Adakah harapan bagi gajah 'bergading super' yang langka?

Gordon Buchanan dengan bayi gajah, David Sheldrick Wildlife Trust, Kenya. Hak atas foto Graham MacFarlane
Image caption Gordon Buchanan dengan bayi gajah, David Sheldrick Wildlife Trust, Kenya.

Gajah Afrika (Loxodonta africana) -dengan gading yang sangat panjang sampai bisa menyentuh tanah- dulunya bisa dengan mudah terlihat di sekitar Afrika Timur, Tengah dan Selatan, namun kini hanya kurang dari 30 yang tersisa.

Dikenal sebagai gajah bergading super, hewan besar ini menarik perhatian para pemburu gading.

Sekitar sepertiganya ditemukan di Taman Nasional Tsavo di Kenya, dan lainnya tersebar di seluruh dataran Afrika. Di Tsavo, sepuluh gajah berada di bawah pengawalan Richard Moller, CEO Tsavo Trust, yang mendapat tugas sulit untuk menjaga keamanan hewan-hewan berharga ini.

Jumlah ini terasa sangat kecil, namun Moller tetap positif. Dia sudah mengidentifikasi ada 16 gajah lain di dalam kawasan Tsavo yang ditargetkan akan memiliki gading yang panjangnya memecahkan rekor dalam satu dekade ke depan.

"Jika mereka diizinkan hidup lima sampai sepuluh tahun lagi, gajah-gajah jantan ini akan menjadi gajah bergading raksasa di masa depan, dan mereka menjadi bukti akan kekayaan kolam genetik yang ada di Tsavo," kata Moller.

"Gajah bergading super memiliki sepasang gading yang berat masing-masingnya setara dengan satu manusia dewasa," kata Ian Redmond OBE, seorang ahli konservasi soal gajah dan kera.

Hak atas foto Richard Moller
Image caption Hanya ada sekitar 21 gajah jantan dengan gading ukuran raksasa yang tersisa di dunia.

"Gajah yang memiliki gading berukuran dua orang dewasa di kepalanya harus memiliki tengkorak kepala dan jaringan otot untuk bisa menahan itu, sehingga pada akhirnya gajah gading super adalah 'raksasa' dalam banyak aspek."

Gajah-gajah jantan ini akan mencapai masa kematangan sempurna antara usia 40 dan 50 tahun. Saat di mana mereka mencapai puncak kesuburan tertinggi ini bertepatan dengan masa saat tingkat pertumbuhan gading mereka paling optimal.

"Gajah akan menumbuhkan gading jauh lebih banyak pada sepuluh tahun terakhir hidupnya, daripada pada sepuluh atau dua puluh tahun pertama usianya," kata Redmond.

Gading mereka yang berat menjadi kunci kesuksesan mereka dalam berkembangbiak, karena gading akan digunakan untuk menakut-nakuti dan mengintimidasi gajah jantan lain yang dengan gading yang kalah panjang, dan ukuran adalah hal yang penting bagi gajah betina.

Namun karena kerakusan manusia akan gading, gading yang panjang itu seolah menjadi penanda kematian mereka.

Redmond juga meyakini bahwa hubungan yang awalnya sudah sulit antara manusia dan gajah kini menjadi semakin rumit dan bahkan sampai ke taraf yang berbahaya. Karena permukiman manusia terus masuk semakin dalam ke habitat gajah, maka kemungkinan terjadinya bentrok antara gajah dan manusia juga meningkat, dan sering berakhir buruk.

Hak atas foto Richard Moller
Image caption Bangkai Satao, salah satu gajah dengan gading terbesar di Kenya, yang dibunuh oleh pemburu dengan panah beracun pada 2014.

"Jika Anda seorang petani yang menanam tanaman yang disukai gajah, Anda bisa kehilangan panen. Artinya Anda dan keluarga Anda tak mendapat pemasukan selama berbulan-bulan.

"Lebih lagi, dalam pikiran orang, mereka membayangkan, 'Bukan hanya saya lebih memilih untuk selamat dari gajah ini, atau agar tanaman saya tidak rusak, tapi ada orang menawarkan saya US$500 (sekitar Rp6 juta lebih) jika saya bisa mendapatkan gading gajah'."

Jelas, situasi ini kritis, tapi mungkin masih ada kabar baik.

Akhir dari sebuah era

Awal bulan ini, Cina memaparkan rencana serta tenggat waktu penutupan pabrik gading mereka; dan hal ini, diyakini Redmond, bisa mengubah segalanya.

"Ini kabar luar biasa, karena sebagian besar gading gajah dibawa ke sana," katanya. "Dulu, tak ada penekanan dalam penerapan aturan ini, tapi saya rasa kini sudah berubah, pertama karena tekanan internasional, tapi juga karena faktanya, populasi gajah turun drastis dengan skala sangat cepat, dan jika situasinya tak berubah, populasi gajah akan menjadi nol."

Tahun lalu, Cina, pasar terbesar dunia untuk gading legal dan ilegal, mengatakan mereka akan menutup penjualan komersil di dalam negeri, tapi tidak menetapkan tenggat waktu. Kini mereka sudah mengumumkan pada akhir 2016, Cina menetapkan jadwal untuk memulai tahapan menghentikan perdagangan komersil gading.

Dan ada banyak hal positif lainnya, dengan pengumuman terbaru mengenai tiga langkah untuk mulai mengurangi perdagangan gading di Hong Kong pada akhir 2021.

"Tentu butuh waktu untuk meyakinkan para pengoleksi gading untuk mengubah diri, tapi tentu hal ini akan terbantu jika ada penerapan yang tegas. Dan saat Cina menerapkan hukum, mereka tegas," kata Redmond.

Sayangnya gajah dengan gading raksasa ini tak punya banyak waktu, namun beberapa pengumuman ini memberi harapan untuk meningkatkan jumlah mamalia yang agung dan cerdas ini dengan perlindugan yang terus diberikan.

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul Is there hope for the last od the 'big tusker' elephants? atau tulisan lain dalam BBC Earth.

Topik terkait