Robot meluncurkan album, akankah musisi manusia terancam?

musik robot

Hello World adalah album pertama di dunia yang dibuat oleh robot. Album yang memuat lagu-lagu, mulai dari yang bergenre tekno hingga Europop ini disebut kritikus BBC Culture, Alex Marshall, akan mengubah cara pandang kita soal kreativitas dan kecerdasan buatan.

Benoît Carré adalah penulis lagu yang telah menggubah berbagai lirik dan musik untuk penyanyi-penyanyi besar Prancis, misalnya Johnny Halliday, Elvis-nya Prancis, dan Françoise Hardy. Dan bulan ini, musisi 47 tahun itu meluncurkan album hasil kolaborasinya dengan musisi yang mungkin siapapun tidak akan pernah duga.

Musisi ini bukanlah penyanyi, bukan juga rapper, bahkan bukan manusia. Carré bekerja sama dengan Flow Machines, kecerdasan buatan paling canggih yang dapat menggubah musik.

Jika melihat sedikit ke belakang, kecerdasan buatan memang sudah menancapkan taringnya di dunia musik. Bisa saja dalam waktu dekat, lagu-lagu yang kita sukai adalah buatan berbagai aplikasi dan teknologi komputer.

Sejauh ini perusahaan start-up seperti Jukedeck, Amper Music dan Melodrive telah membuat kecerdasan buatan yang membuat penggunanya bisa memilih irama yang disuka seperti synth pop, musik elektronik dan sebagainya, lalu merangkainya, hanya dengan memijit tombol telepon pintar.

Image caption Carré telah menulis lagu untuk musisi terkenal Prancis, misalnya Johnny Halliday dan Françoise Hardy.

Meskipun begitu, hasil ciptaan musik sejumlah start-up di atas tersebut, bisa dibilang tidak akan membuat para musisi khawatir. Pasalnya musik yang dibuat cenderung terkesan generik, membosankan dan tidak menginspirasi. Sangat jauh sekali jika dibandingkan dengan musik yang digarap Bob Dylan, misalnya.

Namun, album Carré, Hello World, berbeda. Musik yang dihadirkan amat ciamik. Dengan kecerdasan buatan yang dinamai SKYGGE (dalam bahasa Denmark berarti bayangan), muncullah lagu-lagu balada, pop, tekno hingga Europop. Jika Anda mendengarkannya di radio, pasti tidak akan terpikir kalau lagu tersebut tidaklah dibuat oleh manusia.

Tak ayal, berbagai komentar bernada miring pun bermunculan. Misalnya, ada berita yang memasang judul 'Komputer bisa membuat lagu Europop, buat apa lagi gunanya musisi manusia?'. Namun, Carré menegaskan cara pandang itu salah. "Filosofi proyek ini adalah untuk membuat alat yang bisa membantu kreativitas musisi. Namun, ternyata orang tak peduli," ungkap Carré. "Mereka lebih tertarik mendengarkan pernyataan kalau musisi akan tergantikan".

Image caption Flow Machines memang bisa membuat melodi, tetapi tetap manusia yang merangkainya menjadi lagu utuh.

Tanpa bantuan manusia, lagu buatan robot ini akan terdengar murahan. "Banyak campur tangan orang di sini," ungkap Carré sambil mencontohkan produser musik asal Belgia, Stromae dan bintang pop Kanada, Kiesza, yang ikut membantu pembuatan Hello World.

"Mereka menyerahkan jiwa dan semangat mereka untuk album ini. Dan itulah elemen paling penting dari sebuah album, sesuatu yang berasal hanya dari manusia."

Lantunan lagu yang mengalir

Penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat musik, bukanlah hal baru, ungkap komposer dan pemain cello, Margaret Schedel, yang juga dosen musik di Universitas Stony Brook, New York.

Orang-orang sudah menggunakan komputer untuk membuat musik klasik sejak tahun 1950an. Bahkan, komputer dinilai lebih bagus dalam menggubah musik dibandingkan manusia. Pada tahun 1980an, seorang profesor Prancis, Xavier Rodet, membuat kompternya 'menyanyikan' The Magic Flute karya Mozart. Hasilnya dinilai lebih bagus dari kebanyakan penyanyi opera baru.

Image caption Produser asal Belgia, Paul Van Haver, aka Stromae, adalah salah satu musisi yang terlibat dalam proyek SKYGGE.

Riset penggunaan robot untuk membuat musik kini terus berkembang. Robot bekerja sudah menyerupai otak manusia-belajar dari pengalaman.

Lalu bagaimana caranya robot-robot ini menciptakan musik? Di Flow Machines pengguna harus memasukkan puluhan musik ke dalam sistem. Kecerdasan buatan akan menganalisa musik tersebut satu-satu, melihat polannya, lalu kemudian mengeluarkan respon berupa musik-musik pendek.

