Oranye, warna penuh magis dari zat beracun gunung berapi

lukisan oranye Hak atas foto The Luis A. Ferré Foundation, Inc.

Selama berabad-abad warna oranye diproduksi dari mineral beracun yang berasal dari gunung berapi. Wartawan Kelly Grovier membedah warna yang kerap disebut ahli kimia ini sebagai materi penting untuk membuat batu bertuah.

Coba hilangkan warna oranye dari khasanah karya seni dunia, maka seluruh dunia seni tidak akan ada. Langit membara di lukisan The Scream karya Edvard Munch akan lenyap. Magis yang dipancarkan lukisan populer Frederic Leighton, Flaming June, juga akan padam.

Coba hapus warna oranye. Lukisan-lukisan di makam kuno Mesir akan kehilangan daya tarik. Lukisan diri Vincent van Gogh yang populer juga akan kehilangan pesonanya. Oranye, warna antara merah dan kuning, telah menjadi warna yang penting. Warna ini telah menjadi syarat agar sebuah karya tampak dramatis.

Di luar sejarah seni, oranye telah terbukti menjadi warna dasar berbagai simbol dan memiliki makna budaya. Tanpa sengaja bernama sama, Raja Eropa, William of Orange, tahun 1570an silam menciptakan bendera pemberontakan berwarnya oranye-putih-biru, yang kemudian menjadi warna bendera Belanda. Oranye pun dijadikan warna mobil pemadam kebakaran Swiss, hingga warna pakaian yang dikenakan astronot.

Image caption Lukisan Flaming June menjadi simbol antara tidur dan kematian.

Dari zaman baheula hingga akhir abad ke-19, warna oranye ditambang dari zat orpiment yang didapat dari kerak gunung berapi. Zat itu mengandung arsenik yang mematikan. Namun, warna yang dihasilkannya juga mencengangkan.

Yakin bahwa zat dan warna tersebut adalah materi utama untuk membuat batu bertuah, kunci kehidupan abadi, para ahli kimia selama berabad-abad menelitinya. Seniman pun juga. Oranye telah menjadi warna yang punya magnet tersendiri, untuk menggambarkan kehidupan dan bahkan kematian.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Orpiment yang ditambang dari gunung berapi menjadi bahan awal pembuatan warna oranye.

Membara penuh magis

Disengaja atau tidak, aura ambigu (hidup dan mati) warna oranye itu tergambar kental di berbagai karya seni. Contohnya lukisan berjudul Inspiration yang dibuat pelukis Rococo Prancis, Jean-Honoré Fragonard, tahun 1769 silam.

Jaket warna oranye yang dikenakan seorang pujangga di lukisan itu, menggambarkan imajinasinya yang meluap-luap. Sementara pakaian beludrunya yang mengkerut-kerut mewakili pikirannya yang tengah gundah gulana. Coba ganti warna jaket yang dikenakannya, pesan tersebut tak akan tersampaikan dengan baik.

Hak atas foto Society6
Image caption Lukisan diri Paul Gauguin, Halo and Snake.

Kealiman sekaligus kejahatan juga mustahil tergambarkan dengan baik jika lukisan diri Paul Gauguin dengan ular dan apel, tidak menggunakan warna dominan oranye. Lukisan itu menggambarkan individu yang digoda iblis untuk memakan buah terlarang.

Dan begitulah seterusnya selama berabad-abad. Ketika warna oranye diikutsertakan dalam sebuah karya seni, maka penikmatnya akan tenggelam dalam dua dunia; yang selama ini dikenalnya dan dunia misterius yang berpanut pada rasa.

Rasanya tidak mungkin warna oranye dilenyapkan dari lukisan Munch yang sangat populer, The Scream. Akan sulit juga merasakan efek ruangan tak berkesudahan pada lukisan The Dance karya Henri Matisse.

Image caption Lukisan The Dance.

Pada lukisan tersebut pegangan tangan dua penari bertubuh oranye di bagian bawah lukisan, hampir lepas. Salah satu dari mereka bahkan tampak tergelincir. Kaki kirinya sudah hilang dari lukisan. Lukisan ini bukanlah soal kebahagian, tetapi sebuah mahakarya yang menggambarkan bagaimana jika tataran kosmik yang teratur tiba-tiba rusak.

Dari masa lalu hingga sekarang

Munch dan Matisse mencetak tren dan landasan penggunaan warna oranye dalam karya seni modern dan kontemporer. Sepanjang abad ke-20, warna penuh pikat ini menjadi pilihan utama banyak seniman, mulai dari Francis Bacon, lewat adegan sinisnya dalam Three Studies for Figures at the Base of Cruxifixion (1944), hingga Art of Living (1967) karya Rene Magritte.

Warna penuh kebahagiaan hidup dalam Rythim yang dilukis pada 1931, menjadi penanda betapa pentingnya warna oranye bagi seniman Prancis kelahiran Ukraina, Sonia Delauney. Dia pernah bersikukuh mengklaim: "Anda tahu, saya tidak suka di warna oranye." Namun, suka atau tidak, warna membara itulah yang menyatukan gambar atau lukisannya.

Pentingnya oranye digunakan seniman pada akhir abad lalu, telah masuk ke alam bawah sadar seniman masa kini. Misalnya, di milenium baru ini, muncullah The Gates, karya seniman Bulgaria, Christo Yavacheff dan seniman Prancis, Jeanne-Claude, yang pada Februari 2005, memenuhi 7.500 jalan taman di Central Park, NY, dengan kain nilon oranye.

Image caption Karya seni The Gates.

Hanya oranye yang mampu menyiratkan kelahiran, kematian, keabadian, dan ketidakabadian secara bersamaan. Bagi sebagian orang, warna ini mengingatkan pada jubah yang dikenakan biksu. Namun, bagi saya, Christo dan Jeanne-Claude, oranye adalah warna penuh hasrat, yang mengundang jiwa-jiwa lelah dan bertransformasi penuh kuat.

Anda bisa membaca versi asli dari artikel ini dengan judul The toxic colour that comes from volcanoes di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait