Tren desain revolusioner rumah mungil

Desain rumah mungil Hak atas foto Nico Marques/Photekt

Dengan semakin terbatasnya ruang dan semakin sedikitnya rumah dengan harga terjangkau, sejumlah arsitek mulai berpikir tentang merancang hunian yang berukuran kecil.

Bayangkan sebuah rumah yang memiliki tombol yang bisa menurunkan tempat tidur dari langit-langit, mengeluarkan meja makan dari lantai, dan membuka layar proyektor dari atap.

Itulah desain YO! Home. Rumah jenis tudio seluas 39 meter persegi itu, yang juga dilengkapi dengan balkon, bisa berubah menjadi empat ruang yang berbeda-beda dengan menggunakan ruang tersembunyi dan perspektif yang berubah-ubah.

Simon Woodroffe, otak di balik YO! Sushi dan waralaba hotel kapsul YOTEL, menjelaskan bagaimana inspirasinya datang dari desain teater, di mana bagian-bagian yang bisa berpindah secara mekanik bisa menciptakan dunia baru hanya dalam hitungan detik.

"Kita melihat adanya lompatan besar dalam berbagai aspek kehidupan," kata Woodroffe dengan antusias, dan menunjukkan desainnya untuk rumah kapal di Sungai Thames.

Pada 2050, 66% dari penduduk dunia akan tinggal di perkotaan, menambah sekitar 2,5 miliar orang lagi di kota-kota seluruh dunia.

Dengan harga properti yang meroket di berbagai kota dunia seperti London, New York, dan Hong Kong, ketersediaan rumah dengan harga terjangkau semakin minim dan ruang pun menjadi semakin mahal.

Maka arsitek, desainer, dan pengembang pun semakin mendorong keberadaan rumah mikro.

Hak atas foto YO! Home
Image caption Studio YO! Home yang baru bisa berubah menjadi empat ruang berbeda.

Mereka ingin mengubah cara kita berpikir tentang ruang dan membalikkan asumsi bahwa kita harus mengorbankan kualitas hidup jika tinggal di ruang yang sempit.

Karena kini rumah sempit sudah menjadi kenyataan bagi banyak orang, maka banyak yang menanyakan bagaimana membuat rumah kecil menjadi sesuatu yang indah dan praktis.

"Tampaknya, trennya adalah rumah kecil yang dirancang dengan lebih baik," kata Karen McCartney, penulis Superhouse yang tinggal di Sydney.

"Ukuran tak selalu menjadi tujuan utamanya. Arsitek mampu melakukan hal-hal yang tak bisa dibayangkan orang biasa, dan mengubah cara penggunaan ruang."

Timur bertemu Barat

Di sebuah ryokan, atau penginapan tradisional Jepang, seorang pekerja rumah tangga akan menggelar tikar tatami untuk menjadi tempat tidur tamu pada malam hari, dan di pagi harinya, tikar itu akan digulung lagi sebelum menyajikan sarapan atau makan malam di ruangan yang sama.

Sama halnya seperti YO!Home. Mereka mengambil etos ketimuran yang sama dengan melihat furnitur sebagai sesuatu yang bisa dipindah atau bergerak dan bukan sesuatu yang solid.

"Apakah memencet tombol dan menunggu 10 detik (untuk menurunkan tempat tidur) lebih mengesalkan daripada berjalan ke ruangan lain atau naik tangga? Ini hanya soal menyesuaikan diri dengan cara hidup yang berbeda," kata Jack Spurrier, direktur pengelola YO!Home.

Sebagai perbandingan, studio gaya Barat, yang memasukkan semuanya ke satu ruangan, menurut Spurrier, malah membuat bingung. "Anda akan duduk di kasur atau sofa?"

Salah satu solusinya adalah Murphy bed, atau kasur pegas yang bisa dibuka dan dimasukkan lagi ke tembok secara vertikal. Namun Woodroffe menginginkan sesuatu yang lebih mewah, dan menggantikan PRT Jepang dan tikar tatami dengan teknologi canggih (YO!Home akan dilengkapi buku panduan, seperti halnya mobil, dan setiap blok akan memiliki tim manajemen khusus di lokasi).

Dia menyasar orang-orang penggila teknologi yang juga menyukai dekorasi yang unik.

Gaya hidup

Namun rumah mikro lebih dari sekadar tren desain terbaru. Gaya ini dianggap sebagai salah satu dari banyak tren dan cara hidup yang diterapkan di kota-kota Barat untuk menghidupkan kawasan pusat kota.

"Banyak bukti menunjukkan bahwa pembeli rumah pertama di London tidak terlalu tertarik dengan 'benda' tapi lebih tertarik dengan 'pengalaman," kata Paul Harbard, pendiri dan direktur keuangan pengembang swasta rumah 'padat', Pcket.

Teknologi semakin menggantikan objek material, dan memungkinkan kita untuk "hidup tanpa banyak barang yang sebelumnya dianggap penting, seperti buku atau CD."

Harbard melihat rumah mikro sebagai senjata melawan proses ghetto-isasi dengan pemisahan antara miskin dan kaya yang merusak masyarakat.

Pocket tak akan menjual rumah bagi konsumen yang pemasukannya di atas batas tertentu dan menyediakan proses pemeriksaan pada saat penjualan untuk memastikan bahwa rumah ini tetap terjangkau.

Mereka membangun proyek hunian padat penduduk di lokasi-lokasi yang dulunya merupakan lokasi industri atau komersil, namun kemudian ditinggalkan.

Ini adalah solusi yang "tampaknya lebih baik dibanding menambah sebaran urban atau membangun di daerah hijau," kata Harbard. Dan yang lebih penting lagi, hunian seperti ini akan membuat pekerja setempat - para guru, perawat dan polisi yang merupakan kunci kehidupan kota - tetap berada di tengah kota.

Kecil itu indah

Pemerintah setempat dan akademisi pun mulai memberi perhatian. Tahun lalu, Wali Kota Los Angeles, Eric Garcetti meminta agar ada 100.000 unit hunian baru yang selesai dibangun pada 2021, dan ini mendorong badan think tank CityLAB di University of California, Los Angeles, melihat ke sekitar mereka.

Mereka telah merancang prototipe untuk Backyard BI(h)OME, hunian seluas 46 meter persegi yang dibuat dari plastik dan besi. Rumah ini bisa didirikan di pekarangan dan disewakan atau digunakan oleh kerabat, sehingga mengurangi krisis perumahan.

New York bahkan sudah lebih maju. Pada tahun 2012, Wali Kota Michael Bloomberg meluncurkan kompetisi yang meminta agar arsitek merancang blok unit mikro pertama di Manhattan, dan Bloomberg akan menghapus aturan zonasi (bangunan baru kini minimal harus berukuran 37 meter persegi).

My Micro NY oleh nARCHITECTS memenangkan kompetisi itu. Kini sudah ada 55 pesanan untuk unit mikro tersebut.

"Kami ingin menunjukkan keindahan dari dimensi yang kecil," kata salah satu pendiri nARCHITECT, Eric Bunge.

Salah satu caranya adalah dengan meninggikan langit-langit loft atau studio dan jendela yang besar untuk menambah kesan akan tambahan volume dan cahaya ke rumah-rumah seluas 23-34 meter persegi itu. Cara lain adalah dengan mendirikan bangunan yang elegan yang terdiri dari empat menara langsing yang bisa dengan mudah membaur di kota yang penuh dengan gedung-gedung tinggi.

Hak atas foto Ledaean
Image caption My Micro NY, oleh nARCHITECTS, memenangkan kontrak untuk merancang blok unit mikro pertama di Manhattan, New York.

Ada juga pertimbangan praktis. Untuk memaksimalkan sisi fungsional, ada penekanan lebih pada ruang yang bisa digunakan secara bersama-sama dan penghuni pun didorong untuk memikirkan ulang cara menggunakan ruangan tersebut.

My Micro NY menyebut dirinya "komunitas" dan ada fasilitas sasana kebugaran, teras terbuka dengan pemandangan Empire State Building dan ruang televisi. Penyimpanan pun tersedia gratis untuk setiap penghuni di ruang bawah tanah.

Seperti halnya My Micro NU, kebanyakan rumah mikro dibuat di pabrik sebagai satu blok tersendiri, dan kemudian dipindahkan menggunakan truk lori yang kemudian ditumpuk di satu tempat seperti Lego.

Rumah yang dirancang ini lebih ramah lingkungan daripada bata dan semen di rumah biasanya, karena mengurangi biaya transportasi dan pemasangan, dan rumah mikro bisa lebih mudah didinginkan atau dihangatkan karena ukurannya yang kecil.

Hak atas foto nARCHITECTS
Image caption Seperti halnya My Micro NU, kebanyakan rumah mikro dibuat di pabrik sebagai satu blok tersendiri, dan kemudian dipindahkan menggunakan truk lori yang kemudian ditumpuk di satu tempat seperti Lego.

Namun tetap saja ada tantangannya. Ada isu mendasar seperti ventilasi; atau bagaimana mencegah bau yang bertahan setelah memasak, atau dalam kasus YO!Home, menciptakan ruang di bawah tempat tidur untuk memastikan orang yang terjebak bisa keluar.

Perencanaan juga tetap menjadi hambatan, karena ada hukum yang ketat yang mengatur ukuran apartemen studio. Bunge harus memastikan ukuran yang sangat tepat saat rumah tersebut dibuat di pabrik karena, "jika kita kekurangan satu sentimeter saja, maka apartemen ini akan tidak sesuai aturan."

Woodroffe adalah yang pertama yang mengakui bahwa rumah mikro bukan untuk semua orang. "Jika Anda mengoleksi edisi lama majalah Country Life atau Cosmopolitan dan Anda ingin menumpuknya, maka Anda lebih baik mencari rumah lain," katanya.

Tetap saja, YO!Home sudah menarik minat banyak orang, dari San Francisco sampai Helsinki. Langkah selanjutnya adalah membuat rumah ini sesuai pesanan; Woodroffe membayangkan pembeli akan memesan interior mereka sendiri secara online, dan semuanya, dari warna tembok sampai materi lantai akan dirancang sesuai keinginan.

"Harapannya, kami menjadi Coca-Cola untuk rumah kecil. 25 apartemen di blok kecil itu akan laku terjual," katanya tersenyum.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Tiny homes: A revolutionary design craze di laman BBC Culture

Topik terkait

Berita terkait