Sambil tertawa Schedel menyebut "sekitar 99% musik pendek yang diciptakan robot, lebih bagus dibandingkan musik yang ditulis mahasiswanya."

Image caption Margaret Schedel adalah musisi dan pemain cello, yang turut mengajar di Universitas Stony Brook, New York.

Namun, ketika kita beralih ke musik yang lebih kompleks, seperti lagu pop, robot mengalami kesulitan. "Musik itu kompleks. Banyak sekali dimensinya. Alhasil, jika ada satu bagian yang salah, orang akan tahu," kata Schedel. "Lebih gampang menipu mata daripada telinga."

Keuntungan menggunakan robot seperti Flow Machines, jelas dirasakan mereka yang telah menggunakannya. "Ini seperti punya musisi baru yang bermain alat musik di sudut studio," ungkap Michael Lovett dari band elektronik NZCA Lines, yang turut memproduksi Hello World.

"Yang keluar biasanya adalah musik-musik yang terkesan murahan, sampah. Namun, kadang tiba-tiba muncul lantunan musik yang unik, menarik, 'Wah, enak sekali', saat itulah saya biasanya langsung mengambil potongan musik itu dan menjadikannya lagu."

Musik Cyborg

Lovett membuat lagu berjudul Multi Mega Fortune di album Hello World. Lagu futuristik ini punya melodi reff bernada tinggi, sangat membuat candu. Untuk membuatnya, Lovett memasukkan berbagai lagu R&B favoritnya ke sistem Flow Machines. Kecerdasan buatan lalu menganalisa musik tersebut dan membuat delapan hingga 10 melodi pendek secara terus menerus. Lovett terus mendengar sampai dia menemukan melodi yang menarik hatinya.

Dia lalu menyambung melodi-melodi yang ada, menyuntingnya, dan menambah berbagai efek supaya terdengar lebih enak. Semuanya itu dilakukan dalam proses yang tidak sebentar. "Namun, jelas ini jauh lebih cepat, dan sangat menyenangkan ketika mendengar melodi-melodi yang tercipta, sampai akhirnya mendapatkan satu yang memikat."

"Jujur, saya tidak tahu apakah robot ini memang punya kemampuan atau cuma beruntung saja mereka membuat melodi yang ternyata saya suka."

Meskipun terkesan bahagia, Lovett sebenarnya agak takut, suatu hari kecerdasan buatan akan mengambil alih dunia musik, profesinya. Perusahaan rekaman mungkin suatu hari tinggal bicara, 'Kami ingin lagu rock baru a la lagu-lagu U2'. Mereka kemudian tinggal memencet tombol keyboard dan muncullah puluhan lagu utuh seperti yang diharapkan.

Image caption Akankah robot menginvasi dunia musik?

Schedel, yang juga seorang akademisi sepakat bahwa kekhawatiran Lovett beralasan. "Mengapa kita harus membayar seorang musisi jutaan rupiah, jika bisa membayar kecerdasan buatan dengan harga ratusan bahkan puluhan ribu saja?"

Namun, dia menambahkah, "Jika memang robot membuat musik yang lebih enak didengar dibandingkan 95% musik buatan musisi jalanan, memangnya itu salah?" Menurutnya, orang-orang seharusnya lebih semangat, daripada khawatir, karena musik buatan robot ini akan mendorong manusia menghasilkan sesuatu yang lebih baru lagi.

"Yang saya tidak sabar menunggu adalah untuk mendengarkan musik cyborg: musik kombinasi buatan manusia dan robot," ungkapnya. "Saya sangat yakin kalau kita bisa menggunakan robot untuk mendongkrak kreativitas kita: menciptakan melodi yang tidak bisa dibuat hanya oleh manusia atau robot."

Image caption Salah satu alasan bahwa robot mungkin tidak akan mengambil alih dunia musik adalah karena musik merupakan aktivitas sosial-komunal.

Dia juga menambahkan bahwa robot belum akan mengambil alih manusia dalam membuat musik, karena musik adalah aktivitas sosial-bersama: kita suka menonton pertunjukan langsung.

Lalu kapan kira-kira musik gubahan kecerdasan buatan akan semakin ramai? Tidak ada yang tahu. Bahkan kita sendiri tidak tahu bagaimana masa depan Flow Machine. Yang jelas, pengembang utama Flow Machine, François Pachet, kini merupakan salah satu direktur di Spotify.

Jadi, jika suatu saat playlist Spotify Anda memperdengarkan lagu-lagu yang terdengar janggal, Anda boleh curiga kalau lagu tersebut mungkin bukanlah buatan manusia.

Anda bisa membaca versi asli artikel di atas dalam Bahasa Inggris dengan judul Is this the world's first good robot album? di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait