Casablanca, film roman tentang krisis pengungsi

Casablanca Hak atas foto AF archive

Tidak ada festival film saat ini yang tidak menyinggung krisis pengungsi yang sedang berlangsung. Rangkaian kompetisi festival film Cannes tahun ini antara lain memutar Jupiter's Moon, sebuah film Hungaria yang menampilkan seorang pengungsi yang terlahir kembali dengan kekuatan super dan Festival Film Venesia memutar Human Flow, dokumenter terhebat seniman Ai Weiwei tentang krisis tersebut.

Namun, dengan segala rasa hormat, sulit membayangkan banyak film ini dilihat dan dilihat lagi selama beberapa dekade yang akan datang. Film-film itu hadir tepat waktu, tapi tak abadi.

Betapa pun, kisah tentang krisis pengungsi yang dirilis pada bulan November 1942, atau 75 tahun lalu tetap dianggap yang paling kuat dan menghibur: Casablanca.

Casablanca bukan hanya tentang pengungsi, tentu saja. Di permukaan, Casablanca adalah sebuah melodrama romantis dengan latar belakang masa perang yang eksotis. Pahlawannya adalah Rick (Humphrey Bogart), seorang pemilik kelab malam Amerika yang sinis dan absurd di kota Casablanca di Maroko pada tahun 1941.

Dia mengklaim bahwa ia tidak peduli dengan perang yang mencabik-cabik Eropa. "Bisnis Anda adalah politik," gerutunya. "Saya sedang menjalankan sebuah bar."

Tapi sifat kerasnya hancur berantakan dengan kedatangan seorang pelanggan yang sangat cantik, Ilsa Lund (Ingrid Bergman), perempuan yang ternyata ia kenal dua tahun sebelumnya, dan ia cintai.

Tanpa sepengetahuan Rick, saat mereka bertemu di Paris itu Ilsa sebetulnya sudah menikah dengan pemimpin gerakan perlawanan Ceko, Victor Laszlo (Paul Henreid), namun saat itu disangkanya suaminya itu telah terbunuh di sebuah kamp konsentrasi Jerman. Ketika tahu ternyata suaminya masih hidup, Ilsa meninggalkan Rick dan kembali ke suaminya. Dan sekarang, Laszlo dan Ilsa berada di bar yang dibuka Rick untuk melupakan Ilsa.

Dia harus memutuskan apakah membiarkan Laszlos jatuh ke dalam cengkeraman petugas Gestapo, Mayor Strasser (Conrad Veidt), atau menyampaikan dua 'surat transit' yang akan memuluskan kepergian mereka dari Maroko, tanpa pertanyaan apa pun.

Tertawa, kamera, action!

Roman tragis? Casablanca mengandung lebih banyak tawa ketimbang film komedi dan memiliki banyak lagu ketimbang drama. Film ini diadaptasi dari sebuah drama, Everybody Comes to Rick's oleh Murray Burnett dan Joan Alison, yang tidak pernah kesampaian dipentaskan di panggung.

Hak atas foto Michael Ochs Archives/Getty Images

Sutradara Michael Curtiz, memunculkan suasana Errol Flynn yang sangat riang, dan Casablanca tampaknya dikemas demikian - penuh peristiwa sampai kita tidak sempat memperhatikan bahwa kita sedang menyaksikan sekelompok orang yang sedang berbicara di sebuah bar yang penuh asap.

Bukan berarti adegan-adegan percakapan itu adalah sesuatu yang perlu dikeluhkan. Julius dan Philip Epstein memasok dialog yang menakjubkan, dan Howard Koch memberikan sentuhan cerita tentang geopolitik, dan Casablanca mungkin adalah film Hollywood yang paling banyak dikutip - dan film yang paling banyak mengutip juga.

"Mainkan lagi, Sam," adalah ucapan yang bukan sepenuhnya betul diucapkan oleh Rick, tapi itu tidak menghentikan kita semua mengatakannya sejak saat itu.

Hak atas foto Michael Ochs Archives/Getty Images

Mungkinkah film Hollywood modern bisa jadi menyenangkan sembari tetap memikirkan nasib para pengungsi dunia? Kecil sekali kemungkinannya -kalau bisa dikatakan begitu

Tapi inilah yang justu memberi jiwa pada Casablanca, dan yang membuatnya sangat relevan di abad ke-21.

Subjeknya diperkenalkan dalam montase pembuka.

"Dengan datangnya Perang Dunia Kedua," kata si narator dengan nada yang berat, "banyak orang Eropa yang terpenjara kemudian dengan penuh harapan, atau putus asa, menuju kebebasan di Amerika. Lisbon menjadi titik embarkasi yang baik.. Namun tidak semua orang bisa sampai ke Lisbon secara langsung, jadi jejak pengungsi yang melintas sangat berliku. Paris ke Marseilles, melintasi Laut Mediterania menuju Oran, lalu menggunakan kereta api, atau mobil, atau jalan kaki, melntasi pinggiran Afrika menuju Casablanca di Maroko Prancis."

Klip berita yang menyertai suara narator ini -keluarga yang berjalan dengan susah payah di sepanjang jalan-jalan pedesaan, barang-barang mereka dimasukkan ke dalam koper dan karung- semuanya terlalu mirip dengan klip-klip di program berita saat ini. Tapi perbedaannya membuat kita tercengang.

Kita sudah terbiasa melihat orang-orang terlantar melakukan perjalanan yang sulit ke utara, melintasi samudera dari Afrika, dan kemudian melewati Eropa. Casablanca mengingatkan bahwa, belum lama ini, mereka menempuh perjalanan ke arah sebaliknya.

Ketika mereka sampai di Maroko, banyak dari orang-orang ini melewatkan waktu di kelab malam Rick yang elegan, Rick's Café Americain.

Memang, ini lebih nyaman daripada kebanyakan kamp pengungsian, namun negosiasi yang bergumam di meja-mejanya akan tidak asing lagi bagi siapa saja yang pernah melihat film dokumenter tentang krisis saat ini: menjual perhiasan dengan harga jauh di bawah; membayar begitu mahal untuk bisa menumpang kapal nelayan.

Dan para pengungsi tidak hanya bertransaksi dengan perhiasan dan uang. Renault (Claude Rains), kepala polisi Prancis yang ramah, menjadikan pemberian visa sebagai cara untuk kepentingan seksual - sebuah transaksi yang menurut film ini merupakan permainan yang paling tidak berbahaya.

Dalam satu adegan, asisten Renault datang ke mejanya dan mengatakan kepadanya bahwa "masalah visa lain telah muncul". Renault meluruskan dasinya dan menyeringai. "Suruh perempuan itu masuk," katanya.

Hak atas foto Michael Ochs Archives/Getty Images

Kita dapat menghormati Curtiz dan timnya karena menyelundupkan material yang tak pantas semacam itu sehingga lolos sensor, dan kita dapat menghargai kinerja dari Rain. Namun perlakuan film terhadap eksploitasi Renault tidak lekang waktu.

Meski begitu, Rick sendiri berada di luar penyalahgunaan tersebut. "Saya tidak membeli atau menjual manusia," katanya kepada Ferrari (Sydney Greenstreet), gembong pasar gelap kota itu.

Tapi seiring berjalannya waktu, Rick menyadari bahwa menutup mata terhadap jual beli jenis itu merupakan hal yang buruk. Ada adegan menyentuh saat ia mengatur roda rolet café agar seorang perempuan Bulgaria pengantin baru (Joy Page) tidak harus tidur dengan Renault - sehingga membuat karyawan Rick menangis -dan juga penonton.

Adegan lain yang berkesan adalah ketika kepala pelayan kafe (SZ Sakall) minum brandy dengan dua orang Austria tua yang akan berangkat ke AS dan memuji bahasa Inggris mereka yang tidak begitu fasih. Rainer Werner Fassbinder, sutradara Jerman, menyebut bahwa sekuens ini sebagai "salah satu dialog paling indah dalam sejarah film".

Beberapa adegan lainnya dilaporkan membuat para pemeran dan kru menangis, sebagian karena banyak dari mereka adalah pengungsi sejati. Veidt mungkin memainkan Nazi di film ini, namun kenyataannya dia justru melarikan diri dari Nazi. Sakall dan Curtiz adalah orang Yahudi Hungaria: tiga saudara perempuan Sakall dan keponakannya meninggal di kamp konsentrasi.

"Hampir semua dari sekitar tujuh puluh lima aktor dan aktris yang berperan di Casablanca adalah imigran," kata Noah Isenberg dalam buku barunya tentang film ini, We'll Always Have Casablanca.

"Di antara 14 orang yang mendapatkan kredit, hanya tiga yang lahir di Amerika Serikat: Humphrey Bogart, Dooley Wilson (pianis di kafe, Sam), dan Joy Page." Salah satu ironi film dan ironi paling menyedihkan adalah bahwa apa yang disebut 'Café Américain' tidak ada di Amerika dan hampir tidak ada orang Amerika di dalamnya. Lalu kemudian kita terpaksa bertanya, apakah yang dimaksud dengan Amerika?

Hak atas foto Michael Ochs Archives/Getty Images

Jadi, sementara kisah tentang Rick dan Ilsa -dalam kenyataannya tidak pernah ada perwira Nazi di Casablanca - ini didukung oleh pengalaman traumatis pemerannya sendiri. Itulah salah satu alasan mengapa film ini sangat ampuh, entah Anda sadar dengan latar belakang aktor atau tidak.

"Jika saja .. peran kecil yang dimainkan oleh para aktor Hollywood yang memalsukan aksen mereka," tulis Pauline Kael di The New Yorker, "film ini tidak akan memiliki warna dan nada seperti itu."

Beruntung, Los Angeles pada tahun 1942 tidak terlalu berbeda dengan kafe Rick. LA adalah tempat di mana orang-orang eksil Yahudi dari seluruh Eropa berkumpul, mempraktikkan bahasa Inggris mereka, menikmati keramahan dan persahabatan, dan memimpikan kehidupan yang lebih bahagia.

Dan selain plot Casablanca menunjukan perjuangan untuk membantu pengungsi, keberadaan film ini juga merupakan perjuangan kuat. Lagi pula, jika bukan karena para pengungsi di Hollywood, maka film itu tidak mungkin jadi karya klasik yang paling disukai.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca dalam bahasa Inggris di Why Casablanca is the ultimate film about refugee di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait