. "Dan si ibu bilang dia tidak punya mimpi lagi. Dia berada di luar jangkauan mereka."

Hak atas foto Alec Soth
Image caption "Kita selalu berada di mode eskapisme, dan kebosanan kehidupan sehari-hari kita sangat menakjubkan kalau kita menaruh perhatian."

Dia khawatir tentang etika fotografi dokumenter, "Saya pikir ini bermasalah saat saya meminta izin - lebih bermasalah lagi saat saya tidak meminta izin". Tetapi dia juga melihat bahwa sebuah gambar seringkali dapat memberi suara kepada orang yang tidak bisa bersuara. "Orang biasa mengatakan hal-hal yang menakjubkan. Mampu membingkainya dengan cara tertentu, dan kemudian memperhatikannya, bisa menonjolkan makna itu. Salah satu hal hebat tentang fotografi adalah dia sangat memperhatikan hal-hal yang sangat membosankan dan mempertegas mereka, dan saya senang menjadi bagian dari aktivitas itu."

Semuanya kembali pada keheningan yang canggung. Soth percaya kita bisa melihat lebih banyak jika kita mengatasinya. "Saya menemukan kembali kutipan ini oleh John Cage yang mengatakan jika ada sesuatu yang membosankan dalam dua menit, dengarkan itu dalam empat menit; kalau itu masih juga membosankan dalam empat menit, dengarkan itu lagi dalam delapan menit - lama-lama itu tidak membosankan lagi."

"Saya pikir itu berlaku pada sesuatu yang banal di sekeliling kita. Kalau Anda pada akhirnya menghabiskan cukup waktu dan melihat itu dalam cahaya tertentu, itu menakjubkan." Kalau kita berhasil menyingkirkan sesuatu yang banal, "Itu karena kita tidak memperhatikan dengan benar."


Anda dapat membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini, How being shy can help you take good photos dan artikel sejenis diBBC Culture

Topik terkait

Berita terkait