Keagungan gunung api dalam lukisan Vesuvius dan potret letusan Kilauea

Kilauea Hak atas foto Getty Images
Image caption Lava mengalir di Jalan Makamae di Leilani Estates, Hawaii pada 6 Mei - letusan Kilauea memaksa evakuasi 1.700 warga

Letusan gunung berapi di Hawaii memberikan gambar magma yang menakjubkan mengalir di jalan perumahan - itu mengingatkan kita pada lukisan Vesuvius.

"Orang-orang tidak pernah percaya pada gunung berapi", penyair dan filsuf kelahiran Spanyol George Santayana pernah menulis, "sampai lahar menggulung mereka".

Cukuplah untuk mengatakan bahwa tidak ada keraguan pada penduduk di Pulau Puna, sebuah distrik Hawaii saat ini, dalam menghadapi kenyataan keras soal Gunung Kilauea yang meletus pada awal bulan ini.

Kabar tentang meletusnya gunung ini lantas menjadi berita utama internasional ketika celah-celahnya yang mengandung belerang merekah dari arsitektur kunonya.

Rutin meletus sejak 1983, Kilauea kembali aktif setelah serentetan gempa bumi mengguncang Hawaii dalam beberapa pekan terakhir, termasuk guncangan seismik yang mencapai 6,9 skala richter pada 5 Mei lalu- yang terbesar melanda pulau itu dalam 40 tahun terakhir.

Serpihan lava bagai bebungaan yang menyembur dari gunung Kilauea, 12 Mei. Hak atas foto Mario Tama/Getty Images
Image caption Serpihan lava bagai bebungaan yang menyembur dari gunung Kilauea, 12 Mei.

Hanya beberapa hari sebelum gempa besar ini, kawah yang terbentuk di puncak gunung berapi rapuh. Keruntuhan itu mengguncang waduk magma yang membara yang sekarang memanggul jalannya ke permukaan pulau, membuka celah baru cairan cair yang bergerak cepat yang menghancurkan segala sesuatu di jalannya.

Dorongan lava yang tanpa henti telah menyebabkan kepanikan, evakuasi, termasuk gelombang foto-foto jurnalistik yang merekam kehancuran.

Di antara foto-foto yang lebih mencengangkan adalah foto yang menangkap lava saat melibas para fotografer di Jalan Makamae di Leilani Estates - wilayah berpenduduk di pulau yang wilayahnya kini mulai meleleh.

Gambar itu menunda serangan mematikan lava, membekukannya dalam bentuk menakutkan dari tsunami abu dan api yang lambat. Dalam bingkai itu, sisa-sisa peradaban yang rentan menangkap mata kita.

Di sepanjang bengkungan dangkal kabel telepon yang menggantung di atas material vulkanik yang membara di sisi kanan gambar, nyala api membuntuti kita, seolah-olah sumbu bom waktu baru saja dinyalakan.

Di latar depan foto itu, jalan yang telah diseragamkan yang menghubungkan mata kita dengan ancaman yang semakin mendekat tidak lagi tampak seperti hamparan aspal yang begitu sederhana, namun seperti lidah yang terengah-engah menjulur dari rahang binatang yang terlalu panas.

Tentu saja ini bukan pertama kalinya reportase visual dari lingkungan gunung berapi aktif menghentikan dunia pada porosnya.

Dua setengah abad yang lalu, keributan yang tidak menyenangkan dari letusan gunung berapi Italia, Gunung Vesuvius menyita imajinasi seniman Inggris Joseph Wright dari Derby, Inggris, yang menghabiskan satu bulan di musim gugur 1774 mempelajari gunung api di Teluk Napoli.

Setelah membangun reputasi yang tangguh di belakang asalnya, dengan karya seperti An Experiment on a Bird in the Air Pump (1768), sebagai dramawan besar dari kilauan dan bayangan, Wright terobsesi dengan api dan pemandangan penuh amarah dari gunung berapi yang meletus.

Meskipun Wright tak menyaksikan peristiwa gunung berapi besar beberapa tahun sebelumnya, selama tinggal di Italia ia sempat melihat beberapa sulfur belerang.

Itu cukup untuk membuktikan apa yang diserukannya dalam surat kepada saudara lelakinya, tentang "letusan yang sangat besar pada saat itu." Itu pula alasannya mengabdikan diri untuk membuat lebih dari 30 lukisan Vesuvius pada tahun-tahun berikutnya.

Vesuvius Hak atas foto Saatchi Gallery
Image caption Joseph Wright dari Derby melukis letusan Vesuvius dengan pemandangan Teluk Napoli sekitar tahun 1776 hingga 1780.

Boleh dibilang upaya paling besar dan paling berpengaruh yang dilakukan Wright untuk menghormati kekuatan gunung berapi itu adalah karyanya yang berjudul Vesuvius in Eruption, with a View over the Islands in the Bay of Naples, yang dia lukis setelah kepulangannya ke Inggris, antara tahun 1776 - 1780.

Aura 'pencerahan' bernada sopan yang Wright rayakan dalam An Experiment on a Bird in the Air Pump, yang narasi nokturnalnya diterangi oleh kelembutan lilin yang tersembunyi di pusatnya, telah digantikan oleh keganasan kekuatan liar alam dalam karya selanjutnya.

Keanggunan kecerdasan dan keanggunan bentuk manusia (terlihat dari beberapa jiwa yang berjuang dan beberapa yang lain membawa korban gunung berapi ke tengah lukisan) terhalang oleh kebiadaban Vesuvius yang tanpa ampun memuntahkan lava.

Tanaman mulai bertumbuhan di sela-sela retakan lava yang mengering dan mengeras, sesudah dimuntahkan dari gunung Kilauea, Hawaii. dalam letusan 15 Mei lalu. Hak atas foto Mario Tama/Getty Images
Image caption Tanaman mulai bertumbuhan di sela-sela retakan lava yang mengering dan mengeras, sesudah dimuntahkan dari gunung Kilauea, Hawaii. dalam letusan 15 Mei lalu.

Meskipun mata kita mungkin menunggangi gelombang visual yang kejam dari Vesuvius in Eruption secara berbeda dari yang direkam pada foto Kilauea, dua gambar itu mengarahkan pandangan kita ke dalam semburan lava, dan melemparkannya kembali keluar, gejolak yang mendesis di pusat masing-masing.

Kedua gambar secara bersamaan mendorong dan mengusir pandangan kita, memperbaiki kita dalam ketidakberdayaan.

Kedua gambar membuka celah celah dalam imajinasi kita yang membiarkan lava meresap masuk dan meninggalkan kita sedikit pilihan selain percaya pada gunung berapi.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini,The lava river in quiet neighborhood di BBC Culture.

Topik terkait

Berita terkait